Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 29: SIFANI YUAN MOE


__ADS_3

"Kenapa harus ada DIA? Mama tidak tega melihat luka dan cinta di mata Alkan, Pa."


Papa Angkasa tak mampu mengucapkan satu patah kata lagi. Siapa yang ingin memiliki cinta tidak lengkap? Seperti kisah cinta adiknya. Kisah yang selalu menenggelamkan Alkan pada kenyataan pahit. Kini hanya doa dan harapan yang selalu dipanjatkan untuk kebahagiaan sang adik.


Sementara pria yang menjadi alasan Mama Bella dan Papa Angkasa bersedih. Justru tengah merebahkan tubuhnya di atas ranjang putih dengan tatapan mata kosong ke atas plafon. Setiap kali matanya berkedip disertai aliran bening dari kedua sudut mata.


"Sifani, aku masih disini menantimu. Apakah penantian panjangku masih tidak cukup? Apa aku harus meninggalkan dunia ini hanya untuk bertemu denganmu, lagi?" gumamnya.


Sifani Yuan Moe adalah satu nama yang masih terukir indah di dasar hati Alkan Putra. Kisah cinta antara dua remaja yang terjadi dua puluh lima tahun lalu, dimana masa-masa perkuliahan mencapai semester terakhir. Pesona seorang Sifani yang anggun dengan kesederhanaannya, membuat putra seorang pengusaha terlena. Cinta pandangan pertama di malam pesta dansa, membuat kedua insan itu memulai kisah cinta tanpa nama.


"Sifani dimana kamu? Masih adakah aku di dalam hidupmu? Apa semua janji kita tak lagi berarti?" Alkan memejamkan matanya dengan mengukir bayangan sosok pujaan hatinya.


Seorang wanita dengan tubuh ideal, rambut hitam lurus sepinggang, bermata abu, bulu mata yang lentik, senyuman manis berhias lesung pipi. Tidak akan ada yang menyangka sosok anggun seperti Sifani ternyata hanyalah seorang mahasiswi beasiswa. Bagaimana wanita itu mampu bergaul dan mendapatkan julukan ratu kampus.

__ADS_1


"Sifani, aku merindukanmu. Apakah kamu lupa semua cinta kita?" Alkan bangun, lalu menatap pantulan wajahnya dari cermin di depannya. "Aku rela melajang karena aku ingin bertanggung jawab atas apa yang ku lakukan. Aku tidak ingin menyentuh wanita lain, bagiku hanya kamu yang layak. Tuhan, selama bertahun-tahun aku berusaha mencari dia, tolong sampaikan rasa rinduku untuknya."


Lelehan cairan bening dari kedua sudut matanya tak mau berhenti, tangannya pun enggan menghapus. "Dimanapun kamu, aku hanya bisa berdoa. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu, tapi bagaimana dengan penyesalan ku? Aku....,"


Tok!


Tok!


Tok!


Alkan menghapus air matanya, dan tak ingin membuat sang kakak khawatir. Ia juga membasuh wajahnya di wastafel.


"Masuk saja!" balas Alkan seraya melemparkan handuk kecil yang baru saja digunakan untuk mengelap wajah.

__ADS_1


Ceklek!


"Kamu masih bekerja, ya? Kalau iya, nanti saja kakak balik lagi." ucap Papa Angkasa.


"Santai aja, Ka. Sejak kapan kakakku memikirkan soal waktu? Ayolah masuk!" Alkan yang berpura-pura memainkan laptop di atas ranjang, memindahkan benda mati itu ke sisi kirinya, lalu menepuk ranjang di depannya agar sang kakak mendekat.


Papa Angkasa masuk, lalu tak lupa menutup pintu kamar Alkan. Setelah itu, barulah ia berjalan menghampiri sang adik. Hanya membutuhkan tujuh langkah untuk mencapai ranjang king size. "Kakak mau bicara serius denganmu, bisa?"


Keduanya saling pandang menjelajahi dalamnya netra mata masing-masing. Beberapa saat hanya ada keheningan di antara kakak beradik itu, membuat perasaan Angkasa bimbang dan ragu. Sikap sang kakak yang terbilang cukup langka, menimbulkan pertanyaan di benak Alkan.


"Ada apa, Ka? Katakan saja terus terang!" Alkan meraih tangan kakaknya agar duduk di depannya.


Papa Angkasa duduk seraya mengambil sesuatu dari saku celananya. "Untukmu, maaf kakak memberikan ini telat. Kakak tidak mau melihatmu hancur, tapi keputusan yang selama ini ku pegang teguh harus runtuh dengan kesetiaanmu pada Sifani."

__ADS_1


Selembar kertas lipat di tangan kanan sang kakak, membuat Alkan menaikkan satu alisnya. "Apa maksud, kakak? Lalu, kertas apa yang kakak pegang?"


"Surat terakhir dari Sifani." jawab Papa Angkasa.


__ADS_2