
'Eh, gak. Aku bisa makan sendiri, duduk lagi. Aku...,"
Tanpa meminta persetujuan, Ara mengambil alih sendok dari tangan Ocy, lalu mulai menyendok makanan, kemudian disodorkan agar kekasih kakaknya mau disuapi. Tindakan itu, membuat Muel menghela nafas lega. Mungkin dirinya terlalu keras, atau jangan-jangan. Mungkinkah, Ocy masih memikirkan perkataan yang kemarin? Apapun itu, pasti akan ia cari tahu.
Sesi sarapan berakhir dengan kebersamaan. Akan tetapi, kini menyisakan tanda tanya di hati pria yang merupakan kekasih Ocy. Tiba-tiba, ingatan tentang kemarin siang kembali lagi. Di mana ia dan Ocy sempat memperbincangkan tentang hubungan yang mereka jalani. Sebenarnya semua baik-baik saja, tapi wanita itu merasa tidak pantas menjadi kekasih seorang dokter. Apalagi mantan tunangan Muel juga seorang dokter.
Pernyataan yang mengejutkan dari Ocy, membuat Muel berusaha sebaik mungkin meyakinkan sang kekasih. Berharap tetap mempertahankan hubungan mereka. Meskipun nanti terdapat banyak masalah atau mungkin tidak ada persetujuan. Bagaimanapun situasi di kemudian hari. Hanya satu pintanya. Dimana sang kekasih mau tetap berada di sisinya dan juga memberi dukungan.
Perdebatan itu, tidak berakhir begitu saja karena satu hal yang masih menyangkut di dalam kepala. Dimana Ocy siap untuk melepaskan diri demi masa depan Samuel agar lebih baik bagi. Pikiran wanita itu seperti terkontaminasi karena berpikir hal di luar dugaan. Ia merasa, jika seorang dokter lebih baik memiliki pasangan dokter juga. Disaat yang sama, tercetus ide bahwa ia akan menjodohkan kekasihnya dengan Kinara.
Ide gila itu langsung ditolak mentah-mentah Muel. Bagaimana bisa berpikir sepicik itu? Selama ini, tidak sekalipun ia memandang wanita dari status sosial. Pada masa remaja saja, ia pernah memiliki kekasih dari anak seorang petani. Jadi, dari mana datangnya hubungan memandang status itu berasal? Sungguh, permintaan Ocy menyisakan sedikit kekecewaan dan juga rasa tak tenang.
Benar keduanya mengalami perdebatan yang cukup hebat, tapi tetap berakhir dengan baik. Semua itu, karena Muel berhasil meluluhkan hati Ocy untuk tetap bertahan dan siap selalu menggenggam tangannya menjalani hubungan mereka. Berharap mereka memang berjodoh dan bisa ke jenjang yang lebih serius. Niat hati ingin langsung mengutarakan tentang pernikahan dan akhirnya tertunda karena situasi yang tidak berpihak pada pria itu.
Mungkin, wanita itu masih berpikir tidak pantas mendapatkan seorang suami seperti dirinya. Akan tetapi, jika posisi keduanya dibalik. Mungkinkah Ocy juga akan melepaskan dirinya karena bukan seorang dokter? Tentu saja tidak karena hubungan itu berdasarkan dari hati dan juga tentang pemahaman dari sepasang kekasih. Bukan dari status sosial dan juga kasta.
__ADS_1
Meninggalkan apa yang menjadi kemelut di dalam pikiran Muel. Kinara membawa Ara dan juga Ocy berpindah ke ruang olahraga untuk melakukan senam hamil, sedangkan Muel memilih untuk menikmati segelas jus. Di saat bersamaan terlihat Bryant menuruni anak tangga. Akan tetapi, penampilan pria itu terlihat sangat santai. Itu berarti, dia tidak akan berangkat ke kantor
"Bry, kamu di rumah. Kenapa? Apa tidak ada rapat penting?" tanya Samuel setelah Bryant ada di hadapannya, ia sedikit tahu jika pria yang menjadi sahabatnya itu memiliki jadwal beberapa rapat penting selama seminggu ke depan dan termasuk harus mengurus tentang sang istri sah.
