Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 191: ENDING


__ADS_3

Teriakan yang menggema, tetapi hanya Hazel seorang yang mendengarnya. Ruangan pintu besi itu kedap suara. Penantian dalam duka, berteman luka. Setelah satu jam berlalu. Akhirnya benda persegi di depannya menyala. Terlihat view laut yang begitu indah memanjakan mata.


"Have fun, Hazel Laurent. Hadiah terakhir atas pengkhianatanmu. Enjoy, baby."


Suara itu adalah suara Alkan. Tubuh Hazel bergetar, ketika ia melihat seluruh persiapan yang begitu mewah bahkan sangat mewah. Taburan bunga mawar merah muda di sepanjang jalan menuju tempat pelaminan. Deretan kursi tertutup kain putih yang berhias bunga anggrek.


Lampu-lampu gantung berbentuk bola bersama bintang yang menyimpan sekuntum bunga merah merona. Sungguh seluruh dekorasi mengingatkan dia akan gemerlap dunia. Iya tak pernah menyangka, jika keluarga Putra akan seroyal itu.


Kenapa bukan dia yang berada di tempat itu? Kenapa wanita lain. Tayangan live itu, memang disiapkan untuknya seorang. Ia akan menikmati seluruh acara bersama luka dengan tatapan mata binar keindahan. Alkan sengaja menyiapkan live streaming, pria itu ingin menunjukkan dunia Lain yang disebut cinta.


Para tamu undangan mulai duduk di kursi yang telah disediakan. Mereka menunggu waktu, hingga janji suci dimulai. Bukan hanya teman bisnis, bahkan beberapa teman dokter yang merupakan klien dan juga partner kerja Samuel ikut datang menikmati acara tersebut.


Sang MC mulai membacakan runtutan rangkaian acara hari ini, yang dimulai dengan membaca basmalah. Lalu menyambut para tamu yang ikut berpartisipasi meramaikan acara Janji Suci. Kemudian menginstruksikan pemain musik untuk menyambut kedatangan mempelai pria.


Detik-detik penantian semua orang berakhir. Bersamaan suara iringan musik yang menyertai kedatangan kedua mempelai pria secara bersamaan. Di sisi kanan ada Bryant, dan di sisi kiri ada Samuel, sedangkan di tengah ada Papa Angkasa yang mendampingi kedua putranya.


Kedua pria itu berjalan dengan tatapan teduh, tetapi memancarkan kegusaran dari sorot mata. Kegugupan itu nampak begitu jelas. Inilah hari yang mereka tunggu. Hari yang akan menyatukan cinta mereka.


"Kalian berdua bisa tenang tidak? Ini hari pernikahan, bukan hari kematian. Kenapa tegang seperti itu?" Papa Angkasa menegur kedua putranya agar tetap dalam keadaan rileks, namun itu tak membuat lebih baik, justru semakin menambah kecemasan.

__ADS_1


Rasanya ini jauh berbeda. Tidak seperti saat dia menikah dengan Hazel. Rasa gugup,.cemas, gelisah bercampur menjadi satu, tetapi ia ingin segera menghalalkan Ara sebagai istrinya. Apakah ini yang dinamakan jodoh?


Selaras dengan perasaan emosi Bryant. Samuel pun merasakan hal sama. Iya merasa seluruh hidupnya akan lengkap dengan kehadiran Ocy. Apapun yang pernah terjadi, sudah tidak berarti. Kini tujuan dalam hidupnya hanyalah membahagiakan wanita yang dia cintai.


Para tamu undangan bersorak, menyambut kedua mempelai yang berjalan menuju arah pelaminan. Mereka memberikan senyuman terbaik untuk mengapresiasikan wujud dari kebahagiaan. Langkah, demi langkah semakin mengikis jarak hingga kedua mempelai berhenti di depan pelaminan.


Papa Angkasa menarik kedua kursi secara bersamaan, membimbing kedua putranya untuk duduk. "Silahkan, dimulai, Pak Penghulu."


"Sebelum itu, siapa yang akan mengucapkan ijab kabul terlebih dahulu?" tanya Pak Penghulu, membuat kedua mempelai pria saling pandang.


Sam mengedipkan mata mempersilahkan Bryant menghalalkan Ara. Sebagai seorang kakak, ia ingin melihat adiknya bahagia bersama pasangan yang bisa melindungi serta mencintai sepenuh dan setulus hati. Kode mata yang dimengerti oleh Pak Penghulu.


