
"Kamu tunggu disini. Aku akan cari Babang tampan dulu. Pasti ini tidak beres."
Ocy bergegas meninggalkan ruang tamu untuk mencari Samuel. Wanita itu tidak sadar. Jika masa lalu sang bos, juga menjadi masa lalu milik kekasih tampannya. Biarlah, para wanita dari keluarga itu menjadi sosok polos yang harus memulai perjalanan hidup jauh lebih rumit. Sementara di ruang tamu, Rachel menerima tisu dari Ara, lalu menghapus air matanya. Meski, tetap saja lelehan cairan itu enggan untuk berhenti.
Hening dengan banyak tanda tangan. Ketika Ara siap untuk bertanya lagi, tiba-tiba ada tangan yang merengkuh pinggangnya. Aroma parfum yang familiar, membuat wanita itu menoleh ke belakang. Wajah sang suami terlihat tenang, tapi sorot mata tidak berbohong. Ada sesuatu yang disembunyikan, tapi apa dan kenapa? Mungkinkah karena wanita berpakaian kantor yang ada di depannya itu?
"Ara, pergilah ke kamar! Aku ingin membicarakan tentang pekerjaan dengan Rachel," Bryant berbicara lembut tanpa memberikan penekanan kata, lalu membenamkan kecupan di atas kepala sang istri, "Kinara, tolong bawa istriku ke atas!"
Sang dokter yang terdiam bergegas melakukan perintah bosnya. Feelingnya sebagai wanita berkata. Jika situasi tidak sesederhana yang terlihat. Sebagai seorang dokter, ia paham perubahan intonasi suara yang menggambarkan emosi seseorang. Sementara Ara hanya bisa tersenyum tipis seraya menahan semua pertanyaan yang ada di dalam hatinya.
Bryant melepaskan tangannya dari pinggang sang istri, lalu membiarkan Kinara menggenggam tangan Ara. Tatapan matanya hanya mencoba menenangkan dan berkata semua baik-baik saja. Setelah beberapa saat, akhirnya beranjak pergi bersama Kinara meninggalkan ruang tamu. Kini yang tersisa hanya dua insan dengan perasaan yang memanas. Satu sisi ada Rachel dengan semua rasa bersalah dan dilema.
Di sisi lain ada Bryant. Pria itu mengalihkan tatapan mata ke arah belakang, dan tidak sekalipun berusaha melihat Rachel yang berdiri di depannya. Kedua tangannya bersembunyi di balik saku celana, "Apa tujuan kamu ke rumahku?"
Pertanyaan yang jelas dan tidak kasar. Akan tetapi, saat ini kondisi Rachel tengah shock dengan pertemuan mereka. Ditambah lagi, tadi Bryant sudah berkata kasar. Akhirnya wanita itu hanya terdiam dengan air mata yang kembali jatuh membasahi pipi. Pemandangan itu, membuat Bryant muak dan bukannya bersimpati.
"Lo mau apa?! Gue bicara sopan, lo diem," Bryant tak bisa menahan lidahnya sendiri, seumur hidupnya tidak sekalipun bersikap kurang ajar, tapi hari ini. Jiwa yang dulu padam tiba-tiba saja hidup kembali, "KELUAR!"
__ADS_1
Suara bentakan Bryant terdengar begitu keras, bahkan para pelayan yang sibuk bekerja harus menghentikan pekerjaan mereka karena terkejut dan juga takut. Rumah seketika terasa memanas, hingga Muel datang bersama Ocy tepat setelah suara Bryant menggema ke seluruh rumah. Termasuk Rachel, dimana wanita itu langsung menutup kedua kuping dengan tatapan mata membulat sempurna.
Muel berjalan menghampiri Bryant, lalu memberikan tepukan pundak pada sahabatnya itu, sedangkan Ocy memilih untuk berdiri di belakang. Ia cukup paham situasi. Dimana wanita yang ada di depan sang bos. Pasti memiliki masalah yang cukup serius. Jujur saja, selama dia bekerja di keluarga Putra. Tidak sekalipun mendengar suara dari kemarahan tuan muda.
"Bry, emosi ini untuk siapa? Aku baik dan masih hidup. Kenapa menyimpan luka di hati dan ingatanmu? Ayolah, bro. Ini tidak baik untukmu dan untukku juga," Muel mencoba memberikan nasehat dari hati agar sang sahabat mau kembali tenang, ia tahu benar darimana asal bara api yang menyala dari seorang Bryant, "Ikhlaskan. Luka yang kita simpan hanya akan menjadi genggaman duri yang menusuk setiap saat. Kita menjadi saudara, dan aku bersyukur untuk itu. Kendalikan dirimu, Bry."
