
Tiba-tiba saja ada tangan yang melingkar ke perut sixpack nya, "Bunga ....,"
"Diamlah! Biarkan Aku memelukmu sebentar saja."
Ntah kenapa istrinya bersikap begitu posesif. Hanya saja, setelah semua yang terjadi akhir-akhir ini. Sudah pasti Bunga memiliki banyak tekanan pikiran dan batin. Mengingat semua itu, Al melepaskan tangan wanitanya, lalu berbalik. Direngkuhnya tubuh sang istri untuk menikmati dada bidang beraroma menenangkan.
Usapan lembut yang terasa semakin memberi kedamaian. Sungguh rasanya semua masalah yang tengah keduanya alami perlahan membaik. Pelukan itu memberikan energi baru, bahkan rasa nyaman yang akan selalu menjadi mengikat hati.
"Om, maaf soal tadi. Aku hanya tidak ingin Papa dan Mama menyalahkan mu." cicit Bunga, membuat Al membenamkan kecupan hangat ke puncak kepala istrinya.
Sebagai seorang suami hanya bisa mendengar, tetapi sebagai seorang paman sekaligus pemimpin mafia. Tentu sikap Bunga tidak bisa selalu dibenarkan. Orang tua adalah tempat berpulang. Sekali saja, seorang anak mengeraskan suaranya. Pastilah hati orang tua tersayat.
"Ayo lepaskan. Kita duduk bersama." Al mengajak Bunga untuk duduk bersama di atas ranjang dengan bed cover motif bintang imut menggemaskan.
Al meraih tangan Bunga, lalu menatap manik mata hazelnut sang istri. "Bunga, penyataan mu tidak salah, tapi caramu menyampaikan itu salah. Bima dan Milea itu orang tuamu. Apakah kamu bisa menerima, jika hati mereka terluka dan menikmati rasa sedih?"
"Coba bayangkan. Ketika Almaira besar nanti, dan membentakmu. Apakah hati ini, akan tetap baik? Sebagai orang tua, bisa selalu memaafkan. Akan tetapi, bukan berarti duka itu tidak datang menerkam. Apa kamu paham?"
Bunga mengangguk, "Aku paham, dan benar memang sikapku tidak buruk, tapi kenapa perumpamaan yang Om gunakan seperti tengah berburu hewan? Om masih mikirin kerjaan kemarin?"
Satu pernyataan berbalik menjadi pertanyaan. Ntah sengaja atau tidak. Bunga berusaha mengalihkan topik pembicaraan, namun di saat itu pula. Ponsel Al kembali bergetar, membuat pria itu memeriksa benda mati yang menjadi sumber informasi.
"Om, ada apa? Kenapa tegang seperti itu?" tanya Bunga cemas menangkup wajah Al yang mendadak serius dengan bibir pucat.
Al mencoba mengendalikan diri. Tarikan nafas dalam hingga merasa lebih baik, "Tinggal lah bersama orang tuamu beberapa hari ini. Aku akan jemput sehari sebelum pernikahan Samuel dan Ocy. Jangan menatapku dengan kecemasan. Tersenyumlah, semua akan baik. Okay."
"Om, kenapa ....,"
Al tidak ingin mendengarkan penolakan, sontak saja membungkam bibir istrinya dengan kecupan. Pria itu membiarkan Bunga menikmati sentuhannya, benar atau tidak? Gemuruh di hati dengan pikiran yang bercabang. Tetap saja, tangan kekar itu membimbing keduanya untuk berbaring diatas ranjang.
__ADS_1
"Om," bisik Bunga menambah sensasi panas yang menjalar, membuat Al tanpa sungkan menurunkan resleting gaun sang istri.
Suara decakan yang bersahut-sahutan memenuhi kamar tersamarkan dengan iringan lagu yang sangat pas untuk bermesraan. Pagutan panas semakin menurun menjelajahi setiap jengkal kepemilikan. Stempel merah menjadi bukti perjalanan.
Bunga meresapi setiap sentuhan suaminya. Gelenyar aneh yang membius membangkitkan semangat dalam hatinya hingga sesuatu terasa mencoba menerobos pertahanan terakhirnya.
"Ooom, slowly ....,"
Al mengangguk dengan mata berkabut, pria itu mencoba memasukkan bola bisbolnya agar bisa membobol gawang pertahanan Bunga. Meski ini bulan untuk yang pertama. Nyatanya gawang itu masih sempit untuk miliknya yang berukuran jumbo.
