
Namun, disaat ingin beranjak dari posisinya. Tatapan matanya tak sengaja melihat seorang pria dengan wajah yang familiar yang terpantul dari tong sampah stainless di sudut depan sana, "Apa yang dilakukannya di rumah sakit?"
Muel menoleh kearah dimana pantulan itu berasal. Ternyata benar, Om Al juga ada di rumah sakit itu dan sedang berbincang dengan seorang dokter dengan serius. Posisi yang cukup jauh, membuatnya tidak bisa mendengar apapun. Niat hati ingin berjalan menghampiri, tapi justru terdengar panggilan dari Papa Angkasa.
Mau, tak mau, ia harus kembali untuk melanjutkan pekerjaan yang jauh lebih penting dan untuk urusan Om Al. Pasti ada waktu yang tepat untuk berbicara mencari tahu tentang apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Muel kembali berkumpul bersama Papa Angkasa dan juga Mama Bella, lalu menjelaskan situasi. Dimana dokter yang mereka harapkan tidak menjawab panggilan sama sekali.
"Papa, dan Mama tunggu disini, Muel akan usahakan mencari tahu dimana Dokter Patel Akashi berada. Jika memang berhalangan, kita cari dokter pengganti yang bisa dipercaya."
"Sebenarnya ada satu dokter lagi, tapi mungkin kamu tidak akan suka. Jika bertemu dengan dokter itu," Ujar Papa Angkasa, membuat Muel penasaran, tapi Mama Bella menahan tangan suaminya agar tidak mengatakan dokter lain itu.
Muel menahan nafas, mencoba menenangkan diri karena tiba-tiba saja ada perasaan gelisah yang menyusup ke dalam hati. Ntah kenapa, satu nama terbang melayang di dalam otaknya. Nama terlarang itu kembali hadir. Hal itu tidak wajar, rumah sakit utama meninggalkan banyak kenangan indah penuh luka. Namun, ia tak bisa selalu kembali ke masa lalu.
"Apa dokter itu...,"
"Selamat pagi menjelang siang, Tuan dan Nyonya Angkasa," Seorang wanita bersuara merdu lembut menyapa telinga ketiganya, tapi hanya satu yang merasa terganggu dengan suara itu.
Tidak salah lagi, pemilik suara itu adalah wanita yang menjadi alasannya pergi meninggalkan kota Jakarta. Detakan jantung yang berdegup cepat menahan gemuruh di hati. Bibirnya kelu, tapi masih mencoba untuk tetap bersikap normal. Perubahan ekspresi wajah Muel dan gesture pria itu, cukup jelas bisa dilihat oleh Mama Bella.
"Pagi, Dokter Rachel," Jawab Mama Bella seraya menatap Muel agar pria itu tetap tenang dan tidak perlu merasa khawatir, "Dimana Dokter Patel Akashi?"
Rachel tersenyum tipis, tidak bisa ia pungkiri. Dirinya merindukan sosok yang terdiam di depannya itu, sesekali lirikan matanya mengharap agar mendapatkan tatapan balik. Namun, nihil. Pria itu tetap diam seperti patung, hingga berakhir helaan nafas panjang. Jika bukan hari ini, esok bisa mencoba lagi. Yah, satu hal yang membuat harapan itu bangkit. Kini, ia satu kota lagi dengan Samuel.
"Maaf, Dokter Patel Akashi harus pergi ke luar kota mendadak. Beliau harus menangani kasus emergency di rumah sakit cabang. Jadi, mari kita keruangan pemeriksaan," Rachel menjelaskan tanpa basa-basi, membuat Papa Angkasa mengangguk lalu mendorong kursi roda sang istri.
Samuel juga berniat untuk ikut masuk keruangan pemeriksaan agar tahu hasil akhirnya nanti, tapi gelengan kepala Mama Bella menghentikan langkahnya. Tatapan mata tak tega dengan bibir yang terkunci rapat. Ia tahu, ada kekhawatiran di hati wanita yang menganggap dirinya sebagai anak. Satu hal yang bisa diberikan, menyunggingkan senyuman tipis seraya mengedipkan mata.
__ADS_1
Percakapan bahasa isyarat itu, tak luput dari pandangan Rachel. Sang dokter wanita dengan paras cantik, suara lembut. Ada rasa nyeri di hati, meski ia sadar bahwa apapun yang terjadi saat ini. Semua karena kesalahannya sendiri. Nasi sudah menjadi bubur. Maka, tidak akan bisa berubah menjadi nasi lagi. Jadi, saat ini yang harus dilakukan hanya berusaha meminta maaf.