Bryant memejamkan mata. Benar yang dikatakan Muel. Luka itu menjadi duri, dan hari ini menusuk hati dengan sisa rasa sakit yang luar biasa. Hanya saja tidak seorangpun bisa melihat lukanya, "Sorry, sebaiknya kamu pergi dari rumahku dan jangan pernah menunjukkan wajah pengkhianatanmu itu."
"Bry, tenanglah. Aku akan urus masalah ini," Muel mencoba agar masalah tidak melebar ke masalah baru, lalu ia mengalihkan perhatian ke Rachel. Dimana wanita itu juga mengalami shock karena amarah dari sahabatnya, "Siapa yang menyuruhmu kemari dan untuk apa?"
Penjelasan Rachel, membuat Muel mengangguk paham. Pria itu masih sadar dan sudah mengikhlaskan masa lalu, "Berikan obatnya. Lain kali, tolak saja permintaan dari Dokter Wina. Apapun alasanmu, pastikan jangan menampakkan diri dari keluarga ku. Aku tidak peduli dengan sisa rasa di hati, tapi jangan berpikir aku rela melihat luka yang menggores hati keluarga ku."
Rachel menahan nafas seraya berusaha menjaga gemetar tubuhnya. Tangan yang berusaha membuka tas medis terasa sulit digerakkan. Semua itu, karena saat ini ia telah dikuasai rasa yang bercampur aduk. Meski begitu, baik Samuel atau Bryant tidak sedikitpun peduli. Kedua pria itu terkesan dingin seperti kulkas yang jarang dibuka. Sontak saja, Ocy merasa gemas.
Sang bodyguard berjalan menghampiri ketiga insan yang persis seperti patung hidup. Wanita itu tanpa permisi merebut tas medis si dokter, lalu menarik resleting nya, "Tanganmu tidak akan berguna. Pertama kendalikan dirimu, baru lakukan yang seharusnya. Silahkan."
Perlakuan Ocy menyadarkan Muel. Semua ucapan yang keluar dari mulutnya berarti kekasihnya ikut mendengar. Akan tetapi, kenapa sikap sang kekasih masih begitu tenang. Apakah mungkin masih belum memahami situasi yang terjadi saat ini? Bisa jadi seperti itu. Apalagi perbincangan mereka terlalu banyak dipenuhi teka-teki.
__ADS_1
Apa yang dipikirkan Muel tidak sepenuhnya salah, tapi Ocy memiliki kesimpulan sendiri. Wanita itu berpikir, jika Rachel adalah masa lalu dari Bryant bosnya. Bukan dari masa lalu sang kekasih. Sungguh penilaian yang masuk akal. Semua itu karena sikap dari dua pria itu sendiri. Dimana sang kekasih masih dalam keadaan tenang menghadapi situasi yang menegangkan.
Namun, justru Bryant bersikap over. Seseorang yang memiliki emosi besar, bahkan terkesan tengah murka. Sudah pasti, pria itu tidak baik-baik saja dan alasan dari semua emosi itu adalah wanita di depannya. Dokter Rachel, wanita dengan wajah cantik tetapi pucat pasi. Belum lagi, tubuhnya tidak bisa dikondisikan karena gemetaran. Jujur saja kasian, tapi ia tidak bisa berbuat apapun.
Rachel mengeluarkan sebuah paper bag coklat yang biasa digunakan untuk mengisi beberapa jenis obat sekaligus. Kemudian menyodorkan itu ke Ocy. Tangannya tak sanggup untuk terarah ke Sam, apalagi ke Bryant, "Ini obat atas nama pasien Nona Ayesha Ramadhani. Obat selama satu minggu kedepan dan ada tambahan vitamin yang direkomendasikan oleh Dokter Wina."
"Sudah? Silahkan keluar! Di belakangmu ada pintu. Pergilah!"
...----------------...
......................
Reader's tersayang, jangan bosen ya, setiap hari, othoor kasih rekomendasi novel yang bisa menemani kalian di waktu senggang. Yuk kepoin, tinggalkan jejak juga 😁 mari kita sebarkan semangat. Berkat kalian, Author lanjut nulis, loh. 🤭
......................
__ADS_1