Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 144: MILIKKU?


__ADS_3

"Sa .... "


Wajah dingin dengan mantel hitam memakai kacamata khusus, sepatu boots, sarung tangan kulit. Pria dengan aroma cool muncul tepat pada hitungan terakhir dari sang pemimpin. Langkah tegas dengan aura intimidasi berjalan menghampiri mayat yang tergeletak di atas tanah basah.


"Katrina. Bagaimana dengan Saif. Apa dia aman?"


Satu pertanyaan, membuat sang pemimpin menggelengkan kepala seraya menyerahkan ponselnya. Benda pipih yang menyimpan begitu banyak bukti dan foto-foto berbagai peristiwa yang menjadi hasil investigasi. Perubahan ekspresi yang tidak terdeteksi, tapi terlihat jelas si boss tengah berpikir.


"Bersihkan area hutan! Mr. X tidak akan tinggal diam, bukti yang dimiliki Katrina dan Saif pasti ada di wilayah ini. Selain itu, lakukan pemakaman yang layak untuk pejuang kita. Kamu paham?!" tegas Si Bos mengembalikan ponsel sang pemimpin.


"Bos, ada yang harus aku sampaikan .... "


Belum juga selesai mengatakan hal yang penting, tiba-tiba terdengar suara bayi yang menangis dengan suara langit begitu banyak mendekati kedua pria itu. Ternyata tim pencarian berhasil kembali dengan membawa keranjang berisi bayi. Melihat itu, Si Bos melirik ke arah mayat Katrina.


"Anak siapa?" gumamnya seketika merasa was-was, ntah apa yang disembunyikan oleh Katrina, dan kenapa wanita itu tidak mengatakan, jika tengah hamil.


Sang pemimpin masih bisa mendengar gumaman pria yang menjadi bosnya, "Bos, dia milikmu. Gendonglah dan tatap matanya."


"Milikku? Apa maksudmu .... "


Tanpa menjawab, sang pemimpin mengambil bayi dari keranjang, lalu membawanya ke depan pria berwajah dingin. Kemudian memberikan begitu saja agar si bos mau menggendong bayi itu. Suara tangisan yang menghilangkan kesunyian malam mendadak terhenti ketika kedua mata saling menatap satu sama lain.


Bayi yang cantik dengan mata yang mirip Katrina, tapi hidung dan bibir bayi itu. Kenapa seperti dia kenal? Apakah mungkin .... Entahlah, jika benar. Bagaimana itu mungkin? Tidak satu malam pun pernah dihabiskan bersama. Apalagi pertemuan yang terjadi bisa dihitung dengan hitungan jari.


"Bos Altra, maaf. Aku melakukan sesuatu tanpa izinmu. Anda boleh menghukummu, tapi jangan hukum bayi itu. Dia adalah putri kandung mu." Zack bersimpuh memohon pengampunan, tapi Al merasa tersambar petir. Apakah telinganya bermasalah? Bagaimana bisa tiba-tiba saja memiliki anak.


Al terdiam sesaat, sedetik kemudian menemukan jalan ketidakmungkinan atas pernyataan yang anak buahnya katakan, "Zack, apa aku salah dengar? Katrina dan Saif saling mencintai. Bagaimana bisa, ini anakku. Jangan gila kamu."


"Sebenarnya, Saif dan Katrina hanya menjalankan misi, Bos. Aku meminta dokter untuk melakukan inseminasi buatan pada Katrina. Apapun yang ku lakukan demi keberlangsungan mafia kita. Awalnya, aku tidak mengira, jika bos akan menikah dan rasa putus asa ku .... "

__ADS_1


Buug!


Semua tercengang ketika Al melayangkan kaki tepat mengenai wajah Zack. Sontak saja, tubuh sang pemimpin terhempas ke belakang dengan darah yang mengalir dari sudut bibir. Sementara Al sendiri berusaha menahan amarahnya yang meledak. Bagaimana bisa, hal sebesar itu, sampai kecolongan?


Ingin rasanya membidik kepala Zack, tapi semua sudah terlanjur. Separuh hatinya merasa bersalah. Bagaimana jika bayi yang digendong memang benar anak kandungnya? Namun, separuh hati lagi hanya menyimpan keraguan. Bukan hanya Al yang terkejut karena dibalik salah satu pohon Bunga ikut mendengar semuanya tanpa terkecuali.


Ntah kenapa, ketika melihat sang suami beranjak dari tempat tidur setelah melakukan olahraga ranjang. Ada pemberontakan di dalam hati dan menyuruhnya untuk diam-diam mengikuti dan masuk ke dalam hutan. Rasa penasaran itu berakhir dengan kenyataan yang pahit.


