
Tingtong!
Tingtong!
Tingtong!
Suara bel pintu dari pagar depan terdengar begitu jelas. Dimana di luar sana. Seorang wanita berdiri di depan gerbang yang khusus untuk pejalan kaki. Terlihat seperti satpam menghampiri tamu yang terlihat asing, "Maaf, Nona mencari siapa?"
Seorang wanita dengan penampilan kantoran berdiri seraya menatap ponsel. Mungkin dia tengah memeriksa benar atau tidak, alamat yang dituju. Kemudian, kedatangan pak satpam sedikit membawa senyuman lega dari tamu yang tak diundang itu. Langkah kaki berjalan mendekati pak satpam yang sudah berdiri di seberang gerbang.
"Pak, apa benar ini kediaman Nona Ayesha Ramadhani?" tanya si dokter tanpa basa basi, membuat pak satpam bingung.
Pria itu tidak tahu nama lengkap dari nyonya baru, kecuali tuan dan yang lainnya sudah hapal. Jadi, apa nama yang dicari wanita itu ada di dalam rumah sang majikan? Sebelum menjawab, akan lebih baik untuk memastikan terlebih dahulu, "Maaf, Nona cantik. Bapak tidak mengenal nama yang nona sebutkan, tapi tunggu dulu disini. Saya akan panggil Tuan Muda. Permisi."
Pak satpam berlari kecil menuju rumah sang majikan. Pria paruh baya itu terlihat masuk dan menghilang dari pandangan si tamu tak di undang. Beberapa waktu menunggu seraya bermain gawai dan bersandar di depan mobilnya. Ntah apa yang terjadi di dalam rumah mewah itu, tapi yang dilakukan hanya bisa menunggu dalam kesendirian.
Setelah sepuluh menit menanti. Pak satpam kembali keluar dan hanya seorang diri. Pria paruh baya itu tetap saja berlari kecil. Seakan takut terlambat mengejar bus jemputan. Nafas yang ngos-ngosan, tak membuatnya patah semangat. Setelah sampai di depan gerbang, ia bergegas membukakan gerbang yang digunakan khusus untuk mobil. Melihat itu, sang tamu tak diundang mengangguk paham. Jika rumah itu memang alamat yang ia tuju.
Wanita itu kembali masuk ke dalam mobil, lalu menyalakan mesin, kemudian kembali menyetir hanya untuk memindahkan mobil masuk ke halaman sang tuan rumah. Setelah mobil terparkir di tempat seharusnya, ia keluar dan tidak lupa menenteng tas medisnya yang menjadi tujuan mendatangi rumah salah satu pasien teman kerjanya.
__ADS_1
Yah, jika bukan dimintai tolong orang terdekat. Sudah pasti, ia memilih tidur di atas ranjang yang empuk. Lagi pula waktu kerja nya sudah berakhir karena mendapatkan shift malam dan kini pada akhirnya harus menemui pasien sang teman . Dimana temannya itu harus pergi keluar kota untuk membantu operasi dadakan.
Braak!
Suara pintu mobil terdengar cukup keras. Pak satpam menghampiri tamu tuan rumah. Tentu saja setelah menutup gerbang dan menguncinya juga, "Mari, Nona. Saya akan antar ke dalam,"
"Terima kasih, Pak. Maaf telah merepotkan."
Keduanya berjalan bersama menapaki halaman yang cukup luas. Beberapa saat tidak ada percakapan, hingga Pak satpam membukakan pintu, lalu mempersilahkan tamunya untuk masuk dan mengatakan, jika tuan rumah sudah menunggu di ruang tamu. Penjelasan singkat itu, membuat si wanita mengangguk. Kemudian meneruskan langkah kaki untuk menemui keluarga pasien sang teman kerja.
Rumah yang mewah dan pasti termasuk bangunan baru. Sebenarnya, perumahan yang ditempati keluarga pasien sangatlah mahal. Ia tahu benar berapa banyak digit yang harus dikeluarkan. Jika ingin membeli sebuah rumah di perumahan se elite itu. Maka, sudah pasti orang-orang yang berduit saja yang sanggup. Desain yang modern dengan perpaduan nuansa pantai. Semua yang tertangkap netra menjadi inspirasi baru.