Bryant masih mengabaikan pertanyaan Samuel, lalu menarik kursi kemudian duduk, "Hari ini dan seterusnya. Aku akan di rumah dari pagi sampai sore karena kamu tahu benar. Pada malam hari, aku harus kembali ke mana. Sebelum masalah itu selesai. Bagaimana aku akan tenang? Sementara tentang pekerjaan di kantor bisa kulakukan dari rumah saja."
"Ide yang bagus, tapi sampai kapan kamu melakukan ini? Tidak lelah kah kamu. Aku tidak mau, kamu seperti bola yang di oper kesana-kemari," Pernyataan yang dilontarkan Muel cukup langsung menusuk hati Bryant, tapi pria itu tak ingin ambil pusing karena memang kenyataannya dia tengah terjebak dalam situasi yang rumit, "Sudahlah. Bukankah kamu mengatakan, kita harus melakukan rapat. Jadi, rapat soal apa?"
Bryant mengambil segelas air putih, lalu meneguk nya hingga habis kemudian bangkit dari tempat duduknya, "Ada sesuatu yang harus kita bicarakan. Ayo, kita bicara di ruangan kerja saja. Aku tidak mau ada yang mendengar perbincangan kita."
Pintu kaca hitam, membuat isi dalam ruangan kerja tidak terlihat. Kini kedua pria itu memasuki ruangan, tak lupa mengunci pintu dan juga menyalakan kedap suara. Bryant dan Muel duduk berhadapan dengan tatapan saling terpaut. Tidak hanya satu pria yang tengah menikmati dilema, tapi kedua pria itu sama-sama dalam persimpangan jalan yang bisa menyesatkan. Tidak ada yang memulai perbincangan, seakan masih nyaman dalam diam.
Sementara di ruang olahraga, Ocy memeluk Ara dengan lelehan air mata. Setelah berusaha membujuk dan juga memberikan ancaman. Akhirnya sang bodyguard mau mengungkapkan isi hati dan pikiran, hingga membuat Ara serta Kinara saling pandang dengan tatapan mata khawatir. Ketiga wanita itu tidak bisa melanjutkan treatment olahraga dan justru duduk ber selonjoran di atas matras. Tak jauh berbeda dengan kondisi Muel dan Bryant di ruang kerja.
Dilema yang kompak di dalam rumah itu menjadi berjamaah. Berbeda lagi dengan kepuasan yang terpampang jelas di wajah seorang wanita. Dimana wanita itu bisa kembali memulai bisnisnya setelah sekian lama menunggu, "Cafe ini bisa menjadi sumber penghasilan tambahan. Ternyata tidak sia-sia aku menggadaikan sertifikat rumah itu. Jadi, aku pastikan. Mantan suami ku bertekuk lutut minta kembali padaku.''
__ADS_1
Di saat ia sibuk menatap bangunan lantai dua di salah satu pinggir jalan raya. Tiba-tiba ada orang yang tidak sengaja menyenggol bahunya, sontak saja itu memicu emosinya, "Hey, buta ya!"
Seruan itu hanya menjadi angin lalu, karena orang yang tak sengaja menyenggol sudah menghilang di balik tikungan di depan sana. Namun, disaat ingin melangkahkan kaki untuk menuju ke cafe. Tiba-tiba kepalanya berputar seperti gasing. Rasanya semakin berat dan pemandangan di depan mulai samar. Tubuh wanita itu limbung ke belakang, hingga jatuh kehilangan kesadaran.
Suasana yang sepi, membuat tak seorangpun melihat kejadian itu. Kecuali orang yang bersembunyi di balik dinding. Orang itu bergegas menghampiri si wanita, lalu menggendong sasarannya untuk dibawa ke dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat kejadian. Setelah kembali ke mobil, ia meraih ponsel dan mendial sebuah nomor.
"Bos, aku sudah berhasil membawa wanita itu. Apa tugas selanjutnya?" tanya orang itu seraya melepaskan rambut palsunya.
......................
...----------------...
Reader's tersayang, jangan bosen ya, setiap hari, othoor kasih rekomendasi novel yang bisa menemani kalian di waktu senggang. Yuk kepoin, tinggalkan jejak juga 😁 mari kita sebarkan semangat. Berkat kalian, Author lanjut nulis, loh. 🤭
__ADS_1
...----------------...