
Pasutri itu tetap diam, tetapi menurut dan ikut masuk ke dalam rumah mewah yang cukup untuk satu keluarga besar. Tidak ada keraguan, ataupun rasa bimbang. Keduanya saling menatap memberikan kekuatan satu sama lain.
"Semua akan baik, mari kita lanjutkan."
Langkah kaki semakin masuk ke dalam, hingga seorang wanita dengan penampilan sederhana menggunakan afron keluar dari arah dapur membawa nampan berisi mangkuk dengan asap yang mengepul. Kedatangan wanita itu, membuat senyuman manis tersungging di bibir gadis cantik yang sudah lama tidak berkunjung. Apalagi mencium aroma masakan sang mama.
"Mama, apa menu hari ini sop buntut kesukaan ku?" tanya gadis itu berjalan menghampiri Mama Milea yang dengan senang hati melambaikan tangan, setelah meletakkan nampan ke atas meja.
Papa Bima ikut tersenyum karena sekali lagi bisa melihat kebersamaan keluarganya, "Al, ayo duduk. Ngapain berdiri disitu, ini rumahmu juga. Jadi santai saja."
"Aku hanya sedang berpikir. Bagaimana caraku memanggilmu, Bima seperti biasa atau papa mertua," ujar Al mendapatkan balasan tatapan sinis, sedangkan Bunga justru terkekeh mendengar itu.
"Kalian ini, panggil saja seperti biasa. Ingat umur ya, jangan buat kegaduhan. Bunga ajak suamimu untuk duduk dan kita sarapan bersama." balas Mama Milea menengahi candaan yang bisa saja menjadi perang.
Keluarga sederhana dengan cinta kasih. Bunga bukan hanya dididik dengan baik oleh kedua orang tuanya, tetapi juga dilimpahi kebahagiaan yang nyata. Kebersamaan itu, justru menyadarkan Al. Jika istrinya terlalu muda untuk menanggung banyak masalah yang akan dia berikan.
Sadar, atau tidak sadar. Sengaja, atau tidak sengaja. Kenyataannya adalah Bunga harus menjadi istri seorang pemimpin mafia. Ada rasa yang menohok di ulu hatinya. Bagaimana semua menjadi lebih rumit. Namun, pernikahan itu atas kemauan kedua belah pihak.
Sarapan bersama berjalan penuh khidmat. Al hanya menyimak celotehan Bunga yang sibuk bercerita tentang perkembangan dunia belajar selama akhir-akhir ini. Dari keempatnya, hanya Mama Milea yang sesekali memberikan tanggapan, hingga sarapan berakhir.
Tiba-tiba, seorang pelayan yang datang dari luar mengantarkan Zack untuk masuk ke dalam rumah. Tatapan mata semua orang teralihkan. Apalagi ada suara tangis bayi yang terdengar begitu jelas. Ternyata pria yang berpenampilan santai membawa keranjang kayu dengan selimut putih.
"Mas, Aku akan bawa Almaira ke kamar ku. Jangan khawatir, semua akan baik." Bunga beranjak dari tempat duduknya. Jelas sekali gadis itu seketika bersikap serius, membuat kedua orang tuanya berpikir keras dengan tatapan saling pandang.
Al menarik selembar tisu, lalu mengelap bibirnya. Dia tahu, saat ini menjadi pusat perhatian dari orang tua sang istri. Tetapi, sebelum menjelaskan apapun. Dia ingin, Bunga sudah masuk ke dalam kamar. Semua ini demi kebaikan istrinya.
Suara langkah kaki yang menjauh semakin terdengar lirih. Beberapa saat hanya helaan nafas yang bisa menetralisir perasaan semua orang, hingga suara pintu terbuka, lalu tertutup. Barulah, Al menjentikkan jari, membuat Zack berjalan maju menghampiri bosnya.
"Silahkan."
Sebuah ponsel yang memiliki beberapa bukti, kini digeletakkan begitu saja di atas meja. Al mempersilahkan Bima untuk memeriksa ditemani Milea sang istri. Terlihat perubahan ekspresi yang membuat pasutri itu tertegun dengan mata tak percaya.
Lima belas menit kemudian.
"Al, bagaimana ....,"
Al menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan tatapan fokus tertuju pada gelas kosong di depannya. "Aku sudah berusaha, tapi terlambat. Semua terjadi begitu cepat. Prediksi yang kubuat gagal. Musuh bergerak lebih cepat."
"Apa putriku tahu, tentang semua ini?" tanya Milea dengan cemas, tapi Al memilih diam.
Zack yang merasa bersalah menghirup udara, lalu "Semua ini salahku. Seharusnya aku tidak ceroboh, Bos Al sudah memberikan perintah untuk memperketat keamanan. Aku yang bertanggung jawab, apapun yang menjadi masalah kalian. Semua itu karena aku."
"Al? Bayi siapa itu?" Bima mencoba untuk bersikap tenang, meski hatinya bergemuruh. Sebagai seorang ayah, dia bisa merasakan kegundahan hati putrinya. Apalagi Bunga bersikap sangat serius.
