Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 50: TINDAKAN ALKAN


__ADS_3

Jawaban sang paman. Sontak membawa langkah Bryant berlari tanpa permisi memasuki kediamannya.


"Aku harus bertindak cepat membawa Ara ke dalam rumah ini. Jangan sampai pria itu berhasil menemukan istri Bryant dan melakukan sesuatu di luar batas." gumam Alkan seraya kembali memasuki mobilnya.


Pintu gerbang kembali terbuka, dan Alkan sibuk menyetir meninggalkan kediamannya. Di dalam mobil, terlihat pria itu tengah menunggu panggilannya terjawab. Hingga nada dering berganti sebuah sapaan salam dari seberang.


[Assalamu'alaikum]~ sapa dari seberang.


"Wa'alaikumsalam. Aku mau kamu lakukan sesuatu untukku. Dengarkan baik-baik apa yang harus kamu kerjakan dalam waktu dua puluh empat jam." Alkan sedikit mengurangi kecepatan mobilnya, "Bawa Ara dan yang lainnya kembali ke Jakarta! Buatlah insiden kecil, tapi INGAT JANGAN SAMPAI ARA TERLUKA. Cukup buat drama singkat, dan buat Bryant memerintahkan kalian kembali ke sini. Paham?!"


[Om, apakah kita harus melakukan semua itu? Jika Ara dibawa ke Jakarta kembali. Bagaimana dengan Hazel?] ~ jawab dari seberang.


"Hazel urusanku, tapi keadaan tidak akan meminta ruang tunggu. Waktu bisa saja berkhianat. Cobalah pikirkan kebahagiaan sahabat mu, dan aku tahu. Kamu bisa melakukan apapun demi Bryant." Jelas Alkan.

__ADS_1


Sejenak hanya ada keheningan dari seberang. Hingga helaan nafas terdengar cukup panjang dan pasrah.


[Okay, Aku akan urus. Percayakan ini padaku, Om tenang saja. Cukup siapkan tiket kepulangan kami dua jam dari sekarang.] ~ Jawab dari seberang, lalu menutup panggilannya.


"Satu masalah selesai ku atasi. Sekarang waktunya menyelesaikan urusan kedua ku. Aku harus ke pengadilan agama." gumam Alkan.


Mobil yang seharusnya ke arah selatan menuju kantor. Justru berbelok ke barat menuju deretan pelayanan masyarakat bagi pengabdi negara. Termasuk gedung pengadilan agama wilayah setempat. Tatapan mata begitu tegas dengan wajahnya yang datar. Ekspresi dingin ia tunjukkan. Tidak ada lagi waktu untuk berpikir. Meskipun waktu yang ditentukan masih tersisa dua hari lagi, tapi kemungkinan besar siluman cicak tidak akan melakukan seperti perintahnya.


Mobil memasuki gedung pengadilan agama, lalu di parkiran ke tempat seharusnya. Alkan keluar dari mobil tanpa membawa berkas apapun, selain ponsel di tangan kanannya. Lalu lalang orang-orang yang memiliki urusan sedikit mendapatkan obat cuci mata disaat seorang pria dengan perawakan bule memasuki gedung pengadilan agama yang cukup luas. Meskipun tak semua orang mengenal siapa pria itu, tetap saja menjadi pusat perhatian banyak orang.


"Dimana ruangan manager?" tanya Alkan tegas menatap resepsionis yang bertugas memberikan nomor antrian.


"Maaf, Tuan silahkan isi data diri, dan ambil nomor antrian." Ucap resepsionis menyodorkan kertas administrasi pada Alkan.

__ADS_1


Alkan menerima, tetapi bukan untuk mengisi formulir. Melainkan hanya digeser, lalu satu lirikan mata fokus ke ponsel mendial sebuah nomor. Sikap dingin pria itu sangat menjadi pusat perhatian. Ada tatapan mata kagum, tapi ada pula yang malu-malu mencuri pandang.


"Selamat pagi, Pak Dinata. Saya ada di pengadilan agama, apakah bisa bertemu langsung?" Alkan menyapa panggilan yang ia lakukan dengan ekspresi wajah tak berubah, meskipun suaranya terkesan lebih ramah. "Terima kasih, saya tunggu kedatangan Anda."


"Jaman sekarang. Sukanya main modus. Tuan, karyawan saja kesulitan untuk menemui pak manager, dan kamu berbicara seakan mengenal beliau." Resepsionis menggelengkan kepalanya. "Silahkan isi saja! Biar yang antri bisa melanjutkan pekerjaan mereka."


Alkan tak menanggapi celotehan si resepsionis, tetapi ia melakukan apa yang diminta yaitu mengisi formulir. Hingga tepukan di pundak menghentikannya, lalu berbalik. Seorang pria dengan perut buncit, dan kumis tebal berdiri di hadapannya dengan uluran tangan.


"Selamat datang, Tuan Alkan Putra. Senang berjumpa dengan Anda." Sapa Pak Dinata, membuat Alkan menyambut tangan pria buncit itu dengan senyuman tipis serta lirikan mata ke resepsionis. "Mari keruangan saya!"


"Tunggu!" Alkan merobek selembar formulir yang baru saja ia tulis, lalu menyodorkan ke resepsionis. "Baca dan pahami! Jaga lisanmu!"


"Mari, Pak Dinata." Jawab Alkan dan pergi berlalu meninggalkan tempat antrian berjalan berdampingan bersama pak manager.

__ADS_1


Sementara si resepsionis tertegun dan tangan gemetar mengambil kertas yang pria itu berikan. "Perbedaan antara kebenaran dan kepalsuan setipis benang. JANGAN PERNAH MENILAI ORANG LAIN DARI PENAMPILAN APALAGI TANPA KAMU TAHU, SIAPA MEREKA!"


__ADS_2