Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 136: YASHINTA dipanggil SHI


__ADS_3

"Hai, Tampan. Kamu, sakit apa?"


Denis merasa benar-benar s!al hari ini. Dia tak berharap akan bertemu dengan gadis dari kampusnya yang selalu membuat kesal dengan sifat manja dan juga cerewet. Apalagi, gadis itu terkenal barbar dan tidak ada mahasiswa yang bisa melawan. Sungguh rasanya ingin langsung lari.


Namun, percuma saja. Toh, gadis itu sudah melihat dan menyapa, "Hi too, gak sakit."


Gadis itu menarik kursi di sebelah Denis, lalu duduk tanpa permisi, kemudian mengamati wajah Denis yang memang masih menggunakan sapu tangan sebagai penutup wajah, "Kalau kamu mau sembunyi. Kenapa pakai seperti itu, harusnya tuh, pakai topeng sekalian. Jadi, lebih bagus kan?"


Denis hanya melirik ke arah gadis itu, tapi tidak berniat ingin menjawab apapun. Lagi pula, jawaban yang akan dia berikan. Sudah pasti akan selalu mendapatkan jawaban balik. Jadi, lebih baik diam sembari menunggu pesanan. Tentu sekarang hanya berharap teman-teman yang lain, segera datang dan menyelamatkan dirinya dari gadis yang memiliki nama asli Yashinta atau biasa dipanggil Shi.


Yasinta tahu, selama ini, Denis memang sangat tidak menyukai dirinya. Akan tetapi, semua itu ketika di kampus, sedangkan saat ini. Mereka di luar kampus, lalu apa masih ada yang salah dengan dirinya. Entah bagaimana akan memulai perbincangan di antara mereka. Terlebih, pemuda itu memilih untuk memainkan ponsel.


Denis tidak menyadari. Yashinta menunjukkan wajah sendu yang berusaha untuk ditutupi dengan senyuman nakal. Keheningan itu, membuat ketuanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Meskipun Denis sedang memainkan ponsel. Ternyata, pemuda itu tak melakukan apapun. Selain hanya menscroll layar.


Setelah beberapa saat duduk bersama. Tiba-tiba, Yashinta bangun dari tempat duduk. Kemudian berjalan menghampiri seseorang yang memakai pakaian seragam dokter. Percakapan di antara gadis itu dan si dokter cukup terdengar jelas di telinga Denis. Sontak saja, pemuda itu ikut berdiri.


Kemudian berjalan menghampiri Yashinta, "Dok, segera lakukan operasi yang memang harus dilakukan oleh pasien. Saya akan menjamin seluruh biaya karena gadis ini adalah teman saya."


"Denis ini bukan tanggung jawabmu. Aku masih sanggup untuk membiayai pengobatan Ayah. Dokter, tolong beri saya waktu 24 jam. Saya akan kembali dan membawa uang untuk melakukan operasi ayahku," Shi menolak pertolongan Denis, lalu tanpa menunggu lama. Dia melangkah pergi begitu saja dari kantin rumah sakit.

__ADS_1


Si dokter ingin pergi, tapi tangannya ditahan oleh Denis, "Dok, Saya tidak masalah berapapun biaya operasi dari ayah teman saya. Operasi harus dilakukan sekarang juga. Seperti yang Dokter katakan, jika menunda operasi. Maka, kemungkinan keselamatan pasien hanya lima persen. Jangan bingung dan cukup berikan formulir administrasi dari biaya operasi itu dan saya akan menjadi penanggung jawabnya."


"Bukan dia, Dok. Aku yang akan bertanggung jawab," sambung seorang pria dari arah belakang, membuat si dokter dan Denis menoleh serempak "Kakak pikir kamu kenapa. Ternyata kamu melakukan sesuatu di luar dugaan. Kembalilah ke mama dan bawa pesanan. Aku tidak mau, mama kita kelaparan dan untuk urusan temanmu. Kakak yang handle."


"Thanks, Kak. Aku akan menemui Mama. Lihat pesanan juga sudah siap," ujar Denis seraya menunjuk ke arah kasir, Darren mengangguk. Lalu, melambaikan tangan agar si dokter ikut keluar dari kantin bersamanya.


Kepergian sang dokter bersama kakaknya. Jujur saja, meringankan hatinya, tapi sekarang dia memikirkan satu hal. Bagaimana cara mengatakan pada Yashinta dan ke mana anak itu pergi? Apalagi, wajah gadis itu. Terlihat cukup sedih setelah mendengar berita tentang kelanjutan pengobatan sang ayah dan harus segera melakukan operasi.