Akan tetapi, dia sadar. Jika Al sendiri tidak bersalah karena bayi itu terlahir tanpa izin dari pemilik benihnya. Ingin sekali keluar dari persembunyian, tapi ada rasa takut. Bagaimana jika kemarahan suaminya semakin bertambah?


Apapun yang terjadi. Aku siap menjadi istrimu, jika bayi itu memang anak kandung mu. Maka, dia juga anakku. Akan kupastikan, keluarga baruku selalu bersamaku. Maafkan aku, Mas. Saat ini, biarlah aku berpura-pura tidak tahu apapun.~kata hati Bunga seraya menghapus air matanya, kemudian berjalan perlahan agar tidak ketahuan.


Mungkin karena suasana yang tegang. Tak seorangpun menyadari kepergian Bunga. Malam ini menjadi badai dalam kehidupan Al. Pernikahan dadakan bersama Bunga yang sudah di anggap sebagai putri sendiri. Hubungan itu saja baru dimulai dan tiba-tiba menjadi seorang ayah?


"Kepercayaan itu mahal. Mulai malam ini, aku tidak percaya apapun padamu lagi, Zack. Dengarkan aku baik-baik," Al mendekap bayi cantik yang justru terlelap disaat terbuai aroma parfumnya, "Bereskan semua kekacauan! Ini tugas terakhir mu. Setelah ini, enyahlah dari hadapanku."


Al mengangkat tangannya, membuat Zack terdiam. Tatapan mata yang merah jelas menggambarkan suasana hati yang tidak bisa diterjemahkan lagi. Para anak buah menundukkan kepala, semua merasa tertekan dengan aura intimidasi bos mereka.


Tidak berdaya, tapi berusaha menerima kenyataan. Alkan berjalan meninggalkan hutan bersama bayi yang dianggap keturunannya. Ntah bagaimana menjelaskan hal itu pada Bunga. Mau, tidak mau hanya ada satu pilihan yaitu berbicara jujur.


Emosi dengan naluri seakan saling bertarung. Rasanya seperti perang batin dan pikiran. Ada penerimaan ketika melihat wajah bayi itu, tapi logika menolak kebenaran yang disodorkan Zack.


Dilema yang dirasakan Al, sama seperti yang dirasakan Bunga. Pasutri itu berjalan dengan jarak yang berbeda. Namun, hati dan pikiran kalut seperti benang kusut. Berusaha untuk tegar meski terasa sakit menusuk. Apakah bayi itu akan menjadi bagian keluarga kecil mereka? Apakah benar darah yang mengalir adalah darah Al?


Pertanyaan demi pertanyaan menjadi tumpukan rasa penasaran dan keraguan. Semua ini hanya karena satu alasan yaitu kekhawatiran Zack. Meski, apa yang dikatakan Zack benar. Tetap saja caranya tidak bisa dibenarkan. Bagaimanapun, status anak itu menjadi tidak jelas meski memiliki orang tua yang jelas.


Sementara Zack berteriak kencang membelah malam. Pria itu tak henti-hentinya memukul kepalanya sendiri. Dia tahu melakukan kesalahan besar, bahkan tidak termaafkan. Kepercayaan yang selama ini menjadi hubungan tanpa rasa sungkan. Seketika hancur lebur karena keegoisannya.


Melihat Zack yang sibuk menyakiti diri sendiri. Beberapa anak buah mencoba untuk menghentikan, tapi percuma. Inilah penyesalan yang terjadi diakhir. Niatnya baik, hanya saja menjadi masalah baru. Kini malam yang gelap nan dingin menjadi panas dengan rasa yang membara.

__ADS_1


Kasus kematian Saif dan Katrina akan menjadi akhir dari satu kisah, tapi kelahiran bayi cantik akan menjadi awal dari kisah lain. Al, Bunga, Zack, dan bayi itu akan menjadi lingkaran hubungan tanpa penjelasan yang tepat. Waktu bisa saja berkhianat, tapi darah akan selalu lebih kental daripada air.


"Aku tidak tahu, apakah kamu benar anakku atau anak Katrina dan Saif. Siapapun kamu, aku akan bertanggung jawab." Al menatap bayinya, lalu membenamkan bayi itu agar tidak kedinginan. "Ayo, kita bujuk Mama kecilmu. Semoga kehadiranmu menjadi kekuatan dan kebahagiaan kita bersama."


.


.


.


.


*Boleh tebak, bagaimana reaksi Bunga 🤔


aku pun tak tahu, 🤭 Apa benar bayi itu anak Alkan? 🤔 Bagaimana jika ....


.


.


Sembari menunggu rasa tidak sabar, Yuk kepoin karya teman Othoor, kita bagi semangat 🔥🥰*


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2