
"Muel, bisa tinggalkan kami berdua."
Samuel bangun, "Ok, Aku juga harus melakukan pekerjaan yang tertunda. Apa nanti Om Al pulang ke rumah?"
"Aku akan pulang, tapi setelah pekerjaan ku selesai dan pertemuan kita ini. Pastikan tidak ada yang tahu."
Samuel mengacungkan jempol menyetujui permintaan Al, lalu melangkahkan kaki meninggalkan ruangan rawat pasien tak dikenal. Begitu pintu tertutup, orang yang baru masuk berjalan menghampiri bosnya dan menyerahkan ponsel yang dikeluarkan dari saku celana. Tanpa ada pembicaraan apapun, selain memeriksa hasil penyelidikan oleh anak buahnya.
Senyuman tersungging di bibir Al, membuat sang anak buah menatap bosnya sambil meringis. Ntah ide apa yang akan tercetus dari pria itu, yang jelas pasti sesuatu yang tidak terbayangkan. Seperti biasa akan selalu ada kejutan tak terduga, dan ia cukup bersiaga untuk mendapatkan perintah baru. Tidak peduli perintah itu berbahaya atau tidak.
Meninggalkan ruangan pasien tak dikenal bersama Alkan dan sang anak buah. Samuel justru berdiri di depan sebuah ruangan dimana tertulis nama Dokter Rachel Amanda. Dimana wanita itu adalah dokter spesialis penyakit dalam. Langkah kaki terasa berat untuk maju dan masuk ke ruangan di depannya itu. Namun, di dalam pasti ada Mama Bella dan Papa Angkasa.
"Huft," Samuel menghela nafas dalam, rasanya begitu berat. Apakah mungkin ia masih belum siap untuk bertemu wanita masa lalunya itu? Jika iya, apakah mungkin masih belum move on, "Bodo amat, aku hanya peduli dengan keluargaku. Ayo, Muel. Kamu sudah move on."
Tangannya memutar knop pintu, baru saja akan mendorong pintu. Tiba-tiba, pintu terbuka lebar dan seseorang terhuyung ke depan karena terkejut melihat dirinya. Gerakan reflek menangkap tubuh wanita itu, membuat semburat rona merah nampak jelas menghiasi kedua pipi Rachel. Tak ingin berlama-lama dalam posisi yang menyesakkan dada, Muel langsung mendorong tubuh sang dokter agar berdiri dengan benar.
"Maaf...,"
__ADS_1
Samuel menulikan telinga, dan memilih berjalan melewati Rachel untuk menghampiri Papa Angkasa dan Mama Bella yang duduk di kursi tunggu. Pria itu, membuat Si Dokter kecewa. Tanpa ia sadari, wanita yang telah diabaikan menitikkan air mata. Kemudian berjalan meninggalkan ruangan dengan langkah tergesa-gesa.
Sebagai seorang wanita, Mama Bella tahu jika Rachel sudah menyesali perbuatannya di masa lalu. Hanya saja, bukan berarti ia akan memberikan kesempatan untuk wanita lain masuk ke dalam hidup putranya. Terlebih suaminya sudah memberikan peringatan, bahwa saat ini Muel sudah siap menikah dan memiliki calon istri.
Beberapa menit sebelum kedatangan Samuel. Disaat Rachel sibuk melakukan pemeriksaan. Papa Angkasa bertanya pada dokter itu tentang perasaan yang dimiliki sang dokter tanpa ada keraguan. Benar saja, jawaban masih mencintai putra angkatnya yang ia dengar. Sontak saja, sebagai seorang ayah. Sebuah kebenaran sekaligus ultimatum ia lontarkan dengan lantang dan tegas.
"Dok, tetaplah di posisimu menjadi dokter istriku. Jangan pernah mendekati putraku. Luka yang kamu goreskan, seperti irisan kaca tajam. Sangat dalam dan sulit diobati. Samuel hidup lebih baik tanpamu dan sebentar lagi akan menikah bersama wanita yang sangat dia cintai. Anggap ini sebagai nasehat atau peringatan."
Rachel menghentikan kegiatannya. Dimana dia tengah mengamati komputer yang menampilkan hasil pemeriksaan Mama Bella, tatapan mata sendu itu tak mampu ia hilangkan, "Tuan, Aku memang salah. Jangankan mendekati Sam, pria yang masih menjadi separuh nafasku saja enggan menatapku, meski hanya sedetik. Aku hanya ingin mendapatkan maafnya, hanya itu saja."
