Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 74: CERAMAH SEORANG SUAMI - KELUARGA


__ADS_3

"Teruslah tersenyum seperti ini, aku tidak mau melihat air matamu jatuh. Sekarang kita makan, ok," kata Bryant lembut.


Ara mengangguk dan mama Bella juga ikut tersenyum. Kini, ketiga anggota keluarga Putra duduk bersama untuk sarapan pagi. Sementara di kamar atas, Al masih berusaha membujuk sang istri. Dimana bunga selama beberapa hari ini benar-benar tak ingin mendengarkan dirinya.


"Bunga, ayo bangun karena yang lain sudah menunggu di bawah. Apa kamu tidak mau sarapan bersama?" tanya Al berusaha membujuk sang istri seraya mengusap pipi istrinya yang berpura-pura masih terlelap.


Bunga menghela nafas, "Om, turun saja duluan. Aku akan makan nanti dan biarkan aku tidur lagi."


Jawaban Bunga, membuat Al ikut menghela nafas. Pria itu tak menyangka, jika satu kesalahan bisa membuat sang istri, benar-benar tak menganggapnya ada, "Baiklah lakukan seperti yang kamu inginkan, tapi ingat satu hal. Aku sudah jujur segalanya. Jika kamu memang tidak merasa bahagia bersamaku. Aku akan berbicara dengan orang tuamu kita bisa berpisah."


Pernyataan Al yang tidak ada filter, membuat bunga terbangun karena terkejut. Wanita itu menatap suaminya dengan tatapan nanar, "Apa kamu ini masih waras? Kita ini, baru saja menikah beberapa hari dan kamu mengatakan perpisahan. Apa ini yang disebut pernikahan?"


Al duduk di tepi ranjang, lalu menatap Bunga dengan seksama, "Apa yang kamu mau? Apa aku harus menjelaskan sekali lagi, tentang kehidupan ku. Jika iya, aku akan jelaskan."


"Bunga, sebuah pernikahan adalah hubungan sakral dan aku tidak akan bermain-main dengan hubungan kita. Aku memang masih mencintai Sifani, tapi bukan berarti. Aku ingin kembali padanya, meski seandainya dia masih hidup. Namun, aku harus bertanggung jawab pada kesalahanku yang lalu. Apa kamu paham? Jika kamu tidak paham, aku tidak akan memaksamu."


"Sebelum kita menikah. Bukankah aku sudah bertanya padamu. Apakah kamu siap menikah dengan pria seperti ku? Aku sudah menjelaskan dengan jujur semua yang terjadi dalam hidupku dan dengan lantangnya kamu menjawab setuju. Aku tidak memaksamu, untuk menikah denganku, tapi bukan berarti, aku juga akan melepaskanmu begitu saja. Setelah menikah, kamu menjadi istriku dan tanggung jawabmu kini ada ditanganku."


"Aku akan memberimu pilihan. Apa kamu ingin mengulurkan tanganmu dan menggenggam tanganku, agar aku bisa menjalankan kewajibanku sebagai seorang suami atau kamu ingin melepaskan tanganku agar kamu terbebas dari semua rasa yang saat ini melukaimu?"

__ADS_1


"Aku tahu bagaimana isi hatiku. Aku tidak akan mengatakan, kalau aku sudah mencintaimu karena pada kenyataannya. Aku masih belum mencintaimu sebagaimana seorang suami, tapi jangan pernah ragukan tanggung jawabku. Meskipun aku memiliki banyak tanggung jawab. Kamu juga termasuk orang yang penting dalam hidupku. Bunga, ketika kamu memutuskan untuk menikah denganku. Disaat itu juga, aku mengambil alih tanggung jawab orang tuamu untuk menjagamu."


"Sekarang, lakukan seperti yang ingin kamu lakukan dan pikirkan semua baik-baik. Aku akan memberikan izin. Jika kamu memang ingin pergi dariku, tapi percayalah akan satu hal. Hubungan ini bukan untuk permainan. Aku mungkin, tidak akan secepat kilat mencintaimu, tapi aku akan berusaha untuk menjadi suami yang baik untukmu."


"Istirahatlah dan ketika kamu lapar, turunlah untuk makan. Aku harus pergi untuk melakukan rapat. Jangan lupa jaga dirimu. Selamat pagi istriku," Al bangun, lalu menyambar tas kerja yang ada diatas meja.


Pria itu berjalan meninggalkan kamar, membuat tubuh Bunga bergetar melepaskan air matanya. Kepergian Al, diiringi tatapan sendu sang istri. Bunga tidak menyangka, jika pagi ini, dia akan mendapatkan ceramah panjang kali lebar yang semakin menyesakkan dada, "Iya, aku tahu. Aku terlalu berlebihan marah pada suamiku, tapi aku tak tahu harus bagaimana lagi. Ini sungguh rasanya sangat sakit. Ketika aku mengetahui suamiku menemui mantan kekasihnya, lagi."


