Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 53: INGIN MERAJUK - KELAPARAN


__ADS_3

"Bos, ada apa?" tanya wanita itu.


Tuut!


Tuut!


Tuut!


"Nothing." Al menghela nafas panjang karena semua panggilan telepon nya sama sekali tidak dijawab.


"Tuan, kita akan melakukan pendaratan." Lapor sang pilot.


Al melihat keluar memastikan tempat dan waktu sesuai dengan yang ia inginkan. Jam yang menunjukkan pukul setengah sebelas kurang. Sementara janji pertemuan akan diadakan pukul sepuluh lebih empat puluh lima menit. Masih ada sisa waktu banyak.


"Kita mendarat, tapi di gedung ketiga sebelah utara!" titah Al setelah berpikir sejenak.

__ADS_1


Wanita sexy disebelah Al mengernyit tak paham. Ingin komplain, tapi bukan hak nya. Lagipula sang bos terlihat tengah banyak beban. Wajah dingin dengan mata terpejam berulang kali. Sudah pasti ada masalah besar. Al yang tahu tengah diperhatikan, kali ini masa bodo. Pikirannya tengah berpindah tempat. Tentu saja ditempat seharusnya.


Selimut tebal menjadi pelampiasan seorang gadis yang bersembunyi di baliknya. Bibir mengoceh panjang kali lebar tidak ada hentinya. Namun, di dalam hati harap-harap cemas menunggu seseorang datang untuk membujuknya. Sudah sejam berlalu, tapi tak seorangpun mengetuk pintu kamar.


"Apa semua berpikir aku tidur?" Gadis itu sedikit mengintip dari balik selimut, "Eh udah jam setengah sebelas kurang....,"


Kruyuk!


Kruyuk!


"Lapernya gak ketulungan ini, tapi Om belum juga dateng. Gimana donk?" Gadis itu menggigit kukunya memikirkan sesuatu, lalu selimut disibakkan, "Kamar seluas ini, masa iya gak punya kulkas pribadi? Pasti ada, donk?"


Tatapan mata menelusuri seluruh isi ruangan. Dari deretan lemari, bufet, sofa, pintu ke balkon, ranjang, dan kamar mandi. Disaat rasa lapar semakin mendera, hanya buah-buahan yang menjadi secercah harapan. Tanpa berlama-lama, gadis itu melompat dari tempat tidur. Kemudian berlari menghampiri keranjang buah di atas bufet samping sofa.


"Kalau aku makan disini, nanti Om tahu. Jadi, aku makan dimana ya?" gumamnya.

__ADS_1


"Balkon!" Seru gadis itu, dan langsung cus berlari ke arah lain.


Pintu balkon dibuka perlahan, tanpa menyibakkan tirai yang menjuntai. Langkahnya sangat tidak sabaran. Yah, orang yang kelaparan pasti tidak bisa sabar 'kan? Begitu juga dengan gadis yang kini duduk sila di kursi panjang dengan sekeranjang buah-buahan. Tangannya bergerak cepat mengupas buah apel merah yang sangat menggoda.


"Crauus....," satu gigitan besar masuk ke mulutnya. "Uumm, lezatnya. Awas aja nanti kalau om dateng. Lihat hukumannya."


Gigitan demi gigitan tak lekang dengan perkataan yang siap menenggelamkan suaminya sendiri. Rasa kesal bercampur dengan rasa lapar. Kesibukannya melahap semua buah dari keranjang, tak di sadari ada seseorang yang masuk ke dalam kamar. Hembusan angin menelusup menggerakkan tirai karena pintu balkon dibuka setengah.


Langkah kaki yang berniat memeriksa sesuatu teralihkan dan mengubah arah menghampiri pintu balkon yang berjarak tiga meter dari tempatnya. Mengingat pemilik kamar sudah pergi sejak beberapa jam lalu, tapi kamar terlihat berantakan. Pasti ada orang lain di kamar itu. Rasa penasaran siapa si pembuat onar yang berani mengacaukan isi kamar?


Tirai masih mengikuti arah angin. Terbang kesana kemari. Hingga tangannya memegang tirai agar tidak mengganggu pandangan matanya. Dari pintu kaca balkon, terlihat seorang wanita duduk di kursi panjang dengan posisi membelakangi. Ntah apa yang dilakukan wanita itu disana? Terkadang menggelengkan kepala ke kanan, lalu ke kiri.


Tak ingin berprasangka buruk. Ia memilih melewati batas balkon dengan langkah kaki tak bersuara menghampiri wanita itu. Hingga jarak menyisakan dua meter, langkahnya terhenti dengan tatapan mata tak percaya. Suara yang sangat familiar terdengar jelas memasuki gendang telinga. Suara manja, tidak sabaran, ceria dan juga ceplas-ceplos. Hanya satu wanita di dalam keluarganya yang memiliki suara seperti petasan musim tahun baru.


"Bunga!" panggilnya.

__ADS_1


__ADS_2