Disisi lain, satu lagi menjadi pertanyaan. Bagaimana Yashita bisa sekolah di fakultasnya? Bukan masalah apa-apa, tapi fakultas tempat dia belajar adalah salah kampus ternama dengan biaya persemester cukup menguras isi dompet. Apapun itu, sudahlah. Kini lebih baik kembali untuk menemui mamanya. Pemuda itu, berjalan meninggalkan kantin.


Sementara di taman rumah sakit. Seorang gadis menatap dompet di tangannya dengan tatapan nanar. Bagaimana caranya menghasilkan banyak uang dalam satu kali dua puluh empat jam? Selama ini, dia hanya tau meminta pada orang tua. Uang jajan yang banyak dengan fasilitas lengkap, hingga sebulan yang lalu. Kedua orang tuanya mengalami kecelakaan.


Kondisi Bunda memang sudah bisa rawat jalan, tapi Ayahnya membutuhkan perawatan yang jauh lebih intensitas. Dokter yang mengatakan, jika ada pendarahan di otak dan harus melakukan operasi. Namun, biaya yang dibutuhkan tidaklah sedikit. Tabungan dari uang jajan pun, hanya cukup untuk biaya menginap selama seminggu. Tidak mungkin untuk melakukan pengadilan sertifikat rumah atau mobil yang keluarganya miliki.


"Astagfirullah, kenapa aku menyerah? Dirumah masih ada kalung pemberian ayah. Aku jual bersama motorku. Semoga biaya cukup untuk operasi ayah."


Yashinta terburu-buru meninggalkan tempat duduknya, dan tidak sengaja menjatuhkan selembar kertas yang tertinggal di bangku taman. Gadis itu, siap melakukan apapun demi kesehatan kedua orang tuanya. Padahal, sudah dua hari. Perutnya belum memakan sesuap nasi pun. Wajah pucat dengan tubuh yang lelah. Tidak menjadi penghalang seorang anak untuk melakukan baktinya.


Ntah kebetulan atau apa. Denis yang berniat untuk kembali menemui mamanya. Justru berbelok ke taman. Di lorong menuju ruangan sang papa. Para wartawan masih berdiam diri menunggu, sedangkan teman-temannya masih tak kunjung datang. Mau, tak mau. Denis harus menyelamatkan diri dan hanya taman tempat yang aman.

__ADS_1


"Huft, hampir saja. Mereka itu kurang kerjaan atau apa? Tidak mikir, ya. Keluarga lagi cemas karena keadaan yang menegangkan. Eh, masih aja mau ngajak ngobrol tanpa arah tujuan yang jelas. Dikira keluarga ku hiburan, kali," gerutu Denis seraya mengatur nafas agar kembali normal.


Pemuda itu, tak bisa berkutik. Andai menerjang kerumunan wartawan. Pasti banyak pertanyaan yang akan menyulitkan. Sekarang, hanya pesan singkat yang bisa memberikan ketenangan. Tentu saja, memberitahu posisinya yang terjebak pada Nyonya Wiratama. Sekaligus meminta maaf karena membuat mamanya sendiri kelaparan.


Sepuluh menit kemudian. Denis melihat ketiga temannya. Pemuda itu melambaikan tangan, membuat para teman berjalan menghampirinya, "Kalian dari Afrika? Lama bener."


"Sabar, Bro. Aku punya kejutan, mau tahu aja, atau mau tahu banget, nih,"


Denis memutar bola matanya malas, teman yang gesrek. Udah tahu, situasi seperti gunung meletus. Eh masih aja sempat bercanda. Sontak saja, dia menjitak kening jenong yang tertutup rambut panjang, "Loe, ini. Nyokap di dalem udah kelaparan dan disini, malah ajak bercanda. Pake godain, gue segale. Bantuin usir wartawan dulu. Sono!"


"Hehehe, sorry. Ok, tunggu lima menit,"


Sekali lagi, Denis ditinggal sendirian. Akan tetapi, ketika melihat plastik makanan yang ada di sebelahnya. Sebuah kertas terlihat menyembul karena rasa penasaran. Diambilnya kertas itu, lalu membalikkan secara perlahan. Tatapan mata menyipit. Apa dia memiliki gangguan penglihatan? Kertas itu adalah sketsa wajah, tapi wajah itu sangat familiar.


"Siapa yang membuat sketsa sebagus ini? Aku harus menemukan orangnya."



...----------------...

__ADS_1


Maaf ya, telat up, hari ini ama besok berubah jadwal UPDATE. Tetep crazy up, tapi beda jam tayang aja.


...----------------...


__ADS_2