Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 49: DILEMA BRYANT - SELEMBAR FOTO


__ADS_3

Tekad istri sah Bryant terlambat. Ketika ia menolak melepaskan karirnya, maka saat itu juga suaminya telah pergi meninggalkan tanpa membutuhkan penjelasan lagi.


Bryant meninggalkan rumah dalam kemarahan yang ia pendam. Untung saja kesadarannya masih ada hingga menyetir mobil dengan kecepatan normal. Lalu lalang kendaraan lain di sepanjang perjalanan seperti tak dianggap. Pikiran dan hati masih bertarung menjadi satu. Perdebatan yang tidak nampak itu benar-benar menyiksa batinnya.


"Aaarrrggghhh!" Bryant menghentakkan tangan kirinya ke stir tanpa peduli rasa sakit yang ia rasakan. "Andai aku bisa memilih. Tuhan, apa aku ditakdirkan menjadi pria tak bermoral? Aku tidak pernah berniat memiliki dua istri, tapi lihat! Aku menghancurkan hidup seorang wanita polos."


"Apa yang aku lakukan sudah jelas salah. Kemarahanku menyeret hidup orang lain. Kenapa benang takdir kami bersatu? Jika pada akhirnya hanya akan saling melukai."


"Haruskah aku teruskan pernikahan kedua ku, atau bertahan demi pewaris? Tidak! Aku tidak sanggup menghancurkan kehidupan banyak orang. Aku mencintai istri ku, tapi sekarang dia juga istriku. Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?"


Di tengah gundah gulana Bryant, tiba-tiba saja dari pertigaan seorang pria muncul. Sontak Bryant membanting stir, dan juga mengerem mobilnya dadakan. Mobil yang ia tumpangi berhenti tepat di depan pria yang menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Ceklek!


"Maaf, Pak. Apa Anda baik-baik saja?" tanya Bryant setelah keluar dari mobil, lalu berjalan menghampiri pria yang hampir ditabrak.


Pria itu menurunkan kedua lengannya. Wajah tampan, dengan jambang tak terawat. Sepintas dilihat terlihat keturunan jawa asli. Selembar foto ada di genggaman tangan kanan. Tetapi penampilannya sangat kucel terkesan berkelana tanpa henti. Melihat itu, membuat Bryant kembali ke dalam mobil untuk mengambil sebotol air mineral, dan kembali menemui pria yang ada di depan mobilnya.

__ADS_1


"Ambillah, dan minum!" pinta Bryant mengulurkan botolnya ke pria itu yang langsung diterima.


Tegukan air dalam hitungan detik langsung tandas tak tersisa. Bahkan airnya ikut menetes membasahi baju kucel pria itu, membuat Bryant trenyuh dengan keadaannya. Rasa iba menggerakkan hati.


"Kamu mau kemana, dan mencari siapa? Biar aku antarkan, oh iya namaku Bryant." Ucap Bryant mengulurkan tangan kanannya.


"Makasih buat airnya, tapi aku harus pergi." Jawab Pria itu tak ingin menjabat tangan Bryant.


Bryant tak mempermasalahkan hal itu, lalu menarik tangannya sendiri. "Ayolah, kita seumuran kurasa. Aku juga hampir menabrak mu. Biar aku antar kemana tujuan....,"


"Aku tidak butuh bantuan siapapun!" Pria itu menatap Bryant dalam, lalu pergi berlalu tanpa ingin menerima bantuan pria yang di matanya sok baik.


"Bukankah ini milik pria tadi?" gumamnya seraya mengambil lembaran foto itu, lalu melihat ke arah pria yang ternyata sudah menghilang entah kemana. "Siapa yang dia cari? Coba aku lihat."


Selembar foto yang dibalik perlahan, membuat Bryant menaikkan satu alisnya begitu melihat siapa yang ada di dalam foto. Wajah cantik alami tanpa riasan tengah memeluk seorang pria dibawah sinar rembulan. Senyuman yang memikat terukir sempurna di bibir wanita itu, sinar kebahagiaan jelas tak bisa di pungkiri. Semakin ditatap, foto mesra itu semakin menggetarkan hatinya.


Rasa sesak tiba-tiba saja menghantam memeras hatinya. Ada rasa percaya dan tidak percaya. Apakah benar nyata foto yang kini tergenggam di tangannya? Jika nyata, kenapa foto itu ada di tangan pria tadi? Apakah keduanya memiliki hubungan? Begitu banyak pertanyaan yang datang melintas, lalu menetap ke dalam pikiran. Kesadaran yang tersisa membawa langkahnya kembali ke dalam mobil. Mobil melaju meninggalkan tempat pertemuan dengan pria asing. Perjalanan yang menyisakan lima belas menit dilalui dalam dilema.

__ADS_1


Pintu gerbang di depan terbuka lebar tanpa harus membunyikan klakson. Disaat bersamaan mobil dari dalam mansion juga siap keluar, tetapi sang pengemudi memilih keluar dari dalam mobil karena melihat mobil Bryant. Raut wajahnya terlihat bingung dengan tanda tanya. Hingga Bryant memarkirkan mobil di samping mobilnya. Kemudian keluar dari mobil.


"Bry, kamu pulang?" tanyanya dengan tatapan serius, tapi yang ditanya hanya menyodorkan selembar foto. "Apa?"


"Selidiki! Aku mau semua informasi tanpa ada yang tertinggal." Titah Bryant.


Selembar foto sekali lagi dibalik, membuat tatapan mata tanda tanya memahami apa yang menjadi masalah sang keponakan.


"Buka brankas di kamarmu! Semua informasi sudah ku simpan disana." Jawab Alkan tanpa basa basi.


Jawaban sang paman. Sontak membawa langkah Bryant berlari tanpa permisi memasuki kediamannya.


"Aku harus bertindak cepat membawa Ara ke dalam rumah ini. Jangan sampai pria itu berhasil menemukan istri Bryant dan melakukan sesuatu di luar batas." gumam Alkan seraya kembali memasuki mobilnya.


...----------------...


...🍂🍂🍂🍂...

__ADS_1


Terkadang manusia lupa. Rasa sakit, kecewa itu bukan dari sebuah jalan Nya. Melainkan dari harapan diri sendiri. Kita berusaha, kita bertawakal, dan juga berdoa. Itu adalah kewajiban kita sebagai hamba Nya. Pasrah pada Allah, sebagai bentuk akhir dari Bismillah bahwa kita percaya semua yang Allah tentukan baik untuk kita.


...----------------...


__ADS_2