Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 36: KARENA USIA


__ADS_3

Keseriusan Bunga, justru membuat Alkan terpaku. Setiap keluhan yang dirinya dengar tengah dijabarkan dengan peristiwa selama sepuluh tahun terakhir. Apakah benar dia pria dingin?


"Om, ngapain masih disini? PERGI!"


Greeb!


"Hiks... Hiks... Hiks... Om jahat! Hiks."


"Luapkan semua perasaan di hatimu! Aku akan dengarkan." Alkan memeluk Bunga seraya mengusap kepala gadis itu penuh kasih sayang, meskipun di dalam hatinya hanya ada kehampaan.


Tetap saja ia tahu seperti apa Bunga. Gadis itu masih terlalu polos di usianya yang menginjak sembilan belas tahun. Bagaimana bisa ada pemikiran untuk memiliki hubungan dengan pria yang bisa di panggil papa. Bahkan usia terpaut dua puluh lima tahun. Tidak! Orang-orang pasti akan mengatakan sugar baby with sugar daddy.


Tidak ada kata yang keluar dari Bunga, gadis itu masih menangis di dalam pelukan Alkan. Ntah berapa lama, hingga suara deru nafas teratur terdengar, membuat pria dewasa itu memeriksa apa yang terjadi. Pejaman mata sembab, pipi basah dengan bibir sedikit pucat.


"Istirahatlah! Maafkan aku, kamu gadis yang baik. Namun, bukan pria seperti ku yang pantas untukmu. Di luar sana banyak pria yang lebih pantas untuk membuatmu bahagia." gumam Alkan.


Sejenak netra tajam Alkan meredup menatap wajah gadis yang kini terlelap dalam pelukannya. Bukan hanya cantik yang menjadi pesona Bunga, semua yang ada pada gadis itu patut mendapatkan pujian. Termasuk sikap baik hati dan penolong yang menjadikan ia relawan dimana-mana.


Keheningan diantara keduanya, membuat Alkan tak menyadari akan tatapan mata dari balik pintu menuju kolam renang. Dimana bukan hanya sepasang mata, tapi dua pasang mata menatap semua yang terjadi diantara Alkan dan Bunga tanpa berkedip.


Puk!

__ADS_1


"Ayo kita bicarakan ini di dalam saja! Biarkan Alkan menjaga Bunga." ajak Angkasa setelah menepuk pundak Bram.


Bram mengangguk, helaan nafasnya hanya untuk menetralkan perasaan sebagai seorang ayah. Meskipun rasa curiga selama bertahun-tahun, tetap saja menepis kenyataan jika putri tunggalnya mencintai pria yang lebih tua. Andai Alkan seumuran Bryant, sudah pasti beda cerita lagi. Langkah kaki keduanya terdengar serempak. Hingga tatapan dua wanita yang sibuk berbincang teralihkan karena kedatangan Bram dan Angkasa dengan wajah kusut.


"Ada apa? Dimana Bunga?" tanya Milea mencari sosok putri tunggalnya, tapi tidak menemukan gadis bermata hazelnut itu di sekitar sang suami.


"Mas, apa semua baik?" tanya Bella menatap suaminya serius, membuat Angkasa menghampiri sang istri, lalu merebahkan diri di sofa lembut.


Bram memilih duduk di sofa single. Kedua tangannya menutupi wajah, membuat Milea bangun menghampiri sang suami. Kemudian berjongkok seraya meraih tangan pria itu, tatapan keduanya saling memandang. Ada keraguan, ketakutan dan juga kecemasan.


"Mas, ada apa? Jangan buat aku cemas. Apa terjadi sesuatu pada putriku?" Milea menatap Bram dengan rasa takut, kebisuan suaminya semakin menambah rasa cemas di dalam hatinya.


Satu tarikan menghamburkan tubuh ringan wanita itu ke dalam pelukan sang suami. "Bunga mencintai Alkan."


Suara bisikan Bram sangat lirih, tapi sangat jelas terdengar di telinga Milea. Wanita itu masih terdiam mencerna apa yang dikatakan sang suami. Sementara Bella menatap Angkasa dan anggukan kepala menjadi jawaban. Kenyataan akan cinta Bunga untuk Alkan sungguh tidak bisa dipercaya, tapi jika itu benar. Maka rasa khawatir akan masa depan putra kedua keluarga Putra pasti berakhir.


"Pa, bisakah kita nikahkan Bunga dan Alkan?" bisik Mama Bella.


"Biarkan Bram, dan Milea yang putuskan. Kita tahu bagaimana Alkan. Jangan sampai harapan kita justru menghancurkan kehidupan keluarga sendiri." jawab Angkasa menyurutkan harapan sang istri.


Benar yang dikatakan Angkasa. Tidak mungkin demi masa depan Alkan, justru mengorbankan Bunga. Anggap saja cinta gadis itu tulus, tapi bagaimana dengan Alkan? Pria itu masih terjebak akan masa lalu. Satu langkah saja masih belum dilakukan. Cinta untuk Sifani baru saja terbakar dengan sebuah kenyataan pahit. Siapa yang menjamin hubungan baru mengubah dunia menjadi lebih baik?

__ADS_1


"Mas, apa yang kamu katakan itu benar?" tanya Milea setelah melepaskan pelukan, tatapan mata sendu sang suami disertai anggukan kepala. "Apa kamu keberatan jika Bunga menikah dengan Alkan?"


Deg!


"Apa kamu serius? Alkan....,"


"Alkan pria dewasa yang mampu bertanggung jawab. Jangan pandang pria itu sebagai saudara, tapi pandanglah dia sebagai seorang pria. Aku tahu, usianya sangat jauh dari usia Bunga. Orang bilang, jodoh siapa yang tahu? Saat takdir menghantarkan, maka tugas kita merestui. Pikirkan kebahagiaan putri kita. Apa salahnya memilih....,"


"Tidak! Masa depan Bunga masih panjang." Bram menatap tajam istrinya sebagai bentuk menentang, untuk pertama kalinya ia tidak sepaham dengan sang istri.


"Bram! Apa kamu meragukan Alkan?" tanya Bella sedikit meninggikan suaranya, membuat Bram berbalik menatap wanita yang duduk di sofa bersebelahan dengan Angkasa. "Aku tahu kamu mempermasalahkan soal usia Alkan, tapi coba pikirkan hati putrimu. Apakah Bunga keberatan dengan hal yang kamu risaukan?"


"Mas, benar apa yang dikatakan Ka Bella. Selama ini aku diam, tapi tidak hari ini. Asal mas tahu, Bunga menyimpan semua barang pemberian Alkan di tempat khusus. Meskipun itu bungkus ice cream atau hanya sebuah sapu tangan." Milea memeluk tubuh suaminya dari belakang. "Aku hanya ingin melihat senyuman diwajah putriku, dan senyuman itu hadir setiap kali nama Alkan diucapkan. Aku tahu ini terlambat. Jika mungkin izinkan hubungan ini terjalin."


Hening!


Lima belas menit kemudian.


"Siapkan semuanya hari ini juga kita nikahkan mereka!" Bram memejamkan mata setelah memberikan keputusan yang teramat berat untuk hidup putrinya.


"Menikah? Siapa?"

__ADS_1


__ADS_2