Beberapa saat mencoba untuk mengepaskan, setelah merasa masuk sedikit. Al meraih kedua tangan Bunga agar melingkar di punggungnya. Kemudian kembali menyatukan bibir untuk memberikan ketenangan. Di saat saling berebut saliva, satu hentakan berhasil menyatukan keduanya.
Tidak ada suara jeritan berkat bungkaman manis yang semakin menambah kenikmatan. Al melanjutkan perjalanan menjadi seorang pemimpin perang. Pria itu memberikan treatment dengan lembut, perlahan, hingga tubuh istrinya menggeliat.
"Oom, hurry, please." Pinta Bunga memelas.
Tubuh yang kini menjadi miliknya semakin terekspos jelas. Seluruh emosinya melebur dalam candu sang istri. Suara racauan dengan sentuhan manja. Siapa yang tak gila mendapatkan kenikmatan yang tiada tara. Al menghentakkan tubuhnya sesuai ritme.
Sesekali memberikan usapan lembut agar tubuh tegang kembali rilex. Pergulatan panas tanpa mengenal waktu semakin membara hingga semburan benih cinta terbenam sempurna ke dalam rahim yang akan menjadi tempat pelabuhan terakhir.
Bunga tersenyum menatap Al yang berkeringat, tetapi tetap saja tampan menggoda. Meski tubuhnya masih lemas karena tenaga terkuras. Sebagai seorang istri, dirinya puas. Bukan karena menjadi tempat pelampiasan. Semua itu, karena dia percaya. Alkan hanya membutuhkan kebersamaan agar bisa meredam emosi yang terpendam.
"Mandilah, Mas. Aku rela kamu pergi. Ingatlah, Aku ada disini untukmu. Apapun yang kamu lakukan. Kepercayaan ku tidak akan pudar. Sentuhan menjadi bukti, kamu hanya milikku. I love you, Om Al."
Bisikan Bunga, membuat Al tersenyum tulus. Dia memang melampiaskan emosi menjadi pergulatan panas di atas ranjang bersama istrinya. Sungguh ada rasa bersalah, tapi ini lebih baik. Olahraga ranjang melepaskan semua ketegangan yang dia rasakan.
"Aku akan menemanimu sampai tidur. Almaira bahkan tidak terganggu dengan suara merdumu. Ayo pejamkan matamu." Balas Al setengah berbisik, membuat Bunga bersembunyi di bidang dada suaminya dengan semburat merah di kedua pipinya.
Terkadang suami istri tidak selalu menggunakan kata maaf dan terima kasih. Tidak pula dengan memperbincangkan panjang kali lebar. Orang bilang, bahasa tubuh juga cukup. Termasuk olahraga ranjang. Bulan untuk sekedar melampiaskan hasrat, tetapi untuk meredakan emosi.
__ADS_1
Benar saja, Al menunggu hingga istrinya terlelap. Tidak masalah, jika harus membuang waktu selama beberapa jam. Saat ini, tanggung jawabnya memberikan ketenangan pada Bunga. Setelah memastikan helaan nafas teratur dari sang istri. Barulah, pria itu meninggalkan ranjang.
Al tak lupa memakaikan pakaian tidur agar tubuh istrinya tetap terjaga meski tertutup selimut tebal. Setelah menyelesaikan semua, langkahnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara itu, ada sebuah keributan yang membuat banyak orang berkerumun di tempat umum. Kemacetan tak terelakkan. Banyak kendaraan yang harus mengantri seperti tengah menunggu sembako. Dari arah utara, sebuah mobil yang melaju cukup kencang, harus berhenti mendadak. Ketika berbelok, justru tidak bisa lewat.
"Tuan, sepertinya ada masalah di luar. Biar saja cari tahu," lapor supir, dan tanpa menunggu jawaban bergegas keluar meninggalkan mobil.
Tiga menit kemudian, si sopir kembali masuk kedalam mobil. "Tuan, di depan ada keributan yang disebabkan seorang gadis dengan pria yang sepertinya seorang preman di daerah ini. Sebaiknya kita cari jalan lain."
"Aku jalan saja dari sini." Kata pria yang duduk di kursi belakang, pria itu meraih tas kerjanya seraya menyampirkan jas yang selalu enggan dia kenakan.
Keputusan sang majikan, membuat si sopir geleng kepala. Tetapi, tidak mungkin membiarkan tuannya berjalan seorang diri. "Tuan, saya ikut."
.
.
.
.
...🍀💕💕💕🍀🍀🍀💕💕💕🍀...
Sore reader's, sembari menunggu Bab next, yuk kepoin karya temen Othoor. Selalu ingat, semangat itu untuk disebarkan.
🔥
__ADS_1