
"Tunggu sebentar! Biar Mama yang ambil dari kamar. Kalian lanjut makan saja."
Darren menunggu apa yang dia inginkan sembari menikmati secangkir kopi hitam ditemani salad buah dan sesekali membicarakan tentang bisnis dengan calon papa mertua. Meski, pria itu tidak berniat melanjutkan perjodohan. Tetap saja keputusannya masih tersimpan rapat di dalam hati. Lagi pula, wanita yang diinginkan masih belum ditemukan.
Siapa lagi, jika bukan Ayra. Gadis yang selalu menjadi bayangan semu di setiap mimpinya. Namun, suara lembut penuh kasih sayang tidak ada yang bisa meniru. Satu kepercayaan, jika suatu hari nanti pasti akan menemukan ratu pemilik hatinya. Sudah pasti, bukan Bianca orangnya. Setelah undangan yang diminta ada di tangan. Darren bergegas menyudahi sarapan, lalu berpamitan untuk pulang.
Terjadi sedikit drama. Dimana Bianca meminta untuk diantar ke kampus, tapi Darren menolak dengan alasan harus segera kembali ke rumah untuk mengurus beberapa meeting. Drama itu berakhir dengan wajah kesal sang calon istri. Namun, pria itu tidak peduli. Kini tujuannya adalah memasuki rumah yang berdiri di depan mata dengan jarak empat meter dari mobilnya terparkir.
"Bagaimanapun caranya, Aku akan mencoba mendapatkan kebenaran dan undangan ini akan menjadi jalan masuk," Darren mendorong pintu mobil, lalu keluar dan tak lupa menutup kembali pintunya, "Semua ini hanya demi menemukan Ayra ku."
Langkah kaki berjalan menghampiri gerbang. Dimana pak satpam berdiri dan dengan sigap berlari kecil menemui tamu tak diundang sang majikan, "Pagi, Tuan. Mau mencari siapa? Apa, Anda memiliki janji dengan majikan saya?"
"Saya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini sebagai tetangga. Calon keluarga ku tinggal dirumah itu," Darren menunjuk ke arah rumah Bianca, membuat Pak Satpam manggut-manggut paham, "Kebetulan malam ini ada acara pertunangan di Hotel D'Lira. Aku berniat mengundang sebagai bentuk silaturahmi."
"Jaman sekarang masih banyak yang memikirkan silaturahmi," gumam Pak Satpam, lalu menatap penampilan Darren dari atas sampai bawah. Tentu saja penampilan tak kalah tampan dari para majikan yang ada di dalam, "Tuan bawa mobil 'kan? Jadi, silahkan masuk! Tidak baik parkir di bahu jalan seperti itu."
Darren bersorak ria di dalam hati karena berhasil memberikan alibi yang bukan dalam bentuk tipuan. Lagian, mengundang satu keluarga lagi, tidak akan rugi. Terlebih, siapapun yang memiliki rumah itu. Sudah pasti orang punya. Akhirnya, pria itu masuk kedalam rumah dengan izin Pak satpam. Singkat cerita, tamu tak diundang duduk menunggu di ruang tamu.
__ADS_1
Berhubung para penghuni rumah tengah melakukan aktivitas olahraga. Maka, mau, tidak mau harus menunggu selama beberapa waktu. Sembari mengulur waktu, Darren memilih membaca sebuah majalah yang ada di atas meja kaca. Cukup bagus selera yang punya rumah. Majalah bisnis dari beberapa penerbit ditumpuk menjadi satu dan setumpuk lagi hanya majalah fashion.
Disaat sibuk membolak-balikan halaman. Terlihat wajah seorang wanita dengan make up yang berani mengenakan gaun pengantin. Sebuah nama tertera di bawah pojok kanan. Hazel Laurent. Salah satu model dari agency yang cukup berkelas. Ternyata majalah yang Darren lihat adalah sebuah katalog fashion satu bulan yang lalu.
"Selamat pagi, maaf siapa kamu?" Suara tanya dari arah belakang terdengar cukup tegas, tapi sudah pasti itu seorang wanita.
Darren meletakkan majalah. Tanpa menutupnya, lalu beranjak dari tempat duduk, kemudian berbalik ke belakang untuk melihat siapa yang mengajaknya berbincang, "Kenalkan, aku Tama. Kedatangan ku hanya untuk memberikan undangan ini, ambillah!"
