
"Apa orang-orang tidak pernah belajar arti menghemat? Makanan sebanyak ini, banyak keluarga yang kelaparan dan disini malah menghamburkan uang demi menyenangkan satu orang saja," gumam Al menghela nafas panjang.
Sepuluh menit kemudian.
Langkah terburu-buru beberapa orang memasuki ruangan tunggu VVIP. Wajah mereka tegang seperti cucian belum disetrika dengan tatapan mata menunduk begitu berhadapan dengan seorang pria yang berdiri menatap keluar jendela. Dimana di luar sana adalah lapangan untuk lepas landas serta pendaratan pesawat.
"Siang, Tuan Alkan," sapa pria berkumis dengan kedua tangan bertautan.
Al mengangkat tangan kanannya, "Pergilah kalian semua! Kecuali orang yang bertanggung jawab atas penyambutan kedatanganku."
Perintah Al membuat beberapa wajah lega, tapi tidak dengan pria berkumis yang semakin merasa gelisah tak menentu. Tanpa menunggu perintah dua kali. Semua yang baru saja masuk, kembali meninggalkan ruangan itu dan menyisakan satu orang saja. Pria yang menjabat sebagai manajer.
"Maaf, Tuan. Apa penyambutan untuk Anda ada yang kurang?" tanya Pak Manager gugup dengan keringat dingin.
"Berapa anggota keluargamu?" tanya Al santai.
__ADS_1
Pak manager mendongak menatap pria di depan sana yang masih stay dengan posisi membelakangi, "Saya tinggal dengan istri dan seorang anak gadis."
"Berapa banyak makanan yang istrimu siapkan setiap harinya?" tanya Al sekali lagi.
Pak manager terdiam untuk berpikir sejenak mengingat apa saja yang selalu disajikan sang istri, hingga menu sarapan tadi pagi oseng tumis kangkung, kerupuk, ayam goreng, dan bakwan terlintas begitu saja. Keheningan yang tercipta, membuat Al berbalik dengan tatapan tenang tanpa amarah. Ekspresi wajah pak manager jelas sibuk berkelana entah sampai kemana.
"Apa makanan sebanyak itu, disajikan untuk satu orang saja. Kamu anggap wajar?" Al bertanya dengan tatapan serius.
Sontak saja pak manager menyadari kesalahannya. Jika dipikirkan lagi, memang benar tidak wajar. Makanan yang cukup untuk sepuluh orang hanya diberikan khusus untuk satu orang. Ingin rasanya membela diri, tetapi ia sadar kesalahan ada pada pekerjaannya.
Al bisa melihat jika pria berkumis memiliki kesadaran yang tinggi. Masalah tidak perlu lagi diperpanjang, tapi tentu harus memberikan efek jera agar hal serupa tidak terulang lagi. Tiba-tiba sebuah ide muncul di benaknya. Pria itu berjalan menghampiri pak manager di saat yang sama. Suara pesawat semakin mendekat untuk melakukan pendaratan. Begitu juga dengan pemberitahuan dari sistem operasional yang menggema darin speaker di setiap ruangan.
"Berdiri yang benar. Tidak baik membungkuk terlalu lama," kata Al seraya memegang kedua bahu pria berkumis.
Tubuh yang terasa dingin dengan buliran keringat sebesar biji jagung, sedangkan tatapan mata menurut terlihat gentar. Al hanya tersenyum tipis untuk menetralkan keadaan disekitarnya, lalu melepaskan tangannya dari bahu pak manager.
__ADS_1
"Aku memaafkanmu, tapi ada syaratnya," Ucap Al lembut, tapi justru membuat bulu kuduk pak manager berdiri.
Pak manager dengan susah payah meneguk salivanya sendiri, "Aap-aa syaratnya, Tuuan?"
"Syaratnya mudah. Habiskan semua makanan itu dalam waktu setengah jam," Al menjawab tanpa ada keraguan.
Mata membulat tak kuasa menahan rasa terkejutnya. Bagaimana caranya menghabiskan makanan sebanyak itu dalam waktu setengah jam? Perut buncit yang biasa makan banyak pun, tidak mungkin memakan makanan lima belas piring dalam waktu sesingkat itu. Tak peduli makanan seenak apapun. Pasti akan berakhir dengan kekenyangan dan tak sanggup melanjutkan menikmati satu suap makanan lagi.
Lamunan pak manager teralihkan ketika pintu ruangan VVIP tertutup sedikit keras. Yah, Al sudah pergi berlalu meninggalkan dirinya tanpa kata permisi. Hanya helaan nafas dengan tatapan tak kuat tertuju pada meja berisi makanan.
"Niat hati menyenangkan orang besar. Eh, malah apes sendiri. Rezeki, sih, tapi gak gini juga atuh," gumam pak manager sudah merasa kenyang sebelum menikmati satu suap makanan pun.
Sementara itu, Al tengah melambaikan tangan pada segerombolan orang yang baru keluar dari pintu keluar para penumpang pesawat yang baru saja mendarat. Hanya berselang tiga menit. Kini ia berhadapan dengan orang-orang istimewa yang akan memberikan kebahagiaan untuk keluarganya.
"Welcome to Jakarta," Al menyambut dengan senyuman manis, dimana senyuman itu benar-benar menggoda kaum hawa yang melihat pesonanya.
__ADS_1
"Ekhem! Om, inget umur,"