Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 35: ALKAN with BUNGA II


__ADS_3

Tanpa ia sadari, sang pencuri hati sudah melarikan diri meninggalkan kamarnya. "Bunga?"


"Alkan sadar! Mana mungkin semua itu terjadi. Sudahlah, lupakan saja. Mungkin aku hanya berhalusinasi saja." gumam pria itu menenangkan pikiran dengan langkah kaki berjalan meninggalkan kamarnya.


Langkah kakinya menyusuri lantai atas. Sayup-sayup terdengar obrolan ringan dari lantai bawah, membuat pria dewasa itu semakin mempercepat langkah kakinya agar bisa berkumpul bersama yang lain. Sementara di ruang keluarga yang menjadi pusat pertemuan terlihat dua pasang pasutri tengah asyik mengobrol berbagai hal.


"Al! Bisa panggilkan Bunga di dapur?" Bram yang melihat Alkan tak sungkan meminta bantuan, mau tidak mau maka adik tuan rumah hanya mengacungkan jempol dengan langkah kaki berpindah haluan ke sisi kiri tangga.


Alkan mengedarkan pandangan matanya ke seluruh ruangan, dimana ruang makan dan dapur bersebelahan. Hanya saja kenapa tidak ada tanda keberadaan monster kecilnya? Lalu, dimana gadis itu berada? Niat hati ingin memasuki dapur, tapi dari tirai yang bergoyang terlihat Bunga tengah asyik memakan ice cream di pinggir kolam renang.


"Gadis ini, orangtuanya sibuk ngobrol. Lah dia malah sibuk makan ice cream sendirian. Ck. Kelakuan makin dewasa bukannya berubah, malah masih saja sama." Alkan terpaksa menggeser pintu kaca menuju kolam renang, langkahnya sangatlah perlahan tanpa suara sepatu.


Bunga yang asyik memainkan air dengan ayunan kaki seraya menikmati ice cream tiga rasa bertabur topping melimpah, membuat gadis itu melupakan sekitarnya. Hingga tak menyadari ketika Alkan ikut duduk di sampingnya setelah melipat celana panjang.


"Ekhem! Apa kamu tidak takut gemuk?" tanya Alkan santai menatap dalamnya kolam renang.


Bunga menghentikan suapan ice creamnya, lalu melirik ke samping. Dimana pria yang baru saja menerima ciuman pertamanya, duduk tanpa jarak di sebelah. "Uhuk-uhuk....,"

__ADS_1


Tentu saja tindakan Alkan membuat gadis itu tersedak tanpa makanan. Sontak pria dewasa itu menepuk punggung Bunga dengan perasaan. "Kalau makan itu doa dulu! Siapa yang mau rebut ice cream mu? Gak ada 'kan? Udah baikan, belum?"


"Om? Ngapain dimari?" Bunga berusaha menetralkan degup jantungnya, ia cukup paham bagaimana sosok Alkan setelah mengenal selama lima belas tahun sebagai keluarga.


Pria itu bukan type orang yang peka, jangankan paham hal sederhana tentang cinta. Seribu kali digoda pun masih tidak mempan, apalagi yang menggoda hanya gadis kecil seperti dirinya. Sudah pasti dianggap sebagai candaan saja. Pertanyaan Bunga, membuat Alkan menggelengkan kepalanya, lalu kembali fokus ke depan setelah melihat wajah monster kecilnya sudah kembali normal.


"Ih, Om. Nyebelin banget, Bunga tanya selalu saja terabaikan." keluh Bunga kembali menyendok ice cream, kesalnya membuat ia tidak sadar kini bibirnya belepotan sisa ice cream.


Pemandangan itu terlihat dari dalam kolam, membuat Alkan tersenyum tipis. Sejenak menatap pantulan wajah monster kecilnya yang kini mode merajuk. Akan tetapi tatapan mata justru mendadak terpatri pada bibir berlapis ice cream coklat, vanilla. Ingatan akan ciuman di dalam kamar melintas begitu saja. Sontak ia mengalihkan pandangan, lalu memegang kedua bahu bunga.


"Ada apa? Bunga gak mau ngomong ama Om." celetuk Bunga dengan bibir manyun.


"Om?"


Cup!


Deg!

__ADS_1


Detak jantung berdetak tak karuan. Sentuhan yang menyengat menjalar ke seluruh raga, membuat desiran hangat mengalir begitu saja. Bibir kenyal Alkan mengundang emosi monster kecilnya, gadis itu terpaku melupakan kemarahannya. Sentuhan yang selalu diimpikan tak lagi menjadi mimpi semata.


Sesaat keduanya terdiam membiarkan hati bergejolak menikmati deru nafas yang memburu. Hingga Bunga perlahan memejamkan matanya seraya melepaskan ice cream dari tangan, lalu menarik kemeja Alkan. Tindakannya menyadarkan pria dewasa itu akan ciuman yang dia lakukan.


"Maaf," Alkan melepaskan bibirnya dan berniat keluar dari kolam renang, tapi tangan bunga menahannya. "Bunga, aku tidak bisa meneruskan....,"


"Stop! Hari ini biarkan aku yang bicara, dan om hanya mendengarkan!" cegah Bunga sebelum pria itu mengabaikan dirinya lagi.


"....,"


Bunga menarik kemeja Alkan, membuat tubuh keduanya menyatu tanpa jarak. Tatapan mata saling memandang, "Kenapa om selalu saja tidak menganggapku ada? Aku punya hati, sejak sepuluh tahun yang lalu. Aku hanya menanti om mau melirik ku sekali saja, tapi jangankan melirik. Bahkan om selalu memperlakukan aku seperti seorang putri. Sakit hati Bunga."


"Bunga....,"


"Asal om tahu, aku rela menjauhkan diri dari semua cowok di kampus. Kenapa? Aku hanya mau om, bukan pria lain. Kenapa om tidak sadar dengan perasaanku? Apa kurang jelas semua yang kulakukan? Untuk apa sekarang aku mengeluh? Cinta buat om hanya candaan, percuma saja jujur dengan pria batu seperti om." Bunga melepaskan tangannya, membuat tubuh Alkan terdorong ke belakang. "Pergilah! Aku ingin sendiri."


Keseriusan Bunga, justru membuat Alkan terpaku. Setiap keluhan yang dirinya dengar tengah dijabarkan dengan peristiwa selama sepuluh tahun terakhir. Apakah benar dia pria dingin?

__ADS_1


"Om, ngapain masih disini? PERGI!"


Greeb!


__ADS_2