Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 82: BELAJAR MENCINTAIMU


__ADS_3

Pria itu, bergegas menghampiri Ara, lalu menghapus air mata istrinya, "Ara, kenapa kamu menangis? Bangunlah!"


Usapan lembut yang terasa menyentuh pipi, membuat Ara perlahan membuka kelopak matanya. Wajah tampan dengan tatapan khawatir telah menanti dirinya, menatapnya lembut menenangkan. Rasanya seperti mendapatkan siraman hujan di atas kobaran api di dalam hati. Seperti hembusan angin disaat terik matahari yang menyengat. Rasa itu tidak bisa terkendali. Ia hanya ingin melupakan luka, dan kembali tersenyum.


Tidak ada kata selain menghamburkan diri, memeluk tubuh dengan dada bidang milik suaminya. Semua beban di dalam pikiran, rasa sesak di hati, dan luka yang terajut begitu dalam menggores jiwa. Semua itu direalisasikan melalui air mata yang mengalir dalam diam. Usapan lembut di kepala dengan kecupan hangat terbenam begitu hangat terasa menyentuh ujung kepalanya.


Pasutri itu tidak saling berbicara, tapi pelukan, tangisan dan ketenangan mencapai ketenangan. Ara membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan sang suami, dan Bryant memberikan kenyamanan seorang suami dalam diam. Untuk pertama kali, kamar itu menjadi saksi kebersamaan suami istri yang dilanda begitu banyak pertanyaan tanpa bisa bertanya. Apalagi mengharapkan jawaban.


Beberapa saat kemudian. Sensasi basah di kemeja, membuat Bryant memegang kedua bahu Ara. Lalu, menatap sang istri begitu dalam, "Ara, Aku tidak akan bertanya kenapa kamu menangis. Luka di matamu sudah cukup menjelaskan. Jika, kamu tengah mengingat masa lalumu. Aku hanya berharap, kamu mau bersandar di bahuku dan mengatakan seluruh isi hatimu."


Sejenak, Bryant menjeda ucapannya. Ia ingin membiarkan sang istri mencerna apa yang dirinya katakan. Satu hal pasti, saat ini Ara dalam kondisi tidak bisa berpikir tenang. Semua itu jelas sekali terlihat dari sorot matanya. Ia juga tak ingin memaksa, apalagi satu tindakan salah. Bisa mengakibatkan hal yang tidak bisa dibayangkan. Kini, apapun yang akan dilakukan harus dipikirkan sebelum bertindak.


"Pernikahan kita, Aku akui semua karena kemarahan ku yang tidak terkendali. Aku menjadikanmu istri siri karena ego ku. Aku juga, menjadikanmu pelampiasan hasratku dalam keadaan mabuk. Yah, aku memang bukan pria sejati. Setelah berbuat, justru aku pergi meninggalkanmu dalam luka. Kamu boleh membenciku, bahkan kamu bisa membunuhku. Aku ikhlas, tapi percayalah. Aku berusaha untuk memperbaiki diri."


"Aku ingin hubungan ini menjadi contoh yang baik untuk anak kita nanti. Ara, sebuah hubungan tanpa kejujuran, saling terbuka, pemahaman, dan kepercayaan. Hubungan itu sangat rentan retak, aku ingin belajar mencintaimu. Izinkan aku menjadi sandaranmu. Izinkan aku menjadi tempat keluh kesahmu. Izinkan aku belajar menjadi suami yang baik. Genggamlah tanganku selalu, hiduplah bersamaku."


Bryant mengulurkan tangan kanannya, "Apa kamu mau, memulai hubungan kita dari awal? Ajari aku mencintaimu. Berikan aku kesempatan untuk membahagiakan dirimu, tetap berdiri di sisimu dalam suka dan duka. Ayesha Ramadhani, maukah kamu hidup bersamaku?"

__ADS_1


Setiap kata yang diucapkan Bryant. Bagaikan rintik hujan setelah sekian lama musim kemarau. Sejuk, menenangkan dan juga memberikan kepastian. Tatapan mata serius dengan sinar mata tulus, membuat hati tenggelam dalam rasa berbeda. Namun, hati tidak bisa berbohong. Di sudut terdalam, masih ada rasa takut. Jangan sampai semua yang ia dengar menjadi kabut yang menghilangkan pemandangan sebenarnya.


Ara tersenyum, lalu menghapus sisa air mata yang membasahi pipinya. Kemudian beranjak dari atas ranjang. Langkahnya berjalan menjauhi Bryant dan berhenti di depan jendela. Dimana tirai terbuka, dan menyisakan pemandangan di luar rumah. Ia masih terdiam, hingga jendela itu dibuka. Hembusan angin berebut masuk tanpa permisi. Rambut yang tergerai bebas menari mengikuti arah angin.