Al baru saja ingin menjawab, tiba-tiba terdengar suara dari atas. "Almaira putri kami. Tidak seorangpun boleh meragukan itu. Aku tidak ingin memperdebatkan apapun."
Suara tegas dan penuh penekanan dari Bunga seperti ultimatum tanpa penolakan. Gadis itu, ntah berdiri di atas sejak kapan. Tetapi jelas, membuat semua terkejut. Termasuk Al suaminya sendiri. Namun, cara penyampaian itu terlalu frontal. Sementara para orang dewasa akan menyampaikan dengan cara lebih pelan.
"Nak." Cicit Milea cukup tersentak dengan pernyataan putrinya, baru beberapa menit yang lalu sikap gadis itu manja, dan sekarang sudah berubah.
Papa Bima memejamkan mata. Rasanya memang sakit, tapi kepercayaan seorang ayah tidak selemah itu. Jika menyangkut Alkan, sudah pasti pria itu selalu mengambil keputusan dengan benar. Perubahan tidak bisa dihindari. Maka, mau, tidak mau harus belajar untuk menerima kenyataan.
"Bunga, masuk ke kamarmu!" Titah Al dengan lirikan mata serius, membuat Bunga menurut. ''Maaf, Aku tidak berharap Bunga akan berkata begitu keras pada kalian. Kali ini, aku tidak bisa berkata apapun lagi, tapi Almaira putri ku. Zack akan menjelaskan semuanya. Aku permisi, istriku harus ditenangkan."
__ADS_1
Al berdiri seraya mendorong kursinya ke belakang, tetapi tangannya ditahan Bima yang kebetulan memang duduk di dekatnya. Tatapan mata papa Bunga begitu dalam seakan tengah mencari kebenaran. Namun, sorot mata sang menantu, tidak sedikitpun memiliki keraguan.
"Pergilah! Aku tidak ingin memperpanjang hal ini," Bima melepaskan tangannya dari tangan Al, "Jika Bunga mengatakan bayi itu adalah putri kalian. Maka, Aku menerima bayi itu sebagai cucuku. Sampaikan itu pada Bunga."
Al tersenyum tipis, tangannya terulur hanya untuk memberikan tepukan bahu. Setidaknya dengan itu, Bima bisa lebih kuat. Semua yang terjadi hanya karena kesalahan satu orang, tetapi yang menanggung justru banyak orang. Zack hanya bisa menundukkan kepala.
Niatnya sungguh baik, tapi lihatlah. Sekarang ini banyak hati yang terluka. Bagaimana jika keluarga besar Putra tahu? Apakah semua juga menerima bayi itu? Sungguh, rasa tidak sabar menjadi bumerang. Sementara Al menaiki anak tangga. Pria itu berjalan tanpa keraguan.
Took!
Took!
Took!
"Bunga, boleh Aku masuk?" tanya Al dari luar kamar.
Setelah menunggu beberapa saat. Pintu kamar masih tertutup rapat, tetapi ada getar di saku celananya. Pasti ada yang mengirim pesan atau memanggilnya. Al mengeluarkan benda mati itu, lalu menggeser layarnya. Benar saja, sebuah pesan yang mempersilahkan masuk.
Ceklek!
Kamar dengan nuansa langit malam menyambut Al. Pria itu melangkahkan kaki, semakin masuk ke dalam dan tak lupa menutup pintu kamarnya. Suara lirih alunan musik terdengar. Akan tetapi, dimana si pemilik kamar?
Aku tak kan pernah berhenti
Akan terus memahami
Masih terus berfikir
Bila harus memaksa
Apapun itu asalkan mencoba menerimaku
Dan kamu hanya perlu terima
Dan tak harus memahami
Dan tak harus berfikir
Hanya perlu mengerti
Aku bernafas untukmu
Jadi tetaplah di sini
Dan mulai menerimaku
Cobalah mengerti
Semua ini mencari arti
Selamanya takkan berhenti
Inginkan rasakan
__ADS_1
Rindu ini menjadi satu
Biar waktu memisahkan
Dan kamu hanya perlu terima
Dan tak harus memahami
Dan tak harus berfikir
Hanya perlu mengerti
Aku bernafas untukmu
Jadi tetaplah di sini
Dan mulai menerimaku
Cobalah mengerti
Semua ini mencari arti
Selamanya takkan berhenti
Inginkan rasakan
Rindu ini menjadi satu
Biar waktu memisahkan
Tiba-tiba saja ada tangan yang melingkar ke perut sixpack nya, "Bunga ....,"
"Diamlah! Biarkan Aku memelukmu sebentar saja."
.
.
.
.
...🌚🍫🍫🍫🌚🌚🍫🍫🍫🌚🌚🍫🍫🍫🌚...
Hai reader's, hari ini Othoor Crazy up LAGI.
Jangan lupa, jejak kalian per Bab, ya 😃
Biar makin semangat 🔥
Boleh nih, pantengin 🤭
Cek cek 👇👇
__ADS_1