
Teriakan itu menjadi angin lalu karena para pria kekar masih terus saja melemparkan botol ke tengah ruangan, membuat banyak pengunjung menepi menyingkir dengan rasa penasaran. Ntah kenapa ada yang mengusik pemilik tempat hiburan itu. Mungkin saja, telah terjadi kesalahpahaman.
MamCa berlari dari lantai dua, langkahnya menuruni anak tangga dengan kedua tangan menyingkap gaun malam. Yang terlalu berantakan. Wanita itu tidak peduli dengan rambutnya yang tergerai memanjang, banyak tatapan para pria yang terkejut.
Untuk pertama kalinya. Wanita yang terkenal sudah tua, ternyata masih awet muda, bahkan bisa dikatakan memiliki kecantikan yang lebih memikat dari para anak buahnya. Siapa yang akan menyangka. Jika dibalik make up tebal selama ini, ada wajah cantik awet muda.
"Apa kalian ini, TULI?! Aku bilang HENTIKAN." MamCa berseru tanpa rasa takut sedikitpun. "Apa masalah kalian, hah. Aku tidak membuat kekacauan dan kalian merusak rumahku. C!h."
Prook!
Prook!
Prook!
Suara tepuk tangan terdengar begitu keras mengalihkan perhatian semua orang. Para pria kekar memberikan jalan untuk pemimpin mereka agar bisa menemui MamCa yang kini sudah terpancing untuk keluar. Tatapan mata keduanya saling beradu. Jelas saja ada rasa benci dari sorot mata wanita itu, pada pria yang merusak bisnis kecilnya.
"Sttt! Turunkan jarimu. Aku bukan musuh, tapi bisa menjadi musuh mu. Semua tergantung padamu. Maura putra Adiyasa. Bagaimana dengan kejutanku? Ku harap kamu suka." Senyuman smirk tersinggung dibibir Zack. Pria yang kini menatap wanita tanpa make up terkejut hingga kedua matanya membulat sempurna.
Maura menurunkan tangannya. Meski banyak pelanggan yang tidak mengenal siapa dia. Tetap saja, nama asli yang selalu menjadi bagian hidupnya itu seperti kutukan. Sungguh, ingin rasanya mengganti nama itu, tetapi rasa sakit hati yang selalu menghadirkan sayatan baru. Selalu menghentikan niat hatinya.
Zack tahu, jika MamCa memiliki kehidupan masa lalu yang tidak bisa dibayangkan oleh wanita manapun. Apapun itu, dia harus melakukan tugasnya. Ini adalah kesempatan terakhir yang diberikan Al untuk kembali mendapatkan kepercayaan. Setelah tindakan yang dia lakukan setahun lalu.
__ADS_1
"Bubar!" seru MamCa, membuat para pelanggan, termasuk anak buah bergegas membubarkan diri.
Siapapun tahu, jika rumah bordil menjadi kekuasaan MamCa. Maka, tidak boleh ada yang mengabaikan perintah wanita itu, bahkan termasuk duo K harus ikut membubarkan diri. Kini yang tersisa hanyalah Zack dan Maura. Keduanya memilih untuk duduk berhadapan tanpa ada meja sebagai penghalang.
Sunyi, meski ruangan itu bercampur aroma alkohol dan sisa asap rokok. Nyatanya tak mengusik ketenangan keduanya. Maura masih menatap intens pria di depannya yang seperti tidak memiliki rasa takut sedikitpun.
Sementara Zack memilih untuk mengambil ponsel dari sakunya, lalu menyodorkan ke Maura. "Apa kamu kenal dia? Jangan berbohong. Saat ini, cuma puluhan botol wine yang hancur. Bisa bayangkan, bagaimana jika rumah ini rata dengan tanah?"
"Apa kamu pikir, Aku takut?" tanya balik Maura menantang Zack, meski tetap menerima ponsel untuk melihat siapa yang menjadi sebab kekacauan di dalam hidupnya saat ini. Ketika wajah manis Ara yang terpampang di layar ponsel itu, sejenak dia berpikir. "Apa untungnya, jika Aku berkata jujur?"
Zack meregangkan otot lehernya, sedangkan tatapan mata menelusuri setiap sudut dari rumah bordil seraya memperhitungkan langkah yang bisa diambilnya. Beberapa detik hanya terdengar suara gemeretak tulang yang bergeser.
