
"Abang tengah menunggu, Tuan Bryant di sebuah rumah sakit. Harusnya, Aku diam dan menyimpan rahasia ini, tapi aku tidak bisa berdiam diri di dalam kamar, sedangkan di luar sana. Dua bersaudara tengah mengalami musibah. Maafin Ocy karena baru bilang sekarang."
Tak satupun orang diruangan itu, tidak terkejut. Berita yang mendadak, dan satu kenyataan akan kondisi putranya, membuat Mama Bella memegangi dadanya. "Paaa ....,"
"Mama!" Panggil Bunga berlari, untungnya Almaira tidak terkejut dengan seruannya dan masih terlelap di troli bayi.
Papa Angkasa dan Ocy juga ikut mendekati Mama Bella. Semua panik, tetapi Nara berusaha untuk menenangkan semua orang. Dokter itu memeriksa keadaan nyonya besar, "Sebaiknya kita bawa kerumah sakit. Disana peralatan lengkap. Non Bunga dan Ocy tetaplah di hotel. Acara akan berlangsung dua jam lagi, jadi ....,"
"Pa, bawa Mama ke rumah sakit. Aku akan handle disini, jangan khawatir. Papa dan Mama ku masih stay di hotel. Ocy, aku percaya kamu wanita yang kuat. Ayo kita hadapi semua ini bersama." Tegas Bunga, membuat Ocy mengangguk, sedangkan yang lain bergegas untuk meninggalkan kamar itu.
Kondisi Mama Bella yang shock sudah pasti akan mempengaruhi kesehatannya. Kepergian semua orang, membuat Ocy terduduk diam di lantai. Ada yang masih mengusik hatinya. Ia memang mengatakan keadaan dua bersaudara, tetapi ia masih menyimpan sebuah rahasia tentang Ara.
Bunga yang tak tega, membimbing sang bodyguard agar mau duduk di sofa. Sayangnya tangan itu ditepis begitu saja. "Ocy, jangan seperti ini. Ayo bangun dan ganti pakaianmu."
"Tidak. Aku ...," Ocy menghela nafas, lalu mendongak menatap langit kamar. Hatinya sungguh tersiksa hingga air yang terbendung kembali meloloskan diri. "Hiks... Hiks... Hiks..."
__ADS_1
"Hey, kenapa menangis? Tenanglah." Bunga merengkuh tubuh Ocy menelusup ke dalam pelukannya. Ia mencoba memberikan kekuatan dengan cara sederhana, "Aku tahu, ini tidak mudah. Ocy, jika jodohmu adalah Ka Sam. Percayalah, kalian akan bersatu. Mungkin tidak hati, InsyaAllah esok menjadi harimu."
Usapan lembut terus ia berikan. Ntah berapa lama, hingga suara isakan tangis Ocy mulai mereda. Sungguh sebagai seorang wanita, rasa yang menggebu-gebu di dalam hati di saat kehidupan berkhianat. Perasaan itu, pernah dirasakannya. Sakit, tapi tidak berdarah.
Bunga hanya berusaha memposisikan dirinya. Jika menjadi Ocy, mungkin dia akan pingsan kembali seperti dulu. Di saat pernikahannya hampir gagal karena sikap Om Al yang sungguh mengunjang seluruh emosinya. Namun, Ocy wanita yang kuat karena masih sanggup berbicara terus terang.
Ocy melepaskan diri. Setelah merasa lebih baik dan air matanya tak ingin lagi membasahi pipi. Wanita itu menghirup udara sedalam-dalamnya, lalu menghembuskan perlahan. Berulang kali dilakukan hingga merasa kembali tenang dengan deru nafas mulai normal.
"Terima kasih. Aku tidak tahu akan seperti apa, jika kamu tidak bersamamu." ucap Ocy dengan tulus, membuat Bunga mengangguk menyunggingkan senyuman manisnya.
Nakal? Apa bedanya Bunga dan Ocy. Keduanya ada saja, jika mode jail sudah keluar. Ide kilat dari Bunga hanya ditanggapi senyuman kecil yang tersungging di bibir Ocy, sedangkan di rumah sakit. Sam harus menghadapi keras kepala dari seorang Bryant.
"Stop!"
Seruan Samuel menggema di ruangan rawat itu. Tangannya mengusap wajah dengan kasar. Lihat saja, para suster sudah kewalahan untuk berulang kali memasang selang infus di tangan sahabatnya yang kekeh ingin keluar dari rumah sakit dan mencari Ara. Tidak ada yang salah dengan keinginan suami yang ingin menemukan istrinya.
__ADS_1
Akan tetapi, pria satu itu, tidak mau paham. Jika keadaannya saja dalam kondisi down. Dokter menjelaskan, jika Bryant membutuhkan waktu untuk istirahat agar jantungnya bisa beristirahat. Namun, setelah sadar. Pria itu justru membuat ulah dengan mencabut infus berulang kali.
Jika Bryant bisa berdiri, mungkin masih bisa ia pikirkan bagaimana cara membujuk dokter, tapi tubuh pria itu masih dipengaruhi efek obat yang diberikan sang dokter. Sungguh, saat ini justru anak kecil pun masih bisa diberikan pengertian. Sam berjalan menghampiri sahabatnya itu.
"Bry, stop keras kepala. Kita berdua tahu. Jika Ara saat ini hilang, setelah mengalami kecelakaan. Aku tidak menakuti mu, tapi apa kamu ingin menambah masalah? Tidak 'kan. Please, tenang. Kita pikirkan semuanya dengan kepala dingin." Sam memberikan isyarat pada sang dokter untuk memberikan obat, sedangkan ia mencoba untuk mengalihkan perhatian Bryant.
"Sam, bagaimana aku berdiam diri? Ara hilang dan semua ini salahku." Ujar Bryant mencoba mengendalikan dirinya sendiri.
Jujur saja, rasanya seperti hidup, tapi tidak bisa bernafas. Seketika suara tawa, kejahilan, dan juga setiap kenangan diantara dia dan Ara memenuhi pelupuk matanya. Sangat menyiksa batin hingga rasa sesak di dada semakin begitu menekan pikirannya. Bingung harus melakukan apa. Ketika keinginan tidak selaras dengan kenyataan.
"Ara bukan hanya istrimu, tapi juga adikku. Jika kamu keras kepala. Bagaimana caraku menghandle situasi saat ini, katakan!" Sam menggenggam tangan Bryant, tatapan mata saling memandang. "Ara membutuhkan kita, tapi saat ini, kamu membutuhkan menjaga psikismu. Jangan sampai, disaat menemukan adikku. Justru dia yang merawatmu."
"Kamu benar, maaf ...,"
"Apa aku tidak salah dengar?" Seseorang masuk ke dalam kamar, setelah semua apa yang dia dengar. Sungguh hatinya tercubit, bagaimana bisa situasi menjadi serumit itu. "Apa maafmu akan mengembalikan semua kekacauan menjadi baik dan benar?"
__ADS_1