
"Kenapa semua buram?" gumamnya menahan kepalanya yang terasa berputar-putar seperti gasing.
Tubuhnya terhuyung ke belakang. Semakin lama mata terasa berat, meredup, tapi sayup-sayup terdengar suara panggilan yang menghilang bersamaan datangnya kegelapan.
"Astaga, pingsan."
Tanpa memanggil suster, ia menggendong Ara yang pingsan menuju ruangannya. Banyak suster menawarkan bantuan, tapi hanya di abaikan. Langkah kakinya terlalu cepat hingga dalam waktu singkat sampai di depan pintu ruangan dokter Samuel Wijaya.
Muel menahan tubuh Ara dengan satu tangan, seraya membuka pintu ruangan nya dengan tangan satunya lagi. Tanpa kesulitan pintu kaca itu terbuka. "Ck. Kemana sih, si Bry. Istri pingsan aja ampe gak ketahuan. Untung ada aku, kalau gak. Gimana tuh?''
Celotehan Muel sembari membaringkan tubuh Ara ke brankar dengan hati-hati. Bukannya menghubungi Bryant, ia memilih melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Memastikan keadaan istri siri sang sahabat baik-baik saja.
Lima belas menit kemudian.
Ceklek!
"Bro, dimana Ara?" Bryant masuk dengan wajah cemas serta nafas ngos-ngosan, membuat Muel yang duduk di kursi kerja hanya melirik sahabatnya itu dengan sinis.
Tak ingin berdebat, Bryant menghampiri Ara yang terbaring tak sadarkan diri. Tatapan mata terhenti pada pahatan wajah cantik alami, meskipun memucat. Baru ia sadari ternyata sang istri bukan hanya cantik tetapi juga manis. Pikirannya masih terbagi antara pernyataan dokter Kinara dan juga keadaan Ara saat ini. Hingga satu tepukan bahu membuatnya mengalihkan perhatian.
"Bro, kita harus bicara serius." ucap Muel tegas.
Bryant menaikkan satu alisnya, "Katakan!''
"Duduk dulu! Aku tidak mau emosimu mempengaruhi situasi, dan menyebabkan keputusan singkat." pinta Muel seraya membimbing Bryant mengikuti langkah kakinya.
Keduanya memilih duduk di sofa agar lebih relax. Sejenak hanya ada keheningan. Hingga helaan nafas terdengar dari dua pria itu yang kini duduk bersebelahan.
"Bry, apa yang dikatakan dokter Kinara?" tanya Muel mengawali perbincangan.
"Ara mengidap Sindrom Pisikistic Ovarium." jawab Bryant.
Muel mengangguk paham, lalu menggeser posisi tubuhnya menghadap sang sahabat. "Jika kamu ingin melanjutkan program kehamilan. Aku sarankan, tinggallah bersama Ara selama dia hamil nanti. Jangan salah paham, Bry. Kondisi wanita hamil sangat rentan, terlebih ketika seorang wanita khusus masih tetap ingin mempertahankan kehamilan di dalam kondisi yang lemah. Bukan hanya kasih sayang, perhatian, tapi penjagaan dan memastikan semuanya sesuai adalah tanggung jawab seorang suami."
__ADS_1
"Bry, aku bisa berhenti bekerja di rumah sakit untuk sementara waktu, dan fokus dengan istrimu. Hanya saja, untuk menjaga hormon, dan kebutuhan batin selama masa program kehamilan hingga proses persalinan. Pastinya cuma kamu yang berhak, apa kamu paham maksudku?" Muel menghela nafas seraya meletakkan tangan kanannya di pundak kiri Bryant.
"Bagaimana dengan Hazel? Apa aku tunda saja program kehamilan Ara?" Bryant merasa ragu dengan tindakannya kali ini, mau maju salah, mundur pun salah.
