
"Bos, boleh aku jujur sesuatu." celetuk Ocy dengan suara bimbang, membuat Bryant mendongak karena wanita itu masih stay berdiri di depannya.
Tangan yang saling bertautan dengan sorot mata ragu. Terlihat jelas Ocy sedang dilanda kebingungan, tapi kenapa? Bukankah pernikahan sudah dipastikan hanya tinggal menghitung hari. Lalu, apa ada masalah lain lagi? Bryant mencoba untuk memahami, tetapi hanya bisa menunggu hingga bibir bodyguard itu mau terbuka.
"Sebenarnya, Aku dan Sam ....,"
Ceklek!
"Hay, Bro. Bisa bantu aku pilih cincin," Samuel masuk tanpa mengetuk pintu, sontak saja membuat Ocy berlari ke belakang sofa. Wanita itu tidak ingin, calon suaminya melihat dirinya, sedangkan Bryant tertegun, tetapi tetap berusaha tenang dan santai. Apalagi sahabat yang datang sibuk menatap sebuah buku yang terbuka.
"Sam, lihat jalanmu. Jangan sampai jatuh, lagian ngapain tiba-tiba dateng ke sini tanpa kasih kabar." ujar Bryant mengalihkan perhatian Sam dari buku katalog perhiasan yang sengaja dia pesan.
Sam menurut dan menutup buku katalog itu dengan jari yang masih menyelip, lalu berjalan menghampiri Bryant. Kemudian, pria itu duduk di sebelah kiri. "Bry, lihat. Aku bingung dengan desain yang terlalu banyak. Kenapa mereka tuh, gak kasih satu desain aja, sih."
"Kamu umur berapa, Sam?" tanya Bryant spontan dan langsung mendapatkan tatapan kesal dari sahabatnya, udah tahu lagi pusing karena bingung cari cincin yang pas. Masih aja diajak bercanda. "Gak usah sebel gitu, siniin biar aku bantu. Mending kamu tidur, gih!"
"Tahu aja, kepalaku cenat-cenut. Ada minuman dingin, gak? Haus nih .... Hehe, sorry lupa. Aku ke pantry dulu, minta minuman yang seger." Sam beranjak dari tempat duduknya dan tanpa panjang kali lebar. Pria itu berjalan meninggalkan ruangan Bryant, yah apalagi yang bisa dilakukan sebagai sahabat? Hanya bisa menggelengkan kepala.
Suara pintu yang tertutup, membuat Ocy keluar dari tempat persembunyiannya. Wanita itu bernafas lega karena sang kekasih tidak melihat keberadaan dirinya, "Bos, Aku pamit dulu. Bisa gawat kalau si babang lihat aku disini ....,"
"Santai aja, bantu aku dulu. Cincin mana yang kamu suka?" Bryant mencegah kepergian Ocy dan justru memberi buku katalog yang dia dapatkan dari Sam. "Sam setidaknya akan balik dalam waktu lima belas menit. Anak itu, punya kebiasaan untuk cek beberapa divisi sembari ke pantry. Pilihlah, tapi jangan lihat harganya."
Ocy terkekeh pelan. Dia tahu, bosnya ingin mengajarkan arti menghabiskan uang calon suami, tetapi itu bisa diterima. Lagi pula, pernikahan itu sekali seumur hidup. Apalagi cincin, makna pengikat hubungan yang akan dijaga sampai mati.
Bryant membiarkan Ocy memilih cincin yang akan dijadikan mas kawin nanti. Sementara dirinya, justru sibuk menyandarkan tubuh ke sofa dengan pikiran melayang. Ada sesuatu yang mengusik hatinya. Sejenak, dia merasa bersalah karena selama ini, tidak memberikan apapun untuk Ara.
__ADS_1
Rumah saja hadiah pernikahan dari Om Al. Miris sekali, bahkan disaat melakukan pernikahan. Tidak ada cincin sebagai bukti pernikahan. Yah, selain surat kontrak perjanjian yang dia paksakan pada Ara. Sedangkan bersama Hazel, jangankan perhiasan. Rumah, mobil, dan fasilitas diberikan tanpa berpikir panjang.
Lamunan Bryant seketika menghadirkan rasa pusing di kepalanya, "Udah nemu yang kamu suka, Cy?"
"Aku suka yang ini, simple tapi ukiran bunga dengan daun yang penuh makna. Bagaimana?" tanya Ocy meminta pendapat, membuat Bryant berdiri, lalu ikut melihat pilihan dari sang bodyguard.