Akhirnya, keempat orang itu berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Rachel berjalan di depan, lalu Papa Angkasa dan Mama Bella di tengah. Sementara Samuel di belakang. Di saat menyusuri lorong itulah, Muel tidak sengaja melihat Om Al di sebuah ruangan. Satu pemikiran terlintas di hatinya, dan tanpa pikir panjang. Ia melangkah ke lain arah dan memilih menghampiri ruangan dimana Alkan berada.
Tanpa permisi, Muel membuka pintu ruangan itu dan mengamati siapa yang terbaring di atas brankar. Pria dengan perban di kepala, wajahnya tak asing, tapi siapa? Al yang tak sengaja menoleh ke belakang melihat keberadaan Samuel, dan disambut lambaian tangan dengan senyuman.
"Hay, Om. Siapa dia?" tanya Muel yang sudah kembali bersikap santai seperti dipantai, meski wajah masih terlihat ada gurat ketegangan.
Al mengibaskan tangan agar dokter yang ada di ruangan itu keluar meninggalkan mereka. Setelah menunggu beberapa saat, kini hanya ada tiga pria. Dimana dua pria sadar dan satu pria tak sadarkan diri karena koma. Samuel yang memang berprofesi sebagai dokter bisa paham bagaimana situasi pasien itu saat ini, tapi tetap saja pertanyaan tidak akan berubah. Siapa pria itu?
Al yang tahu, seperti apa sifat sahabat Bryant mengajak pria itu untuk duduk bersama di sofa yang tersedia, "Kamu disini karena pekerjaan atau?"
"Aku ada pekerjaan, tapi Om masih belum jawab pertanyaan ku," ucap Muel tak ingin mengalihkan topik pembicaraan bersama pria yang memiliki banyak akal.
Muel menghela nafas, lalu menatap Om Al dengan serius. Ntah kenapa, apapun yang terjadi di keluarga Putra selalu terpaut dan diakhiri oleh pria yang baru melepaskan masa lajang nya itu. Jika boleh jujur, ia juga tahu profesi sampingan seorang Alkan Putra. Hanya saja, diam lebih baik. Itu kata orang bijak, tapi jiwa muda slalu siap meronta untuk menghilangkan dahaga rasa penasaran.
"Om, semalam Hazel datang ke rumah. Wanita itu berusaha untuk membujuk Mama dan Papa. Aku tidak tahu jelas kejadiannya, tapi setelah diberi tahu penjaga. Akhirnya, semua jelas...,"
Samuel menceritakan kronologi peristiwa kedatangan Hazel, membuat Al bisa merangkai setiap peristiwa hingga menjadi tragedi. Kini tidak ada yang menjadi ilusi. Sontak saja, pria itu tersenyum devil. Ada sesuatu yang ia pikirkan, tapi tidak seorangpun akan tahu. Tiba-tiba, ada yang mengguncang bahunya.
"Om!" panggil Muel.
"Relax, Boy. Aku hanya memikirkan pekerjaan di kantor. Apa Bryant bisa menyelesaikan semua tugas yang tersisa?" tanya Om Al mengalihkan perhatian Samuel.
Muel mendengus sebal, tapi percuma juga mendebat Om Al. Bagaimanapun seorang Alkan, nyatanya hanya dia yang siap mengorbankan segalanya demi kebahagiaan keluarga. Kesetiaan yang tidak bisa diragukan lagi, bayangkan saja. Disaat banyak orang yang patah hati ingin bunuh diri. Justru, pria itu sibuk mengejar mimpi membesarkan perusahaan agar menjadi nomor satu.
__ADS_1
Tok!
Tok!
Tok!
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Muel dan Om Al, hingga pintu terbuka dan seseorang masuk ke dalam ruangan. Raut wajah pucat, tapi tetap bersikap tegap. Jika diperhatikan, orang itu pasti sudah terlatih untuk selalu bersikap siap siaga. Macem anak pramuka ya, yah seperti itu. Jangan bayangin macem dihukum berdiri di depan hiu, ya.
"Muel, bisa tinggalkan kami berdua."
...----------------...
RACHEL
*Pagi, Guy's. Mulai hari ini, si othoor CRAZY UP 😃😃😋😊😊.
Mohon dukungannya ya, biar semakin semangat dan bisa ngalahin tantangan selama seminggu. 🔛🔥
STAY TUNED, KASIH JEJAK TIAP BAB YA 👉👈
🥺*
...----------------...
__ADS_1