Ya Allah. Cobaan apa lagi ini? Kenapa sahabat ku justru memulai kegilaan diluar nalar. Untuk apa menyakiti diri sendiri sejauh ini. Maafin aku, Darren. Apapun yang terjadi, aku tidak akan melepaskan Ara.~ batin Bryant mencoba untuk tetap tenang, walau hatinya semakin merasa bersalah.


Tidak ada yang memahami situasi rumit antara Bryant dan Darren. Kecuali Sam yang ikut menghela nafas mencoba menetralisir degup jantung yang memberontak. Skot jantung di hari pernikahan. Apa hadiah yang lebih baik dari itu?


Darren beranjak dari tempat duduknya. Langkah pasti pria itu mencerminkan ketegaran yang luar biasa. Ia membuktikan, cinta itu melepaskan demi kebahagiaan. Tatapan mata semua orang terpatri pada dua pria yang saling berhadapan. Pak Penghulu memulai doa sebelum dilakukan ijab kabul.


Tangannya terulur dengan tatapan begitu dalam, "Saya nikahkan dan kawinkan. Saudara Bryant Angkasa Putra dengan saudari Ayesha Ramadhani binti ....,"

__ADS_1


Suara tegas mengaum bergema meluluhkan hati yang berdesir. Suara yang selama ini mengucapkan cinta. Hari ini, mengakhiri cintanya dengan ikrar suci yang ia ucapkan. Setiap kata yang bersambut penerimaan, membuat istana di dalam hatinya hancur tanpa sisa.


Tanpa sadar. Setetes cairan garam membasahi kedua pipinya, hingga suara riuh kata "Sah* mengembalikan kesadarannya. "Aku titipkan cinta kasih ku untuk Ayra, padamu. Selama raga ini masih bernyawa. Maka, Aku tidak akan meninggalkan Ayra. Berbahagialah. Do'aku selalu bersama kalian."


Tidak ada kata yang tersisa. Semua adil dalam perang dan cinta. Ijab kabul yang menyayat hati, menenggelamkan rasa bersalah, menyatukan ikatan hati. Lengkap sudah. Acara berlanjut dengan ijab kabul yang dilakukan Samuel, dengan wali mempelai pria yang digantikan oleh Papa Bima.


Semua berlangsung khidmat tanpa ada jeda. Doa yang menjadi akhir janji suci, menghadirkan iringan mempelai wanita. Semua tatapan mata terpaku terpesona. Kedua mempelai bak bidadari turun dari kayangan. Cantik yang membius, jeritan kaum adam yang meronta.


Sayup-sayup terdengar bisikan kekaguman. Kedua mempelai wanita yang berjalan menuju pelaminan. Darren berdiri di depan pelaminan, mengulurkan tangannya. Ara menerima dengan senang hati, begitu juga dengan Ocy. Seperti kesepakatan antara sahabat.


Dialah yang berhak mengantarkan mempelai wanita untuk bertemu pasangan halal mereka. Pria itu terus tersenyum, membuat Denis yang duduk di kursi tamu mulai tidak tenang. Bagaimana bisa, kakaknya setenang itu? Namun, seluruh mata tak merasakan ada keanehan.


Sebagai seorang adik. Tentu dia tahu, cinta kakaknya begitu besar. Tak ingin hati sang kakak semakin hancur. Denis meninggalkan tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri Darren. Dimana pria itu, tiba-tiba melipir meninggalkan acara secara diam-diam.


Langkah kaki yang terseok-seok meninggalkan jejak diatas butiran pasir. Tubuh yang terhuyung bukan karena mabuk, tetapi patah hati. Pemandangan yang menyakitkan untuknya. "Ka!"


Darren menoleh ke belakang menatap adiknya yang berjalan ke arahnya. Pemuda itu jelas mengkhawatirkan kondisinya. "Kenapa disini, De?"


Denis tak menjawab. Direngkuhnya tubuh pria di depannya. Sebuah pelukan erat antara pria yang mungkin akan mengubah segaris luka menjadi lebih baik. Tidak akan pernah terbayangkan. Ketika cinta bertepuk sebelah tangan. Namun, kakaknya hebat.

__ADS_1


Ditengah badai cinta yang membara. Akal sehat dan hati nurani tetap bekerja. "Aku disini bersamamu, Ka. Jangan lupakan itu." Denis melepaskan pelukannya, lalu menepuk pundak kakaknya.


__ADS_2