Kurang lebih seperti itu, bahkan karena perbincangan yang di luar topik pemeriksaan itulah. Maka, Rachel memilih untuk meninggalkan ruangan dengan alasan akan menebus resep. Kini, hanya ada Papa Angkasa yang duduk mengusap punggung istrinya. Sementara, sang istri menatap Samuel dengan tatapan begitu dramatis, membuat yang ditatap menyunggingkan senyuman tipis.
"Mama mana bisa marah ama Papa. Kalian itu pasangan yang saling mencintai, dan menjadi motivasi kami. Jadi, jangan berikan contoh yang tidak baik, ya. Oh iya, bagaimana hasil pemeriksaannya?" tanya Samuel setelah memberikan sedikit penjelasan yang membuat pipi Mama Bella merona malu.
"Kita tunggu kedatangan dokter Rachel karena dia pamit untuk menebus resep obat dan meminta kami menunggu di dalam ruangan saja. Tunggu dulu, kamu sendiri dari mana? Seharusnya, auw...,"
Papa Angkasa kembali menikmati rasa cubitan cinta dari istrinya. Bukan hanya itu saja, tatapan mata tajam menusuk siap menerkam. Situasi yang tidak seharusnya dipertanyakan karena harus sadar diri. Wajar saja, jika Samuel memilih untuk menghindari satu ruangan dengan dokter Rachel. Masa lalu menjadi kenangan buruk yang tidak bisa dipisahkan, meski kini kehidupan sudah membaik.
__ADS_1
"Pa, Ma. Apa kalian berpikir, aku masih belum move on dari Rachel?" tanya Muel menatap kedua orang yang ada di depannya bergantian, jelas sekali mata kedua orang tua itu berselimut rasa khawatir dan juga kesedihan.
Disini, ia tahu. Orang-orang yang melihat keterpurukan di masa lalunya. Pasti akan takut dan khawatir. Mereka akan berpikir, jangan sampai peristiwa bertahun-tahun yang lalu kembali terulang. Dimana seorang pemuda berulang kali nekat untuk melakukan percobaan bunuh diri. Namun, usahanya selalu gagal. Samuel yang labil dengan pemikiran dangkal, perlahan menjadi pribadi yang jauh lebih baik.
Masa lalu itu, seperti cambuk api yang membakarnya dalam semangat memperbaiki diri. Dulu adalah masa lalu dan kini adalah kehidupan yang nyata. Tidak ada lagi ruang untuk menyerah dan jatuh seperti orang bodoh. Semua rasa sakit dan pelajaran hidup, semakin mengokohkan iman dan juga rasa percaya dirinya. Perjuangan itu, ditemani dukungan seluruh anggota keluarga Putra.
"Samuel janji, meskipun masa lalu datang. Aku tidak akan jatuh dalam ilusi. Hidupku bukan hanya milikku, tapi milik kalian juga. Jika saat ini, aku berdiri dengan tegak. Maka, semua itu berkat kalian. Lagi pula, hati ini sudah menjadi milik bodyguard cantik nan galak. Persiapkan saja, pernikahan kami. Jadi, singkirkan rasa khawatir dan takut kalian berdua. Okay."
"Nak, apa kamu berbicara tentang Ocy?" tanya Mama Bella yang memang masih belum tahu siapa calon dari Samuel.
Samuel mengangguk, membuat binar mata kebahagiaan nampak nyata. Hal itu bisa dirasakan Mama Bella dan Papa Angkasa. Perbincangan ketiganya cukup jelas dan tidak ada yang di filter, hingga wanita yang berdiri dibalik dinding depan ruangan mengusap linangan air mata yang membasahi pipi. Sungguh, kenyataan yang menusuk telinganya itu menghancurkan harapan terakhir di hati.
Aku terlambat. Satu saja kesempatan, tapi semua sirna. Sebelum aku berperang, peperangan itu sudah menjadi akhir. Apakah aku tidak pantas bersamamu lagi, Sam. Maaf, aku menyesal telah menjadikanmu sebagai batu loncat karirku.~batin Rachel, lalu wanita itu menarik nafas dalam untuk mengembalikan emosinya normal kembali.
...----------------...
...👉KNOWLEDGE👈...
__ADS_1
Dokter spesialis penyakit dalam adalah dokter spesialis organ dalam, seperti jantung, ginjal, hati dan paru-paru. Dokter ini membantu menangani penyakit yang menyerang organ-organ tersebut dan memahami bagaimana organ-orang tersebut berinteraksi.
...----------------...