Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 44: MUSHOLA


__ADS_3

"Boleh, kita kumpul diruang makan setelah sholat. Selamat malam." Jawab Ocy.


"Malam juga," balas Kinara ikut pergi meninggalkan tempatnya untuk kembali ke kamar tamu yang ada di lantai bawah.


Sayup-sayup terdengar suara adzan. Seorang wanita yang baru saja membersihkan diri menyambar syal di atas ranjang, lalu berjalan mengikuti suara merdu yang menyejukkan hatinya. Begitu membuka pintu kamar, ia mendengar semakin jelas suara adzan itu berasal dari lantai bawah.


"Merdu sekali suaranya. Apa mas Bryant tidak jadi pergi?" Ara bergumam dengan langkah kaki masih terus berjalan hingga menuruni anak tangga satu persatu.


"Non, mau ke mushola?" tanya seseorang dari arah samping tangga, membuat Ara mengangguk dengan senyuman manis menghiasi wajah cantiknya. "Ayo, kita ke mushola bersama!"


"Boleh panggil nama saja? Aku tidak nyaman di panggil nona." Ucap Ara begitu sampai di ujung tangga menyambut uluran tangan sang bodyguard.


Ocy terkekeh pelan. ''Kamu ini aneh, para gadis biasanya suka dipanggil nona. Sementara kamu minta dipanggil nama, baiklah. Aku panggil Ara, tapi saat ada pak boss. Aku panggil nona, setuju?"


"Setuju, aku panggil kamu apa? Maaf, aku gak inget." Jawab Ara polos.


"Ocy, atau panggil aja kesayangan bang tampan. Hehehe." Balas Ocy tanpa terasa keduanya sampai di mushola yang sengaja di bangun disebelah kolam renang.


"Ekhem! Cepatlah ambil wudhu. Lanjut nanti ngobrolnya." Ucap Muel mengingatkan agar kedua wanita yang berdiri di depan pintu mushola segera bersiap untuk sholat.

__ADS_1


Ocy menganggukkan kepala dengan sekilas senyuman yang terkembang sempurna. Jangan lupakan ya penampilan alim babang tampannya. MasyaAllah beneran pengen ngajak nikah langsung. Yah untung saja masih inget matahari belum nongol. Kalau gak inget, bisa ketuk rumah pak penghulu langsung.


Sholat berjamaah akhirnya dimulai dengan Muel sebagai imamnya. Pria yang berprofesi sebagai seorang dokter itu memiliki sisi alim. Meskipun ketika mode santai terlihat seperti pria yang sesuka hati. Tetap saja ia adalah pria yang tahu aturan agama. Lima belas menit akhirnya sholat berjamaah diakhiri dengan doa keselamatan dan memohon perlindungan untuk semua orang yang mereka sayang.


Ara yang masih betah memakai mukena sejenak menangkupkan kedua tangan dengan doa terbaik untuk suami dan keluarga barunya, sedangkan Ocy diam-diam mencuri pandang pada pria yang kini menjadi kekasih hatinya. Hingga Muel meletakkan tasbih kembali ke tempatnya, lalu menggeser posisi duduknya menghadap ke belakang. Dimana kedua wanita yang menjadi makmum masih duduk di posisi masing-masing.


"Bisa kita bicara serius sebentar?" tanya pria itu, membuat Ara menyelesaikan doanya dengan meraup tangkupan tangan di wajah. "Ocy, bisa panggilkan dokter Kinara?"


"Okay, jaga mata ya Bang!" Jawab Ocy, lalu melepaskan mukena sebelum pergi meninggalkan mushola untuk melakukan permintaan babang tampannya.


"Heem, jangan lama-lama." Balas Muel, membuat Ocy mengangguk paham.


Keluarnya Ocy dari mushola. Memberikan kesempatan untuk Muel berbicara empat mata dengan istri Bryant. Tanpa memandang, pria itu melepaskan peci dengan menarik nafas dalam agar bisa tenang sebelum memulai perbincangan.


"Apapun yang aku tanyakan cukup jawab jujur. Aku tidak ingin ada salah paham. Apa kamu paham?" Ucap Muel memulai perbincangan.


Ara mengangguk menunggu kelanjutan ucapan pria itu agar mengerti arah pembicaraan kali ini.


"Apa kamu tahu siapa suamimu?" tanya Muel.

__ADS_1


"Bryant, bukankah itu namanya?" Jawab Ara polos, membuat Muel hampir tersedak ludahnya sendiri. "Kenapa kamu seperti terkejut?"


"Bryant Angkasa Putra nama lengkap suamimu. Dia seorang pebisnis ternama sekaligus pewaris tahta bisnis keluarganya. Apa kamu tahu statusnya saat ini?" Ucap Muel memberikan penjelasan dan juga pertanyaan.


Ara menggelengkan kepalanya.


"Jadi apa yang kamu tahu tentang Bryant?" tanya Muel.


"Aku menikah karena dia menyelamatkan ku dari dunia gelap. Jika bukan karena dia, aku pasti menjadi wanita malam saat ini. Jangan khawatir, aku ikhlas menjalani pernikahan kami. Setidaknya kehidupan ku bukan menjadi pemuas nafsu pria hidung belang. Siapapun Bryant, aku hanya tahu dia suami ku saat ini." jelas Ara membungkam Muel.


Muel tersenyum kaku. Kisah hidup Ara benar-benar miris, tapi wanita itu masih bisa berdiri dengan ikhlas serta tegar menjalani kehidupan. Hatinya tersentuh untuk melindungi dan menyayangi sebagai seorang saudara. Tanpa terasa tangannya terulur mengusap lelehan air mata yang membasahi pipi istri siri sahabatnya.


"Apapun masalahmu, kini menjadi masalahku. Anggaplah aku kakakmu, dan jangan sungkan soal apapun. Ingat satu hal, apapun yang terjadi di masa depan. Aku akan selalu berusaha melindungi dan memberi kebahagiaan untukmu." Ucap Muel, membuat Ara mendongak dengan mata basah dan sendu.


"Kenapa kamu baik sekali?" tanya Ara terharu dengan sikap Muel yang mengayomi dirinya.


Muel mengusap kepala Ara yang masih tertutup mukena biru langit. "Seorang kakak harus bisa melindungi adiknya. Sekarang jangan pikirkan hal apapun. Selain kesehatan mu dan juga program kehamilan mu."


"Terimakasih, Ka." Ucap Ara tersenyum.

__ADS_1


Tanpa keduanya sadari, dua wanita lain memilih berdiri menunggu percakapan itu berakhir. Hingga ucapan terimakasih Ara, membuat mereka keluar dari balik dinding.


"Assalamu'alaikum."


__ADS_2