
"Perfect," gumam Sam dan Bryant serempak.
Bagaimana tidak terpesona. Ketika dua wanita yang menuruni anak tangga dengan penampilan yang sangat berbeda. Ara menggerai rambut dengan lingkaran kepang kecil bertahta bunga-bunga ala princess, sedangkan gaunnya simple menjuntai panjang berwarna tosca dengan anting kecil jatuh mengenai lehernya. Sementara Ocy, memakai gaun yang kemarin dibelikan Ara dan model rambut diikat menjadi satu keatas dihiasi jepit kupu-kupu berwarna perak.
Sungguh, kedua wanita itu seperti kakak beradik. Meski lengan Ocy terlihat berotot, tapi tidak mengurangi kecantikannya. Bryant dan Sam harus membayar mahal untuk malam ini. Yah, rasanya ingin mengurung wanitanya dan tidak ingin membiarkan seorangpun untuk melihat sang pujaan hati.
Ocy melambaikan tangan di depan wajah Sam, membuat pria itu gelagapan dan berpura-pura seperti cool, "Ayo berangkat. Bukankah sebentar lagi acara dimulai?"
Bryant menatap Ara, lalu mengulurkan tangannya, "Ayo, jangan jalan cepat. Aku tidak mau kamu kelelahan. Sam, siapa yang menyetir?"
"Aku, kalian di kursi belakang saja. Lagian, aku tidak bisa biarkan adikku duduk tanpa bahu untuk bersandar."
Kedua pasangan itu berjalan meninggalkan rumah, membuat Kinara yang baru saja membereskan alat make up nya hanya bisa menggelengkan kepala. Bagaimana tidak? Secara mendadak Ocy meminta bantuan untuk persiapan ke acara pesta. Bukan tanpa sebab. Kekasih dari dokter Sam tidak ingin mempermalukan sang calon suami. Jadi, demi acara pesta. Dia siap berdandan.
Begitulah wanita. Selama mode ingin menyenangkan sang kekasih. Sudah pasti bisa melakukan hal yang tidak disuka sekalipun. Sesekali, bukan setiap kali. Ingat, ya. Semua orang akan lebih baik, jika menjadi diri sendiri. Mau penampilan rapi, atau urakan. Yo wes, jangan gengsi. Apalagi malu, kan yang tahu, siapa diri kita. Ya, diri kita sendiri. Ok.
Suasana Hotel D'Lira begitu ramai. Dimana banyak jenis mobil yang terparkir rapi di tempat yang sudah disediakan pihak hotel. Di lobi ada beberapa ucapan selamat atas pertunangan dari beberapa tamu undangan. Jika ada yang meliput acara itu, pasti cukup menjadi perbincangan selama sehari semalam para ibu-ibu komplek.
"Sam, hadiahnya dimana?" Bryant bertanya begitu mobil terparkir di tempat yang tak jauh dari lobi, sedangkan yang ditanya masih fokus berusaha melepaskan sabuk pengaman yang ternyata macet.
__ADS_1
Ara melihat ke sekitarnya, hingga melihat kotak kado di belakang tempatnya duduk, "Mas, lihat itu, kadonya. Biar aku ambilkan."
Bryant langsung menahan pergerakan Ara, dan mengambil kado. Kemudian memberikan satu ke istrinya, dan satu lagi disodorkan ke Ocy. Setelah semua siap, mereka serempak membuka pintu bersama-sama dari pintu masing-masing. Hembusan angin malam terasa menusuk, membuat Ara sedikit kedinginan. Melihat itu, Bryant bergegas menghampiri sang istri, lalu memeluknya tanpa sungkan.
Kedua pasangan berjalan bersama dan tak lupa membawa kartu undangan sebagai bukti diundang. Seperti biasa, pesta orang-orang sosialita dijaga begitu ketat. Namun, bukan masalah. Toh ada undangan, tapi tiba-tiba Sam melihat sebuah mobil yang sangat ia kenali. Meski begitu, tetap mengabaikan.
Pesta pertunangan yang mereka hadiri. Terlihat cukup tenang dan kondusif, karena tidak ada musik hingar bingar yang memekakkan telinga. Ocy menggandeng lengan Sam, sedangkan Ara selalu dalam pelukan Bryant. Sepertinya, pria satu itu melupakan sesuatu. Apapun yang dia lupakan, biarkan saja. Satu malam ini harus menjadi malam yang bahagia. Bukan begitu, reader's?
"Bry, kamu sudah hafal wajah Darren yang baru 'kan?" tanya Sam sedikit berbisik memastikan agar tidak lupa dengan misi yang mereka emban, sttt. Kedua pria itu sudah merencanakan sesuatu agar pesta semakin menegangkan.
Bryant mengedipkan mata kiri. Jika ada yang melihat, pasti berpikir seorang pria sedang menggoda pria lain. Ara yang sibuk melihat detail dekorasi. Justru tidak memperhatikan langkah kakinya. Tingkat bumil yang penasaran dengan pernak-pernik berkilau yang menghiasi beberapa sudut. Akhirnya menarik perhatian seseorang yang tengah mengamati acara melalui CCTV pribadi.
