Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 33: GADIS NETRA HAZELNUT - BRAM - ALKAN


__ADS_3

"Papa!"


Seruan sang pengganggu sontak membuat Alkan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sebentar lagi pasti akan drama besar karena monster kecilnya berulah. Suara sepatu dengan nada tegas terdengar semakin mendekat.


Ceklek!


"Ada apa, Nak?"


Gadis pemilik manik mata hazelnut menunjuk ke arah Alkan dengan mengeluarkan jurus andalan yaitu puppy eyes yang menggemaskan. "Om Alkan nakal, Pa. Masa aku tanganku dipukul, padahal Bunga cuma mau kasih kopi dari tante Bella."


Laporan Bunga pada pria yang menjadi kerabat jauh kakak iparnya, membuat Alkan harus menahan diri agar tidak terpancing dengan kejahilan yang selalu saja terjadi setiap kali bertemu gadis yang sudah dianggap sebagai putrinya.


"Hay, Bram. Dimana istrimu?" tanya Alkan mengulurkan tangan kanannya yang langsung disambut hangat oleh papa bunga.

__ADS_1


Bunga menghentakkan kaki dengan cebikan bibir kesal. "Ish, Papa gak asyik."


"Nak, jangan bandel deh. Kasian Om Alkan nya, dia masih sibuk kerja. Ayo keluar! Temui bibi dan ibumu!" Bram menasehati putrinya agar berhenti melakukan kenakalan. "Al, sorry. Kamu tahu 'kan bagaimana nakalnya gadis kesayangan ku?"


"It's okay, Bunga juga putriku. Santai saja, oh iya dimana Milea?" tanya Alkan sekali lagi, membuat Bunga terabaikan diantara pertemuan dua pria dewasa itu.


Huft, tahu gini. Mending aku gak teriak panggil papa. Haish, sekarang aku harus apa? Lagian papa ini gak peka banget. Anaknya lagi usaha deketin pujaan hati, malah alhasil dikacangin. ~Bunga ngedumel di dalam hati dengan bibir maju lima senti.


"Milea ada di bawah dengan Bella dan Angkasa. Bagaimana kalau kita gabung ke bawah saja?" saran Bram.


"Kalian duluan, aku akan turun setelah sepuluh menit." celetuk Alkan yang hanya ingin mengulur waktu untuk mengubah rencananya.


"Okay, Bunga ayo, Nak!" ajak Bram melambaikan tangannya agar sang putri ikut keluar dari kamar pria bujang lapuk itu.

__ADS_1


Bunga melirik ke arah Alkan, tapi yang dilirik justru mengalihkan perhatian, dan itu sangat menyebalkan. Tak ingin membuat perdebatan, akhirnya langkah kaki mengikuti langkah sang papa. Namun, begitu keluar dari pintu kamar Alkan. Gadis itu berpura-pura merasakan sakit perut.


"Ughh, Pa. Bella kebelet, boleh ke toilet? Papa turun saja dulu." Bunga memasang wajah miris dengan tangan memegang perut, membuat Bram menggelengkan kepalanya.


"Toilet ada dibawah, Nak. Kamu mau kemana?" tanya Bram.


Bunga menunjuk kamar Alkan. "Om Alkan masih didalam, pasti gk papa kalau aku pinjam toiletnya sebentar. Papay, Pa."


Belum sempat menjawab, putrinya sudah kembali masuk kedalam pintu di sisi kanannya. Helaan nafas dengan tingkah absurd sang putri hanya bisa diiringi langkah kaki menuruni anak tangga. Sementara Bunga yang masuk langsung mengunci pintu kamar Alkan, dan berjalan mengendap-endap seperti pencuri.


Sayup-sayup terdengar suara orang tengah melakukan percakapan, membuat gadis itu mendekati sumber suara. Hingga langkah kakinya terhenti di balik tirai yang menjadi perbatasan antara kamar dan balkon kini di luar kamar itu sebagai tempat bersantai.


"Lakukan saja seperti perintah ku! Pastikan semua sesuai rencana ku, dan ingatlah. Aku tidak menerima kegagalan kalian!" Alkan menatap langit sembari melakukan panggilan pada anak buahnya yang ditugaskan untuk mengawasi siluman cicak.

__ADS_1


"Om?" panggil Bunga, sontak Alkan mematikan panggilannya lalu menetralisir ekspresi wajah dingin dengan ketenangan, kemudian berbalik menatap gadis bermata hazelnut yang ternyata berdiri sembunyi dan hanya menyembulkan kepala saja.


Apa anak ini mendengar semua percakapanku? Apa perlu aku tes? Huft, sebaiknya ku pastikan saja.~batin Alkan sejenak, lalu melambaikan tangannya agar Bunga keluar dari tempat persembunyian dan menghampiri dirinya.


__ADS_2