Tanpa Bunga sadari. Jika mantan kekasih Al sudah meninggal dunia, bahkan Al yang belum sempat mengatakan kebenaran pada istrinya. Jika Sifani sudah dimakamkan. Pria itu, harus menerima amukan Bunga yang tidak mau mendengarkan penjelasannya lebih jauh lagi. Kini Bunga dalam dilema. Di Dalam hatinya, ia tak bisa memungkiri rasa cinta untuk Al sangatlah besar, tapi cintanya seakan tertutup oleh luka yang menggores begitu dalam.


"Aku harus apa? Aku mencintaimu, tapi sakit sekali rasanya dan aku tidak sanggup menahan rasa ini," Bunga kembali merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah, perasaan, pikiran yang begitu ingin iya istirahatkan.


"Kakakmu, sudah berangkat ke luar kota semalam. Bukannya, kalian yang sudah membicarakan hal ini dua hari lalu, dan sepakat Mas Angkasa yang akan menghandle perusahaan di kota sebelah," Jawab Mama Bella dengan kesibukan mengambilkan makanan untuk sang adik ipar.


"Maafin, Aku, ya, Kak. Aku harus menghandle pekerjaan di sini dan justru Ka Angkasa harus kembali turun tangan untuk melakukan reservasi tempat di kota sebelah," ujar Al dengan tatapan tak enak hati, ia merasa bersalah telah memisahkan kakak iparnya dari sang kakak.


Semua ini terjadi hanya karena ia terlalu banyak pekerjaan, hingga harus melibatkan sang kakak kembali. Padahal sudah jelas, selama setahun terakhir kakaknya tak lagi ingin menghandle perusahaan.


Mama Bella menggelengkan kepala, "Kamu ini, Al. Kita ini keluarga, lagi pula, jika bukan kakakmu. Kamu mau minta bantuan siapa lagi? Aku juga paham, kamu terlalu lelah dan banyak sekali pekerjaannya. Sekarang kamu sudah punya istri dan sudah tugasmu untuk membagi waktu. Buatlah seimbang antara pekerjaan dan juga waktu yang harus kamu berikan untuk Bunga, tapi di mana istrimu? Kenapa bunga tidak ikut turun."

__ADS_1


"Bunga masih istirahat, Ka. Dia terlalu lelah. Nanti, pasti dia akan turun," Al menerima piring dari kakak iparnya, lalu mengalihkan perhatian pada Bryant. Dimana sang keponakan masih setia menemani istrinya untuk menghabiskan sarapan pagi, Bry, apa kamu sudah mau berangkat ke perusahaan atau mau melakukan tugas lainnya, dan tetap di rumah?"


"Hari ini, Aku akan membawa Ara ke rumah sakit. Setelah itu, aku akan pulang dan kembali ke kantor. Apa, Paman tidak apa-apa?" tanya Bryant menjelaskan kegiatannya hari ini, membuat Al mengganggu paham.


"Ara, apa yang kamu rasakan?" tanya Al menatap istri keponakannya dengan tatapan lembut.


Ara mendongak, membalas tatapan sang paman suaminya, "Baik, Om. Cuma..., lupakan saja."


"Bry, apa kamu memarahi Ara?" Om Al bertanya serius, membuat sang keponakan tersedak makanan.


Ara bergegas memberikan segelas air untuk Bryant, agar suaminya berhenti batuk karena tersedak. Mama Bella langsung menepuk tangan adik iparnya, "Kamu ini, mana ada Bryant memarahi Ara."


"Hehehe, canda, Kakak iparku yang cantik," Al meringis, meski tidak sakit tepukan tangan sang kakak ipar, ia hanya ingin mencairkan suasana di ruang makan itu, "Bry, nanti buat temu janji di rumah sakit dengan yang lain! Pastikan jangan sampai ditangani dokter baru lagi."


"Ok, Om. Astagfirullah, Aku lupa dari tadi panggilan tersambung...,"


Sikap Bryant yang pelupa, membuat keluarganya serempak tertawa kecil. Keharmonisan keluarga itu semakin terasa. Apalagi setelah identitas Ara sebagai istri siri tuan muda terbongkar. Disisi lain, langkah yang berjalan terburu-buru menyusuri lorong demi lorong.


Wanita dengan penutup wajah yang rapat, serta kacamata hitamnya. Penampilan wanita itu seperti nyonya besar, membuat orang-orang yang dilewatinya memperhatikan setiap gerak geriknya.

__ADS_1


Dimana, sih, ruangan dokter yang aku cari? Aku tidak tahan lagi memakai pakaian tertutup.~batin wanita itu menggerutu di dalam hati dengan tatapan mata fokus menjadi nama seorang dokter di setiap pintu sepanjang lorong.


__ADS_2