"Uhuk! Inget, Ka. Sebentar lagi ada gandengan. Jaga mata, jaga hati juga," celetuk seorang pemuda yang sibuk memainkan kancing kemejanya.
Darren menyambar jas, lalu mematikan CCTV dari laptopnya, kemudian beranjak dari tempat duduk yang selama beberapa waktu menemani kesendirian. Langkah kaki berjalan mendekati Denis. Dimana adiknya merentangkan tangan meminta berpelukan. Namun, malam ini, tidak ada mood untuk melakukan kebiasaan mereka berdua.
"Ayo, kita turun. Para tamu sudah datang," Darren melewati Denis begitu saja, membuat adiknya melongo seraya menggelengkan kepala, "Boy! Hurry up."
Dua pria beda usia dengan pesona yang tak bisa terbantahkan. Denis dengan style anak muda, dan Darren yang memilih style santai tanpa niat memakai pakaian yang harus dikenakan saat acara pesta. Nasib dari jas yang didesain khusus berakhir tragis karena di depan kedua orang tuanya. Seragam pertunangan berubah menjadi gosong. Yah, pria itu sengaja membakarnya.
__ADS_1
Ketika para tamu sudah berkumpul. Pintu ballroom terbuka lebar. Semua mata memandang ke satu arah. Dimana keluarga mempelai wanita hadir memasuki tempat acara, lalu disusul pihak mempelai pria, tapi hanya Tuan dan Nyonya Wiratama. Jadi, kemana perginya mempelai pria? Rasa penasaran semua orang terjawab. Ketika suara langkah kaki terdengar dari arah tangga.
"Selamat datang, Tuan Muda keluarga Wiratama. Para tamu undangan yang terhormat. Mari, kita sambut. Tuan Muda Darren Wiratama, bersama Tuan Muda bungsu Denis Wiratama," Sang MC memulai penyambutan dengan suara sumringah, membuat para tamu bertepuk tangan.
Bryant dan Sam saling pandang. Akhirnya, mereka bisa melihat wajah Darren dari jarak yang lebih dekat. Melihat bahasa isyarat kedua pria itu, Ara dan Ocy ikut saling memandang seraya mengangkat kedua bahu karena tidak tahu. Apa yang ada di dalam kepala pasangan mereka. Kedua wanita itu, hanya bisa mengamati dan melihat tanpa harus ikut campur.
Acara pertunangan kedua keluarga pebisnis di mulai. Dimana sang MC mulai membacakan runtutan acara. Di saat itu, Bryant justru sibuk bermain ponsel. Ntah apa yang dilakukan, tapi Ara yang duduk di sebelah suaminya berusaha untuk mengintip. Melihat itu, Sam menggelengkan kepala agar sang adik menjaga sikap.
Mau, tidak mau. Ara melupakan rasa penasarannya. Apalagi saat melihat banyak sekali kue berbentuk lucu di sisi selatan tempat pesta. Jiwa bumil meronta. Apa dengan makan kue, maka anaknya semanis kue? Entahlah. Intinya, kue seperti tangan yang melambai dan ketika melihat kesibukan sang suami. Sam dan Ocy yang ikut menikmati acara memperhatikan acara pertunangan.
Ara pergi diam-diam dan tujuannya hanyalah tertuju pada surga manis. Tidak ada yang menyadari kepergian bumil. Setidaknya untuk saat ini, dan itu cukup menguntungkan bagi Ara. Lihatlah, wanita itu mulai mencicipi sepotong kue dengan topping strawberry merah merona.
"Lezatnya," Ara mengambil kue lain dengan rasa yang berbeda tanpa mempedulikan acara yang menjadi tujuannya.
Sepuluh menit kemudian, Ara merasa kenyang karena menikmati kue dari berbagai rasa. Ingin sekali minum sesuatu yang segar. Di saat itulah, seorang pelayan berjalan menghampirinya. Melihat minuman berwarna merah anggur. Wanita itu mengambil satu gelas, lalu membiarkan si pelayan untuk pergi.
"Baunya aneh. Apa minuman orang kaya seperti ini? Kenapa bukan jus alpukat saja? Kata Ka Sam, buah alpukat bagus untuk ibu hamil. Sudahlah. Haus, jadi minum saja," Ara mencoba meneguk minuman itu, tapi rasanya pahit. Meski tidak sepahit obat, "Hueeek. Minuman apaan, nih?"
Sikap Ara aneh, bukannya berhenti dan meninggalkan minuman itu. Justru diteguk hingga tersisa setengah karena ada tangan yang merebut gelasnya. Ketika berniat untuk memarahi, rasanya kepala berputar-putar. Ntah apa yang salah, tapi ada burung yang terbang memutari kepala.
__ADS_1
Semakin mencoba untuk berbicara. Rasa pusing itu bertambah, hingga kepala terasa berat dan seketika pandangan mata menjadi gelap gulita. Di sisa kesadarannya, Ara merasa ada yang menepuk pipinya dengan suara panggilan yang tidak asing. Suara itu, benar-benar mirip sang pelindung yang menghilang dari kehidupannya.
Pangeran, benarkah? Pasti hanya mimpi.~batin Ara menuju alam bawah sadar.