Dirinya tidak menyangka jika berpoligami menciptakan masalah yang pelik tanpa di undang. Keputusan menikah lagi saat emosi dengan tujuan mendapatkan keturunan. Justru kini menjadi alasan dilema hatinya. Bukan hanya itu saja. Kini setiap tindakan harus benar-benar di perhitungkan agar tidak berbuat ketidakadilan. Bagaimanapun Hazel dan Ara memiliki status sama yaitu sebagai seorang istri.
Seakan memahami dilema sang sahabat. Muel memeluk Bryant agar pria itu tetap sabar dan kuat menghadapi masalahnya yang pasti rumit. Tidak ada penolakan, justru Bryant membalas pelukan Muel. Keduanya berpelukan sebagai bentuk kasih sayang. Tanpa mereka sadari Ara mulai sadar. Kelopak mata berbulu mata lentik perlahan mulai terbuka.
"Bry, putuskan masa depanmu dalam keadaan tenang. Apapun pilihanmu nanti, aku sebagai sahabat akan selalu support. Sekarang minumlah." Muel menyodorkan segelas air putih yang diterima Bryant.
Bryant meletakkan gelas ke atas meja, lalu menautkan kedua tangannya sembari menatap gelas kosong. Pikirannya tengah bergelut untuk memutuskan masa depan. Satu sisi ada sang istri sah, dan di sisi lain ada sang istri siri. Sementara kenyataan tidak seorang pun tahu tentang pernikahan keduanya. Lalu, bagaimana menghadapi situasi kompleks untuk kedepan nanti?
Andai aku melanjutkan program kehamilan Ara. Apa alasanku pergi dari keluarga ku selama setahun? Tidak mungkin seperti itu, pasti banyak kecurigaan nantinya. Apakah aku harus jujur pada Hazel? Tidak. Aku tidak ingin melukai istriku, dan juga Ara. ~batin Bryant.
"Bry!" panggil Muel mengalihkan perhatian Bryant. "Jangan melamun. Aku disini 'kan? Ceritalah semua dilema mu!"
"Muel, kamu tahu situasi ku. Tidak satupun alasan membenarkan tindakanku. Sekarang aku terjebak, dan tidak ada jalan keluar untuk masalahku. Disini aku bersamanya, dan meninggalkan seseorang disana. Kamu paham maksudku...,"
"Tuan!" panggil Ara setelah mengumpulkan sisa tenaganya, dan merasa sudah cukup mendengarkan percakapan dua pria di depan sana yang duduk di sofa dengan posisi membelakangi dirinya.
"Mana yang sakit? Apa kepalamu pusing? Bagaimana....,"
Ara memegang lengan Bryant, membuat pria itu berhenti memberikan peluru pertanyaan. Tatapan mata saling beradu, "Tuan, tolong jangan buat aku melanggar janjiku. Izinkan aku melahirkan seorang anak untuk Anda. Namun, ini bukan hanya sekedar janji Ayesha Ramadhani akan tetapi sebagai seorang istri Anda. Maka kewajiban ku memberikan seorang keturunan, jika Allah menghendaki menitipkan rezeki mulia itu dalam pangkuan kita. Aku siap melakukan program kehamilan."
"Kamu tahu setelah melahirkan anak, maka kita akan bercerai. Kenapa kamu masih ingin melanjutkannya?" tanya Bryant menatap Ara serius.
"Aku ingat semuanya, Tuan. Bagaimanapun situasi pernikahan kita. Kenyataannya Anda adalah suami sekaligus imam ku saat ini, dan aku hanya ingin berbakti sebagai seorang istri. Mungkin dulu aku tidak melakukan kewajiban ku sebaik mungkin, hingga dia berpaling mengkhianati ku." Ara mengalihkan wajahnya menatap nakas.
Pengakuan Ara, membuat Muel menahan diri untuk tidak bertanya. Meskipun jujur kisah istri siri sahabatnya itu masih abu-abu baginya, sedangkan Bryant merasakan sesak di dada. Niat tulus Ara seperti pisau tajam yang menguliti raga tanpa tetesan darah.