"Ini sederhana dan memang terkesan penuh seni. Jika suka, Aku akan sarankan ini pada Sam. Tenang saja," ucap Bryant dengan santai.
Ocy merasa senang karena cincin akan seperti yang diharapkan, "Makasih, Bos. Tunggu dulu, kenapa muka ditekuk? Jangan bilang mau balikan lagi ama Hazel siluman cicak."
Pletak!
Satu sentilan tepat mengenai kening Ocy, membuat wanita itu mendengus sebal, "Sakiit, Bos. Penganiayaan ....,"
"Hmmm. Aku bingung mau kasih Ara apa. Kamu tahu sendiri. Disaat kami melakukan pernikahan siri. Aku hanya memberikan ancaman, bukannya cincin apalagi fasilitas lain." Bryant berkata jujur tanpa ada penghalang, ntah ingin berkeluh kesah pada siapa agar merasa lega hatinya.
"Sabar, Bos. Sekarang semua bisa diperbaiki dengan memulai kehidupan yang baru. Kenapa tidak buat kejutan untuk Ara? Kemarin aku dengar. Bumil mau rasain dinner bareng suami di tepi pantai. Bolehlah, Bos sekalian kasih hadiah cincin apa anting. Itupun, kalau Bos ku ini, mau membahagiakan istri yang lagi hamil."
Pernyataan Ocy memberikan angin segar. Tiba-tiba saja ide cemerlang menyapa menerbitkan senyuman tampan yang sangat jarang diperlihatkan, selama beberapa minggu terakhir, "Thanks buat infonya, sekarang sembunyilah di belakang sofa. Sam pasti balik sebentar lagi. Sebagai gantinya, aku akan minta tambahan hadiah dari calon suamimu itu."
Ingin sekali tertawa, tapi takut dipecat. Jadi lebih baik menjadi anak baik dan penurut. Ocy bergegas kembali bersembunyi di belakang sofa. Meski tersiksa, tetap saja masih lebih baik dan benar saja. Baru saja duduk di belakang sofa. Suara pintu sudah terbuka lagi.
"Bry, apa tadi Hazel kesini? Kenapa semua karyawan sibuk bergunjing tentang ....,"
"Dia kemari, lihat saja. Ponselku sudah hancur, dan dia melemparkan vas itu padaku. Duduklah, kamu ini. Mau menikah malah makin ceroboh, itu minuman mau kamu pegang terus?" Bryant menggelengkan kepala, "Lupakan soal masa lalu, ayo kita sambut masa depan."
__ADS_1
Samuel menaikkan alisnya, "Tumben kamu berpikir jernih, Bry? Ada angin dari mana, nih. Jangan-jangan, pelet Hazel udah gak mempan, ya?"
Bryant langsung menyambar bantal sofa, lalu melemparkan ke Sam. Tetapi, pria itu menghindari seraya menangkap bantal dengan sigap menggunakan tangan kiri. Untung saja minumannya masih aman.
"Kamu pikir, ini zaman apa? Udah modern ini, masih aja percaya pelet. Mau cancel aja nih, pernikahanmu." Bryant mengancam, tetapi hanya untuk sebagai candaan karena dia tidak mungkin menghalangi kebahagiaan sahabatnya sendiri, "Cepatlah duduk! Aku tunjukkan cincin yang tepat untuk kalian berdua."
Kedua pria itu mulai sibuk berdiskusi tentang perhiasan, bahkan Bryant sampai melupakan keberadaan Ocy. Sementara di tempat lain, tatapan mata tajam tertuju pada sepasang pasutri yang berdiri di depan pintu utama. Tentu saja terkejut dengan rasa penasaran yang tinggi melihat pemandangan di depan mata.
"Kalian disini? Pasti ada yang penting, iya 'kan? Ayo, masuk! Kita bicara di dalam, tapi setelah sarapan bersama."
Pasutri itu tetap diam, tetapi menurut dan ikut masuk ke dalam rumah mewah yang cukup untuk satu keluarga besar. Tidak ada keraguan, ataupun rasa bimbang. Keduanya saling menatap memberikan kekuatan satu sama lain.
"Semua akan baik, mari kita lanjutkan."
.
.
.
...🍀🍀🍀⭐⭐🍀🍀🍀⭐⭐🍀🍀🍀⭐⭐🍀🍀🍀...
*Happy reading reader's, Jangan bosen, pokoknya gtu ya 🤭 Takutnya nanti pada keliling tak paham apa alurnya othoor.
Sambil nunggu up karena gk crazy up, kepoin yuk karya temen othoor, semangat itu lebih baik disebarkan 🔥💕*
__ADS_1