Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 190: Special Part III


__ADS_3

"Siapkan semuanya. Aku ingin acara ini menjadi saksi nafas terakhir mereka. Paham?"


Panggilan berakhir bersamaan datangnya aroma menyegarkan. Tubuh berbalut handuk yang baru keluar dari kamar mandi. Senyuman menggoda menatap ke arahnya. "My wife, kenapa sepagi ini?"


"Apanya, Om?" tanya balik Bunga pura-pura tak paham dengan tatapan haus yang berpendar dari manik mata suaminya itu.


Reaksi tubuh tak seirama dengan dengan gumaman bibir. Bibir bertanya, tetapi handuk terjatuh begitu saja. Kenakalan dimata, godaan tersembunyi membuat Al menggelengkan kepala. Memiliki istri liar, rasanya setiap hari tahun baru. Ada kembang api yang memberikan kebahagiaan ketika menikmatinya.


"Bunga, cepat pakai pakaianmu. Aku akan mandi." Ujar Al, lalu turun dari ranjang.


Langkahnya berjalan menuju kamar mandi, melewati istrinya begitu saja. Sangat disayangkan. Kode tawaran sang istri diabaikannya. Jika tidak mengingat hari ini, adalah hari penting. Sudah pasti, dia akan memberikan pelajaran pada istrinya itu.


Kepergian Al yang melarikan diri darinya. Sontak saja, ia terkekeh puas. Jarang-jarang bisa menggoda suami sendiri dengan jurus ampuhnya. "Suamiku bisa puasa."


Setiap penghuni kamar tengah melakukan persiapan. Para penata busana juga make up artist yang disewa telah menyebar sesuai dengan jatah pekerjaan masing-masing. Semua anggota keluarga mendapatkan pelayanan terbaik. Apalagi kedua pasangan yang akan melakukan pernikahan hari ini.


Berteman hangatnya sinar mentari. Ara terduduk di kursi khusus yang berputar kesana kemari mengikuti sentuhan tangan sang perias gemulai. Sudah hampir satu jam kurang. Wajah wanita itu mendapatkan sentuhan magic. Begitu juga dengan Ocy yang berada di kamar sebelah.


Hari ini akan menjadi sebuah sejarah. Dimana seluruh keluarga bersatu untuk merayakan dan menyaksikan janji suci yang akan dilangsungkan. Seluruh keluarga menikmati setiap prosesnya, tanpa terkecuali.


Kebahagiaan seluruh anggota keluarga tak mempengaruhi hati seseorang yang sudah membeku. Ia yang berada nan jauh dari tempat yang begitu eksotis. Di ruangan yang sempit dengan ukuran 2 x 3 meter. Televisi dengan ukuran 24 inci telah tersedia di dalam kamarnya.


Alih-alih menikmati sarapan pagi. Tatapan mata terus menatap TV yang mati. Ia menunggu kapan benda persegi itu akan menyala. Setelah tiga hari sebelumnya membaca undangan mewah atas nama Bryant Angkasa Putra bersama calon istrinya. Sesak yang terasa di dada tak mengubah apapun. Dia hanya seorang tawanan.

__ADS_1


Kehidupan itu, begitu miris. Apa yang diharapkan, tak akan mencapai tujuan. Ketika semua hanya tentang hasrat dan kepuasan. Ketika tidak ada lagi namanya ketulusan dan keikhlasan. Bagaimana kebahagiaan itu akan datang?


Ingin mengeluh, tetapi apa yang harus ia keluhkan? semua adalah tanggung jawabnya sendiri hingga kehilangan yang paling berharga. Semua itu, telah berlalu dan saat ini sudah berakhir. Tidak ada lagi orang yang akan mengenal dirinya.


Lamunannya masih terus berkelana, namun tiba-tiba seseorang datang membukakan pintu. Troli dengan penutup kain putih didorong masuk menghasilkan suara derit mencekat. Ternyata tangan kanan pemilik penjara yang datang menemuinya.


"Hey, kenapa bukan pria lagi yang kamu kirim? Apa suaraku kurang kencang?" Ujarnya menatap malas pria yang menatapnya datar.


Zack menarik kain putih yang menutupi pesanan Al untuk tawanan special mereka. Kilauan benda mati yang mengagumkan. Di atas troli ada banyak barang mewah bercampur dengan senjata tajam. Tiga set perhiasan berteman kilatan belati.


"Harta, atau nyawa." Zack melemparkan selembar kertas ke wajah Hazel, "Surat terakhir dari semua klien dan bonus untukmu."


Perlakuan Zack, membuat Hazel terkekeh sinis. Dia tahu, pria itu sama sekali tidak memiliki hati. Akan tetapi, ia ingin mencoba untuk melakukan sesuatu yang bisa menyelamatkan dirinya. Rasa remuk yang mendera terus mengobarkan sisa semangat hidup.


"C!h! Dasar jal@ng." umpat Zack mengusap bibirnya sendiri dengan kasar, tetapi Hazel yang tertawa puas. Padahal wanita itu masih menikmati rasa panas yang menjalar di pipi kirinya. "Wanita sepertimu, tidak pantas untuk hidup."


"Hello, Tuan sok alim. Dunia bukan bekerja karena cinta, tapi bekerja dengan ambisi. Sampai kapan kamu jadi kacung? Apa menunggu rambut beruban? Aku tahu, hidupku menyedihkan." Hazel tersenyum penuh arti, lalu mengambil segelas air, meneguknya hingga tandas.


Wanita itu, mencoba meninggalkan jejak kehidupan dengan memprovokasi Zack. Tujuannya hanya satu, yaitu agar kehidupan keluarga Putra tidak bisa tentram. Namun, ia tidak tahu. Jika Zack adalah tangan kanan yang setia bahkan rela mengorbankan nyawa tanpa diminta.


Setiap kata yang keluar dari mulut Hazel. Justru semakin menguatkan rasa jijik dari dalam diri Zack. Pria itu meraih belati dari atas meja troli, lalu melayang melukis satu sayatan yang bersahutan suara jeritan. "Kegilaan selalu ada batasan."


Hazel meraba wajahnya sendiri. Cairan kental beraroma anyir menusuk indra penciuman. Zack merusak wajah cantiknya. Belati dengan darah yang ada di tangan pria itu, menjelaskan segalanya. Usaha terakhir menjadi kecacatan seumur hidup. Setelah mengakhiri perang mata, pria itu meninggalkan kamar sang tawanan.

__ADS_1


Teriakan yang menggema, tetapi hanya Hazel seorang yang mendengarnya. Ruangan pintu besi itu kedap suara. Penantian dalam duka, berteman luka. Setelah satu jam berlalu. Akhirnya benda persegi di depannya menyala. Terlihat view laut yang begitu indah memanjakan mata.


"Have fun, Hazel Laurent. Hadiah terakhir atas pengkhianatanmu. Enjoy, baby."


.


.


.


.


...πŸ’•πŸƒπŸƒπŸ”šπŸƒπŸƒπŸ’•...


...Pagi READER'S tersayang😍...


...Istri Siri Tuan Bryant...


...Telah mencapai Akhir...


...Stay tuned, untuk Part Ending...


...Happy Reading, Thank's for all SUPPORT...

__ADS_1


...πŸ˜πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜...


__ADS_2