Zack menatap Maura, lalu merebut ponselnya kembali, membuat wanita itu tersentak karena kenyataan hidupnya diketahui orang lain. Sementara Zack sendiri merasa tidak bersalah dengan semua ucapan yang dia lontarkan. Semua itu, memang menjadi kehidupan milik Maura yang menyamar menjadi MamCa.
"Jangan ikut campur dengan urusanku. Wanita yang ada di foto itu adalah istri dari Akbar Wijaya. Pria yang selalu menikmati wanita penghibur di rumah bordil. Awalnya semua baik, hingga kecanduan akan alkohol dan juga hasrat yang selalu over. Akbar berhutang padaku."
"Sebulan setelah hutang menumpuk. Pria itu datang ke rumah ini dan menawarkan istrinya sebagai penebus hutang. Sebenarnya bukan judi, tapi hutang biaya menyewa wanita malam dan juga wine yang bisa dilakukan setiap malam. Kurang lebih seperti itu," sambung Maura menyerah, kali ini tidak ada pilihan lain.
Zack tersenyum tipis karena bukti yang diharapkannya bisa di dapatkan dengan mudah. "Well, aku punya satu penawaran. Terserah mau menerima atau menolaknya. Apapun pilihanmu, ingat saja. Jika uluran tanganku bisa menjadi awal hidup barumu."
"Maksudmu apa? Aku tidak paham." balas Maura dibuat bingung, tetapi Zack hanya tersenyum tipis, lalu bertepuk tangan tiga kali, kemudian datanglah salah satu dari pria kekar yang membawa sebuah file.
__ADS_1
Isyarat dari sang pemimpin, membuat sang anak buah menyerahkan file ke Maura. Kemudian kembali meninggalkan tempat pertemuan agar tidak menjadi pengganggu, sedangkan wanita itu tanpa permisi memeriksa apa isi file nya. Setiap paragraf dibaca dengan teliti.
Lima menit kemudian.
"Cukup katakan. Yes or No? Selebihnya, Aku akan memberi penjelasan dengan sistem kultum." Zack mengulurkan tangan kanannya tepat di depan wajah Maura, "Apa keputusanmu?"
File itu menjelaskan setiap poin perjanjian kerjasama. Dimana dia sebagai MamCa akan memberikan kesaksiannya atas transaksi jual beli wanita yang bernama Ayesha Ramadhani. Bukan hanya itu saja karena sebagai pemilik rumah bordil. Maka kewajibannya harus memberikan seluruh bukti atas penyelewengan yang dilakukan oleh Akbar Wijaya.
Satu sisi, Akbar memiliki sebuah bukti yang bisa menguasai emosinya. Akan tetapi, disisi lain lagi. Zack menyodorkan surat perjanjian kerjasama. Jika dipikirkan, tidak ada yang menguntungkan, hingga poin terakhir dari surat perjanjian mampu menghentikan detak jantung selama beberapa detik.
Bagaimana tidak? Jika dia menerima, lalu membubuhkan satu tanda tangan diatas materai. Maka, selama proses perceraian berlangsung. Hidupnya akan dibawah pengawasan Zack. Hanya saja, jika menolak. Hidupnya akan dikembalikan ke tempat asalnya. Yaitu bersama papa tiri yang memiliki hobi melecehkan dengan kekerasan s3ksual.
Seumur hidupnya. Hanya memiliki satu keinginan yaitu bisa hidup tenang tanpa harus melayani nafsu birahi yang selalu membekas di sanubari hingga kepercayaan akan hubungan pun tidak dia miliki. Dilema yang bercabang. Berat tanpa ada beban yang dipikul.
"Kurasa, kamu menolak. Ok. Aku akan hubungi orang ku untuk memberitahukan keberadaan mu pada ayah tirimu itu." Zack menarik uluran tangannya secara perlahan, sebenarnya apapun yang keluar dari mulut hanya untuk mengendalikan keadaan agar bisa seperti harapannya.
Benar saja, Maura langsung menyambut uluran tangannya. Wanita itu sudah pucat pasi dengan tubuh bergetar, "Aku ....,"
"Relax. Maura bukan wanita yang lemah. Tarik nafas, lalu hembuskan secara perlahan. Aku tidak buru-buru memeras emosimu."
Persetujuan Maura mengakhiri satu tahap pekerjaan Zack. Pria itu langsung mengirim pesan pada sang Bos agar mendapatkan perintah lanjutan. Pasalnya, semua harus terjadi sesuai rencana dan keinginan Bos Altra. Jika tidak, bisa jadi apa yang menjadi tujuan berubah menjadi malapetaka baru.
__ADS_1