Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 85: DISKUSI KELUARGA


__ADS_3

"Dah, Gue mau ke club. Loe, ikut gak?" tanya Miss bodo amat seraya mendorong kursi ke belakang, Hazel menggelengkan kepalanya.


Saran nya harus aku lakukan secepat mungkin. Jangan sampai, aku menjadi nomor dua setelah istri siri suamiku datang.~batin Hazel, lalu menyeruput lemot tea yang menyegarkan.


Malam itu, Hazel menemukan cara baru untuk mempertahankan rumah tangga nya yang terkoyak. Sementara di kediaman Putra, lantunan puji syukur kepada Yang Maha Kuasa diiringi pelukan hangat dari setiap anggota keluarga. Berita kehamilan Ara langsung menjadi pemersatu setiap anggota keluarga. Termasuk Bunga, gadis itu tersenyum sumringah karena sekarang memiliki teman baru di rumah sang suami.


Mama Bella langsung berpikir untuk membuat acara syukuran, tapi Samuel menahannya. Bukan karena tidak mengizinkan. Akan tetapi, saat ini kondisi Ara tidak boleh kelelahan. Untung saja, Papa Angkasa ikut menahan sang istri. Setidaknya untuk beberapa bulan hingga waktu syukuran empat bulanan datang. Kebahagiaan keluarga Putra tidak bisa disembunyikan.


"Ma, boleh Ara tinggal dirumah ini aja?" tanya Bunda dengan harapan tinggi.


Mama Bella melirik kearah putranya, apapun yang diputuskan Bryant akan ia dukung. Sementara yang ditatap hanya membalas dengan kedipan mata, dan itu artinya menyetujui jika Ara akan tinggal bersama-sama dengan keluarga inti. Hal itu menjadi angin segar. Kini, ia akan merasakan bagaimana menjadi seorang ibu mertua.


"Bry, Aku gak lihat Om Al. Kemana dia?" tanya Muel melihat kesana kemari seperti orang kebingungan.


Bryant tersenyum tipis, "Om Al pamit buat keluar kota dan Papa kembali pulang. Katanya, dia tidak mau memisahkan seorang suami dari istrinya. Nanti bisa kena tulah, gitu."


Bunga mendengar nama suaminya disebut, tapi masih berpura-pura tidak peduli. Gadis itu, terlalu hening dan ini disadari oleh Bryant, "Bunga, tolong ajak Ara ke kamar."

__ADS_1


"Pergilah, gadis-gadis cantiknya, Mama. Khusus malam ini, kalian bisa tidur bersama, iya kan Bry?" Mama Bella memberikan kode mata putranya agar mengiyakan apa yang ia katakan, sang putra menganggukkan kepala dan membiarkan Bunga membawa Ara berjalan meninggalkan ruang keluarga.


Beberapa menit hanya ada keheningan karena mereka tengah memastikan Bunda dan Ara masuk ke dalam kamar atas. Disaat menunggu, seorang pelayan datang membawa nampan minuman yang memang sudah dipesan untuk menemani obrolan para anggota tertua malam ini. Semua yang akan terjadi harus dibicarakan dari hati ke hati.


Mama Bella duduk bersebelahan dengan Papa Angkasa, Bryant dan Samuel berseberangan. Kini hanya empat anggota keluarga karena Om Alkan tidak bisa datang, dan ponselnya tidak bisa dihubungi. Semua orang berwajah serius dan tegang tanpa ada garis senyuman. Sudah pasti, mode dingin diaktifkan.


Bryant menghela nafas untuk menetralkan ketegangan di dalam dirinya, lalu meraih cangkir kopi. Suara seruputan kopi terdengar begitu keras mengusir keheningan, "Aku sudah mengambil keputusan, tapi sebelum itu...,"


Rasanya sungguh berat hati. Andai bisa berteriak dan melepaskan beban. Sudah pasti, ia akan melakukannya tanpa harus takut diceramahi atau mendapatkan caci maki. Semua kata yang ada di dalam kepala tidak mau diajak kerjasama. Buyar sudah rangkaian kebenaran yang ingin ia sampaikan pada keluarganya.


Jangan berpikir, Mama Bella dan anggota lainnya tidak pernah mencoba untuk mengenal sosok Hazel. Semua pernah dilakukan, tapi dalam satu pertemuan saja. Wanita berprofesi model itu, sudah bisa menghancurkan kepercayaan keluarga Putra. Bagaimana tidak, sebagai seorang menantu harusnya berusaha merebut hati keluarga sang suami, tapi tidak dengan Hazel.


Hazel dengan lantang mengatakan Bryant sangat mencintainya, bahkan kemungkinan cinta mati. Sebagai wujud dari pengakuannya, wanita itu meminta tempat tinggal yang hanya dihuni oleh pasutri tanpa keluarga Putra. Jelas, hal itu membuat seluruh anggota murka. Hanya satu yang tetap bersikap tenang, yaitu Alkan. Pria itu memilih untuk bertindak dalam diam.


"Bryant, Mama tidak akan memaksamu untuk melakukan semua ini secara terburu-buru. Mama hanya berharap, ingatlah kini kamu memiliki Ara yang tengah hamil dan dia membutuhkan perhatian serta perlindungan ekstra."


"Papa, setuju dengan Mamamu. Sebagai seorang pria, kita harus bersikap tegas. Papa tidak akan memintamu untuk segera menceraikan Hazel, tapi ingat satu hal ini. Jika kamu melukai Ara, maka Papa sendiri yang akan menjauhkan istrimu darimu."

__ADS_1


Samuel tertegun, selama ia menjadi bagian keluarga Putra. Baru kali ini, Papa Angkasa tidak panjang kali lebar dan langsung bicara terjang pada inti masalah. Suara yang tegas dan lantang, membuat ia sadar. Ara telah mendapatkan restu dan hati semua orang. Wanita itu, tidak akan sendirian lagi. Ada rasa lega, jika ia harus kembali bekerja diluar kota nanti.


"Ma, Pa, Aku sudah memutuskan untuk berpisah dengan Hazel, tapi berikan aku waktu untuk mengumpulkan bukti yang bisa mempermudah proses perceraian nanti...,"


"Satu minggu, hanya itu waktumu."


Bryant melirik Samuel, agar sahabatnya itu bisa membantu. Sayang sekali, pria yang duduk di seberang justru hanya diam menyimak. Tidak akan ada yang membantunya, tapi apa bisa dalam waktu satu minggu mengumpulkan semua bukti? Sungguh menjadi dilema besar. Apalagi, saat ini ada rasa enggan untuk bertemu Hazel.


Tingtong!


Tingtong!


Tingtong!


Suara bel rumah terdengar, tapi bel itu bukan dari pintu utama. Melainkan saluran dari pintu gerbang depan. Sontak saja, Papa Angkasa bangun, lalu berjalan menuju ke jendela. Tirai yang tertutup rapat, sedikit ia tarik. Di depan gerbang terlihat seorang wanita tengah berdiri di depan mobil yang menyala. Wanita yang tidak diharapkan kejadiannya.


"Kalian, kembalilah ke kamar! Aku akan temui tamu ku, dan Muel tolong pastikan Bryant mengurus Ara."

__ADS_1


__ADS_2