Ocy menatap dengan mata memicing. Instingnya mulai bekerja untuk waspada, tapi ketika mulai mengingat wajah di depannya. Wanita itu, tak bisa menahan ekspresi terkejutnya, "Kamu Da..., maaf, duduklah! Aku hanya bodyguard, jadi tunggu sebentar. Akan ku panggilkan Tuan Muda."
Perubahan ekspresi Ocy menyulut kecurigaan di hati Darren. Tak ingin ada yang mengenalinya, sontak saja pria itu memilih mencari pulpen dan kertas. Setelah menuliskan noted, barulah undangan diletakkan ke atas meja. Kemudian ditempeli noted darinya dan tanpa menunda-nunda. Langkah kaki berjalan cepat meninggalkan ruang tamu, sekaligus rumah yang seharusnya bisa memberikan secercah harapan.
Sam mengambil undangan yang ada di atas meja ruang tamu, dan juga membaca noted yang ditinggalkan oleh Darren. Tatapan mata bersalah yang berselimut kerinduan, tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Ocy yang melihat itu hanya bisa memberikan pelukan sebagai kekasih agar sedikit meringankan duka di hati pria yang ia cintai.
Situasi terlihat muram, tapi ketika suara canda terdengar bersamaan dengan pintu olahraga terbuka. Sam buru-buru memberikan undangan itu pada Ocy agar bisa disembunyikan. Apapun yang terjadi. Tindakan yang diambil harus disaat kepala dingin. Ketika menghubungkan tentang Ara, cincin, persahabatan tiga sekawan, Rachel. Ntah kenapa, semua itu seperti saling terhubung.
Mungkin saja salah. Akan tetapi, cincin milik Ara asli. Tidak mungkin juga untuk mencuri barang yang di khususkan untuk keluarga inti. Hanya saja, sejak kapan? Dari mana? Bagaimana hubungan mereka saling bersinggungan? Rumit dan membuat kepala berputar. Takdir macam apa yang tengah mereka jalani? Tidak seorangpun tahu.
__ADS_1
"Ka Sam! Kakak kenapa?" Tanya Ara setelah berhenti di dekat ruang tamu seraya mengelap keringat memakai handuk kecil, sedangkan Nara memilih langsung kembali ke kamar untuk membersihkan diri.
Sam hanya tersenyum tipis karena ada sesuatu yang harus ia putuskan, tapi untuk mengambil tindakan. Harus mencari solusi yang tepat, "Ara pernah ke pesta?"
"Tumben pertanyaan kakak diluar kesehatan? Pesta, ya? Dulu pas SMA, sekali ke acara sekolah, tapi...," Ara menjeda ucapannya, terlihat berpikir begitu keras, hingga, "Gak ada pesta, Ka. Cuma acara kelulusan biasa."
Sam tahu, jika adiknya menyembunyikan sesuatu, tapi tidak mungkin memaksakan kehendak, "Kebetulan kalau gitu. Kakak punya dua kartu undangan ke pesta pertunangan malam ini. Daripada mubazir, Ara mau ke pesta bareng kakak? Jangan khawatir karena Bryant pasti ikut, dan juga Ocy. Kita akan pergi sebagai pasangan. Bagaimana?"
"Pesta, ya? Siapa yang bujuk Mas Bryant? Kakak tahu, tadi bangun tidur aja orangnya udah ilang. Aku males bicara ma...,"
"Pagi, Istriku. Romannya ada yang ngambek. Apa bunga yang kubawa bisa mengembalikan senyuman manis istri manisku? Maaf, ya. Pergi tanpa pamit," Bryant datang dengan sebuket bunga mawar putih, pria itu berjalan menghampiri ketiga manusia yang kini menatapnya dengan tatapan aneh.
"Aku tidak akan melupakan keinginan istriku. Bersihkan dirimu dan kita bersiap untuk pergi ke makam. Jangan lupa bawa bunga mawar ini untukmu, Istriku."
"Ekhem!"
Deheman Sam, membuat Bryant tak ambil pusing dan justru merengkuh tubuh Ara. Pria itu berjalan berdampingan dengan istrinya dan meninggalkan Sam serta Ocy begitu saja. Bukan shock dengan sikap posesif sang sahabat, tapi justru ikut bahagia karena hari ini melihat kebahagiaan yang nyata.
__ADS_1
"Bang, apa hubungan kita akan serumit hubungan Ara dan Bryant?"