Di saat langkah kaki mencapai ruang tamu yang cukup luas dengan sofa putih, meja kaca berbentuk persegi panjang. Beberapa hiasan dinding seperti bunga anggrek dan lukisan pegunungan. Terlihat seorang pria tengah duduk, tapi menghadap ke depan dan yang terlihat dari posisinya hanyalah model rambut belakang serta punggung kokoh.
Raut wajah terkejut Rachel, sama seperti keterkejutan Bryant. Dimana keduanya menjadi terdiam dan saling menatap satu sama lain. Ntah takdir macam apa yang mereka miliki. Kenapa masa lalu hadir di saat kehidupan sudah dipenuhi masalah. Satu hubungan saja belum bisa diakhiri dan hubungan lain terancam kandas, sebelum dimulai.
Seperti sebuah memori yang siap menerjang. Rachel berusaha menahan diri agar kembali sadar ke dunia nyata, tapi tetap saja tidak mengubah apapun. Di depan matanya memang benar Bryant, "Bry...,"
"Loe, ngapain disini? Gue, nggak sudi lihat muka lo, lagi. Apa semua luka masih belum cukup, buat loe?" tanya Bryant menyela ucapan Rachel, tidak ada niat bersikap kasar. Akan tetapi, semua kata keluar begitu saja dari bibirnya.
__ADS_1
Pertanyaan yang dilontarkan Bryant menjadi serpihan kaca yang terbang masuk ke dalam mata. Sakit, dan menusuk. Bukan darah yang mengalir, tapi lelehan air mata tak bisa lagi menunggu untuk tetap bersembunyi. Apa benar, dia tak pantas untuk meminta maaf? Selama ini hanya bisa menghindari kenyataan. Namun, takdir memberikan pertemuan mereka kembali.
Satu hal yang tersisa di antara mereka yaitu kebencian dan kekecewaan sedalam lautan. Rasa itu, memang hanya dirinya yang memulai. Andai saja waktu bisa diputar ulang. Mungkin saja ia akan membuat pilihan yang berbeda. Apalah arti roda waktu? Kenyataannya, semua itu masa lalu. Dimana banyak hati yang terluka hanya karena satu keegoisan hati.
Di saat situasi menegangkan, tiba-tiba Ara datang bersama yang lain. Ketiga wanita itu menghampiri Bryant yang berdiri membelakangi mereka. Ketika tatapan mata Ara juga bertemu seorang wanita dengan wajah sendu tengah menangis. Sontak saja, wanita hamil itu berjalan menghampiri sang suami. Kemudian mengusap lengan pria yang diselimuti amarah.
Ntah kenapa, ia bisa merasakan. Jika keadaan Bryant memang tidak baik. Apakah mungkin karena wanita yang sedang menangis dalam diam? Jika iya, apa yang terjadi dan kenapa seperti ada perang mata yang dingin diantara sang suami dan wanita asing itu? Tak ingin negatif thinking, Ara mencoba tersenyum, lalu membimbing suaminya untuk duduk di sofa. Ia tak lupa memberikan segelas air putih.
Setelah melihat Bryant lebih tenang dengan meneguk segelas air. Barulah, Ara mengalihkan perhatiannya ke arah si wanita asing. Ia menarik beberapa lembar tisu dari atas meja, lalu berjalan menghampiri Rachel, "Aku tidak tahu, ada apa di antara kamu dan suamiku. Akan tetapi, sebagai seorang wanita. Aku tidak suka melihat air mata dari wanita lain. Hapuslah!"
Ara menyodorkan tisu yang tergenggam di tangan kanannya. Wanita itu tidak sadar apa yang telah ia lakukan. Meski begitu, tidak ada yang bisa mengeluh. Bryant pun berusaha menahan diri agar kata-kata kasar tidak keluar lagi. Saat ini, emosinya tak lebih penting dari perasaan sang istri. Jangan sampai karena lepas kontrol. Kesehatan Ara menjadi tidak stabil. Perubahan ekspresi dari pria itu jelas terlihat oleh Ocy dan Kinara.
"Kamu tunggu disini. Aku akan cari Babang tampan dulu. Pasti ini tidak beres."
...----------------...
...****************...
Reader's tersayang, jangan bosen ya, setiap hari, othoor kasih rekomendasi novel yang bisa menemani kalian di waktu senggang. Yuk kepoin, tinggalkan jejak juga 😁 mari kita sebarkan semangat. Berkat kalian, Author lanjut nulis, loh. 🤭
__ADS_1
...****************...