"Dulu, Aku percaya setiap kata dari orang yang ku cintai. Aku selalu berdo'a pada Allah. Kebahagiaan dan kebersamaan menjadi milik kami. Tidak ada yang kupercaya selain dia. Rasa cinta, dan segalanya hanya untuk dia. Aku tidak pernah menyesal dengan semua yang menjadi takdirku. Meskipun, kenyataannya. Aku tidak sanggup berdiri, aku berusaha bangkit untuk maju. Sebelum aku memulai, apa yang harus kumulai. Dengarkan isi hatiku dengan kisah lukaku."


Bryant tak ingin membalas apapun. Ia membiarkan sang istri memulai membuka luka yang harus ia terima. Apapun yang akan dirinya dengar. Semoga saja hati dan pikiran mampu menerima dengan lapang dada. Mengingat untuk pertama kali, ia membeli Ara dari rumah bordil karena dijual oleh mantan suaminya sendiri. Sudah pasti, wanita itu memiliki kisah yang lebih menyakitkan.


"Aku, Ayesha Ramadhani putri dari keluarga sederhana pemilik sebuah kebun yang cukup untuk menghidupi keperluan sehari-hari. Kehidupan tanpa orang tua. Aku bisa melihat masa laluku. Dimana seorang gadis periang penuh canda tawa jatuh cinta dengan salah satu pekerja di kebun. Seorang pria dengan penampilan yang berbeda. Sangat alim, sopan dan rajin. Perjalanan singkat. Keduanya menikah, tapi seminggu setelah itu. Perubahan terus terjadi."


"Sejak malam itu, Aku diam dan menutup mataku. Aku mengangap semua yang kulihat dan yang kudengar hanya angin lalu. Aku berusaha keras menjadi istri yang baik. Berpura-pura tersenyum di depannya agar dia tidak menyadari luka di hatiku. Aku terlalu naif, usahaku seperti menggapai awan di langit. Semua sia-sia, hingga akhirnya aku dibuang ditempat kamu menemukanku."


"Aku tahu, semua ini seperti membuka luka lama. Bryant, aku tidak mengharapkan rasa kasihan dari siapapun. Aku juga tidak ingin menjadi beban siapapun, tapi di saat seluruh kehidupan ku hancur. Kamu datang membeli ku dan memberikan pilihan yang sulit. Aku ingin berteriak, tapi percuma. Amarah, emosi, cinta dan air mata. Semua itu, seperti taburan garam diatas lukaku."


Ara terdiam sesaat, lalu berbalik. Tatapan matanya kini menatap sang suami. Dimana Bryant masih duduk di tepi ranjang memejamkan mata dengan lelehan air mata. Ia tak menyangka, pria yang merenggut mahkotanya meneteskan air mata untuknya. Langkah kaki berjalan menghampiri sang suami. Langkah perlahan tanpa keraguan.


"Mas Bryant, air mata itu selalu berharga," Ara mengusap air mata sang suami, tapi menyisakan satu tetes di ujung jarinya, membuat pria itu membuka mata dan kini tatapan mata saling bertemu.

__ADS_1


"Hari ini, Aku jujur dengan kehidupan ku. Satu harapanku, aku ingin berdamai dengan masa lalu. Luka yang kupendam, hari ini ingin kulepaskan. Saat ini, aku tidak sendiri. Aku memiliki suami yang siap menjadi sandaran ku. Aku memiliki seorang kakak yang siap menjadi pelindung ku. Aku memiliki orang tua yang siap mendengarkan keluh kesahku. Aku memiliki teman yang InsyaAllah akan setia dan tulus denganku."


"Mungkin, Allah mengujiku di masa lalu agar aku bertemu kalian semua. Jika, aku mengeluh. Takdir tidak akan berubah. Aku ikhlas melepaskan masa lalu ku, maaf telah membuat mu menangis. Aku Ayesha Ramadhani siap menjalani kehidupan baruku, menjadikanmu tempatku bernaung. Mas Bryant, bukan hanya kamu yang akan belajar mencintai. Aku juga ingin belajar mencintaimu."


Ara mengulurkan tangan kanannya, "Mari kita belajar bersama. Memberikan cinta tanpa pamrih. Berkata jujur tanpa ragu. Tegurlah ketika melakukan kesalahan, dan biarkan takdir Yang Maha Kuasa menjadi akhir pelabuhan doa."


...----------------...


Apalah arti kata, ketika air mata cukup menjadi saksi luka.


Biarlah jejak itu berakhir diujung kerinduan.


Angan yang tak sampai.


Menggenggam asa tanpa rasa.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2