Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 61: KELAKUAN OCY


__ADS_3

"Sayang, kamu kenapa?" tanya Muel khawatir pada Ocy.


Tidak ada jawaban dari Ocy. Selain ponsel di tangan, wanita itu serahkan pada Muel.


"Astaga, Om pamer," celetuk Muel seketika dengan geleng-geleng kepala.


Al yang mendengar ucapan Muel hanya tersenyum tipis berpura-pura tidak mendengar, sedangkan Kinara hanya bisa diam menjadi penyimak. Mungkin saja tidak ada yang menyadari keberadaannya.


"Bang tampan, apa Tuan Al masih normal?" tanya Ocy setengah berbisik.


Pertanyaan yang sensitif, tetapi justru menghadirkan kekehan pelan Muel. Ponsel dikembalikan, "Om Al masih normal, tapi dunianya sudah disirami cinta."


"Cinta? Maksudnya apa, Bang?" tanya Ocy tak paham, yah lagian selama ini pria yang duduk di kursi depan tidak pernah dekat dengan wanita manapun.


Muel melambaikan tangan agar sang kekasih mendekat, lalu membisikkan sesuatu. Berita terkini tentang pernikahan yang baru saja di lakukan Om Al. Seperti jantung terkena sengatan listrik. Sontak Ocy menatap pria di depan sana dengan tatapan tak percaya.


"Om Al, menikah?" tanya Ocy mengerjapkan mata, jika itu benar. Seharusnya ada perayaan, tapi kenapa tidak ada? Lalu siapa yang menjadi nyonya Alkan Putra?


"Sayang, tutup mulutmu itu," Muel benar-benar tak kuasa menahan senyum karena ekspresi sang kekasih menggemaskan, "Siapapun yang menjadi istri om Al, gadis itu beruntung. Benar 'kan?"


Ocy mengangguk tanda setuju, tapi pertanyaan yang ada di dalam kepalanya masih membutuhkan jawaban. Ntah suasana yang mendukung, atau memang takdir membuat segalanya menjadi mudah. Ara yang baru bangun tidur membuka mata seraya menutup mulut karena menguap.

__ADS_1


"Ka, apa masih lama perjalannya?" tanya Ara menoleh keluar jendela, dimana jalan raya masih saja terlihat panjang.


"Sebentar lagi sampai, De. Istirahat saja, nanti aku bangunin," jawab Muel lembut.


"Si abang tampan, bumil juga butuh asupan nutrisi makanan. Kenapa gak mampir ke cafe sebentar? Kita makan dulu, aku aja laper. Masa kalian tega biarin bumil kelaparan...," celetuk Ocy mengalihkan tatapan mata semua orang.


Ara yang masih belum sepenuhnya sadar, hanya diam dengan mencerna ucapan Ocy. Sementara Al menatap Ara penuh arti, tetapi tidak dengan Muel dan Kinara. Kedua dokter itu sepakat menepuk kening bersamaan.


"Ocy, Ara masih belum hamil. Apa kamu lupa itu?" tanya Kinara mengingatkan, membuat Ocy menyikut teman barunya agar memahami situasi.


Kode yang diberikan Ocy pada Kinara tertangkap basah oleh Muel, tapi tidak dengan Om Al yang duduk di depan. Satu kedipan mata sang kekasih hanya berakhir dengan helaan nafas panjang. Berharap wanita satu itu tidak membuat keributan yang terlalu berlebihan.


"Apa benar yang dikatakan, Ocy?" tanya Al penuh harap.


Al yang mendengar penjelasan Ocy seketika sadar tengah dipermainkan. Meskipun begitu, ia tidak keberatan. Apa yang dikatakan sang bodyguard benar adanya. Perkembangan kesehatan termasuk situasi rahim istri Bryant jelas telah sampai ke telinganya. Bukan masalah, jika harus membawa menantu keluar Putra makan di restoran ternama.


"Ara, apa makanan favoritmu?" tanya Al seperti bertanya pada seorang putri.


Ara yang ragu mau menjawab atau tidak. Akhirnya menoleh ke arah Muel. Anggukan kepala sang kakak angkat memberikan ketenangan dan perlindungan, "Masakan padang, lele goreng garing, semua jenis sambal, kecuali sambal matah, udang tepung goreng, mie ayam, jus alpukat, dan juga semua jenis olahan ayam."


Semua yang mendengar jawaban Ara hanya bisa melongo. Satu pertanyaan dari Om Al, dan jawaban seperti gerbong kereta yang lewat. Sungguh gemas rasanya. Jika saja Ara anak kecil, sudah pasti menjadi sasaran tangan jail yang siap mencubit pipinya. Sang sopir yang mendengar saja ikut tersenyum lebar.

__ADS_1


"Maaf, jika tidak keberatan. Saya ada rekomendasi satu tempat makan yang menyediakan semua jenis makanan dengan harga terjangkau, tapi rasa makanan dijamin lezat. Apa mau, saya antarkan kesana?" tanya sang sopir dengan sopan.


Wajah-wajah penuh harap dari gerombolan, membuat Al menggelengkan kepala pelan, "Antar kami kesana!"


"Baik, Tuan," jawab sang sopir kembali fokus menyetir, sedangkan Ocy tersenyum puas.


"Tuan!" panggil Ocy dengan jemari saling bertautan.


"Ocy, kamu mau hadiah mobilnya dibatalkan, atau dipotong saja gajimu?" tanya Al tanpa menoleh ke belakang.


Benar, Ocy beberapa menit yang lalu terkejut karena bukti transaksi pembelian mobil atas namanya telah dikirimkan pihak bank terkait. Ketika meminta gaji tambahan. Justru Al memberikan fasilitas sebuah mobil. Bukan hanya shock, tetapi rasanya sungguh mimpi menjadi kenyataan. Sebuah mobil yang akan dikirim langsung ke perumahan pelangi.


"Om, gak baik mengancam seperti itu," Muel mengingatkan dengan santainya, ''Sayang, jangan terlalu penasaran dengan kehidupan Om Al. Itu namanya gak sopan."


...----------------...


...*Mau curhat dikit nih othoornyan😌...


...Beberapa part yang akun tulis, rasanya ikut gemas sendiri. Sesaat ada rasa sesak, air mata, dan juga tawa. Emosi yang bercampur tertuang begitu saja. ...


...semoga kalian terhibur dan juga selalu mendukung othoor, ya 😘🥺*...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2