Kenapa kamu sebaik ini, Ara? Pantaskah aku memperlakukanmu sebagai pencetak anak? Disini aku hanya berpikir mendapatkan keturunan, lalu semuanya akan berakhir di antara. Sementara kamu berpikir kewajiban dan hak seorang suami istri dalam hubungan pernikahan. Aku ini pria macam apa? Ya Allah maafkan hamba mu yang khilaf ini, bimbinglah hamba ke jalan yang benar. ~batin Bryant dengan tatapan mata lebih dalam menjelajahi lautan manik mata istri sirinya.
Kebisuan Bryant, membuat Ara menggoyangkan lengan pria itu agar mengatakan sesuatu. Tatapan mata mencari jawaban dari Ara menyadarkannya tengah dinanti respon akan pengakuan sang istri siri. Tak ingin menciptakan keraguan dan tekanan emosi yang bisa mempengaruhi kesehatan sang istri, Bryant memantapkan hati untuk memulai langkah pertama demi masa depan serta memutuskan dilema hatinya.
__ADS_1
"Muel, ajukan cuti mu mulai hari ini, dan aku tunggu kamu di lobi! Oh ya, satu lagi minta dokter Kinara untuk cuti juga. No DEBAT!'' putus Bryant dengan anggukan kecil sebagai jawaban persetujuan atas keputusan Ara.
Ara bangun tanpa memperdulikan rasa pusing di kepalanya, lalu menghamburkan diri ke dalam dada bidang suaminya. Pelukan syukur dengan senyuman manis menjadi hadiah bagi Bryant. " Terima kasih, Tuan."
"Hmmm. Panggil aku, Mas!" Jawab Bryant seraya mengusap kepala Ara.
Pemandangan di depannya sangat manis, dan sayang untuk dilewatkan. Namun, sebelum mendapatkan ultimatum. Maka akan lebih baik pergi untuk melakukan perintah Tuan Muda. Langkahnya menjauh dari pasutri yang tanpa hati berpelukan dan menjadikan seorang dokter sebagai nyamuk.
"Muel, bawa dokter Kinara bersamamu!" titah Bryant, membuat langkah sahabatnya terhenti sesaat.
"Bry, boleh aku tahu kenapa dokter itu harus ikut dalam program kehamilan istrimu?" tanya Muel tanpa berbalik.
"Alasanku rahasia. Pergilah!" Jawab Bryant.
Suara hentakan kaki terdengar menjauh dengan tertutupnya pintu setelah dibuka. Biarkan saja dokter muda itu mengalami masalah sedikit. Anggap sebagai balasan karena memberikan senyuman sinis saat dirinya masuk dengan pikiran kalut. Kebersamaan Bryant dan Ara hanya untuk satu tujuan yaitu mendapatkan seorang anak. Berbanding terbalik dengan tujuan seseorang dimana orang itu berjalan melenggang kan kaki santai menuju meja pesanan nomor tiga.
"Mba!" panggil orang itu seraya mengangkat tangan kanannya memanggil seorang pelayan cafe.
Tap!
Tap!
Tap!
"Iya, ada yang bisa saya bantu....,"
"Meja nomor tiga atas nama, tunggu dulu. Aku lupa namanya,"
Pelayan itu sabar menunggu ucapan pengunjung cafenya, tapi dari arah belakang orang itu, ada kibasan tangan sebagai bentuk pengusiran. Tanpa bertanya, langkahnya bergerak dari tempatnya.
"Mba, kenapa malah pergi? Aku masih belum mengingat....,''
"Apa yang mau kamu ingat?"
__ADS_1
Orang itu berbalik untuk melihat siapa gerangan yang bertanya. Meskipun dari suaranya sudah terdengar sangat familiar. Senyuman sinis menyambut hangat dirinya.
"Apa kamu lupa obatmu?"