
Pria yang duduk di kursi VVIP langsung bangun, tetapi tangannya meletakkan sebuah kunci kamar hotel ke atas meja. Bartender menganggukkan kepala paham apa keinginan tamunya yang satu itu.
"Saya akan kirimkan pesanan Anda." Ucap bartender, membuat pria itu berjalan meninggalkan tempatnya.
Sang bartender berjalan menghampiri meja panjang. Dimana bartender lainnya juga tengah sibuk bekerja.
"Bang Rocky, mau minuman terbaik satu." Ucap bartender dengan name tag Awan.
Rocky mengacungkan jempol, lalu meraih satu sampanye dengan botol yang berwarna keemasan. Tangannya sangat terampil membuka sampanye itu, bahkan cara menuangkannya sangat profesional. Segelas sampanye berpindah ke nampan milik Awan.
"Wan, siapa tadi?" tanya Bang Rocky.
Awan menoleh kesana kemari untuk memastikan tidak ada yang akan mendengar ucapannya. Lalu mencondongkan tubuhnya ke depan agar lebih dekat dengan posisi Bang Rocky.
"Tamu VVIP memesan wanita meja nomor lima untuk menghabiskan waktu bersama di hotel. Seperti biasa, Bang. Orang kaya pasti menikmati kehidupan." Ucap Awan dengan berbisik.
Rocky terkekeh mendengar penjelasan Awan. Pemuda di depannya itu masih terlalu polos. Meskipun bekerja di club terkenal dengan pemandangan panas setiap detiknya. Tetap saja tidak mengubah kenaifan sang bartender baru itu. Tak ingin ambil pusing, Rocky memilih kembali bekerja.
__ADS_1
"Pergilah! Lakukan pekerjaanmu." Rocky mengibaskan tangannya, membuat Awan sedikit kesal tetapi pria itu tetap melakukan perintah seniornya.
Suara musik dengan dentuman irama yang keras cukup memekakkan telinga. Tentu bukan bagi pecinta clubbing. Ntah bagaimana cara Awan merayu wanita meja nomor lima, hingga dalam hitungan lima belas menit. Wanita dengan langkah lenggang lenggok menyetujui berpindah tempat. Sang bartender bahkan harus mengantarkan wanita itu karena kondisinya memang sudah setengah mabuk.
Clubbing yang berada di lantai teratas. Sementara lantai di bawah area hiburan adalah deretan kamar mewah dengan harga sewa sepuluh juta per malam. Yah tempat Awan berpijak merupakan gedung pencakar langit dengan fasilitas hotel, area hiburan, dan juga beberapa jenis ruangan yang biasa digunakan untuk acara seperti pernikahan, pesta mewah.
Tidak banyak yang hilir mudik di lorong hotel, bahkan lift dalam keadaan kosong. Keduanya menggunakan lift untuk menuju lantai lima belas. Sesuai dengan kartu kamar hotel yang kini ada ditangan sang wanita. Awan harus bersusah payah membantu pelanggan club hingga akhirnya kamar yang dituju ada di depan mata.
Tok!
Tok!
Tok!
"Eh, jangan gerak trus, donk." Awan mulai kesusahan untuk menjaga keseimbangannya, "Haduh, ini kemana sih yang punya kamar?"
"Hadeh, kan ada kartu aksesnya. Amnesia deh aku, pinjam kartunya," gumamnya meraih kartu akses dari tangan wanita yang justru memberikan pelukan erat.
__ADS_1
"Sayang, aku mau lagi...," racau wanita itu dengan tangannya yang nakal mulai meraba dada Awan.
Awan yang terkejut, hampir saja mendorong wanita itu. Untung saja kesadarannya masih ada. Tak berselang lama. Akhirnya pintu kamar hotel terbuka. Pikir Awan sebentar lagi akan terbebas dari godaan, tetapi apa yang pria itu pikirkan adalah salah besar. Cobaan sebagai seorang pria baru saja akan diuji.
Begitu pintu kamar ditutup, dan Awan berusaha membawa wanita cantik memasuki kamar. Tentu saja hanya untuk membantu wanita itu setidaknya duduk di sofa, atau berbaring di ranjang. Namun, tiba-tiba kakinya terasa menyandung sesuatu hingga tubuh tak lagi seimbang dan limbung ke depan.
Bruuug!
"Auuw, **!!!*. Sayaaang, apa yang kamu lakukan. Sakit kepala ku...,"
Awan menggelengkan kepala yang terasa berdenyut. Rasa pening bukan karena membentur lantai, tetapi karena ia harus nyungsep di bukit kembar wanita yang kini terbaring di bawah kungkungan nya. Posisi benar-benar seperti sepasang kekasih tengah memadu kasih. Aroma parfum yang begitu kuat semakin menambah kunang-kunang yang berputar di atas kepalanya.
"Lakukan pekerjaan kalian! Aku akan pergi."
Suara langkah kaki perlahan menjauh meninggalkan kamar pengintaian. Setelah melihat mangsa dan korban masuk ke dalam perangkap. Tugasnya berakhir. Setengah dari pekerjaan telah usai. Kini tugas lain menanti. Lirikan mata menatap jarum arlojinya. Waktu yang tepat untuk melakukan pekerjaan kedua.
"I'm coming,"
__ADS_1