Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 137: SKETSA - DEKAPAN PERPISAHAN


__ADS_3

"Siapa yang membuat sketsa sebagus ini? Aku harus menemukan orangnya."


Denis memasukkan kertas sketsa ke dalam dompetnya, lalu bergegas menyusul teman-temannya. Pemuda itu tak lupa mengambil makanan dan pergi meninggalkan taman. Beberapa langkah kepergiannya, Shi kembali ke taman, tapi tak menemukan barang berharga yang selalu menjadi penyemangat hidupnya.


Shi terlihat panik, bahkan kuku tangan digigit untuk mengurangi rasa cemasnya. Ntah kenapa, jika sketsa yang dia punya hilang. Kehidupan terasa kurang lengkap. Ada ketakutan yang menguasai hatinya, tapi kemana perginya sketsa itu? Setelah sepuluh menit mencari. Tetap saja tidak menemukan apapun. Sementara waktu semakin terbuang sia-sia.


"Sudahlah. Aku harus mencari biaya pengobatan untuk ayah. Besok, saat ke kampus. Aku bisa menggambar lagi. Meskipun harus naik pohon. Apapun akan ku lakukan demi semangat hidupku."


Yashinta memutuskan meninggalkan taman rumah sakit. Dia menyadari kehilangan sketsa yang tergambar di secarik kertas ukuran lima senti kali lima senti. Sungguh, itu sketsa mini yang bisa disembunyikan dimana-mana. Meninggalkan kisah gadis itu dan juga keadaan keluarga Wiratama. Hazel baru saja pulang dengan kecantikan yang menggoda.


Wanita itu masuk kedalam rumah mewahnya yang terasa begitu sunyi. Memang sih, rumahnya besar dan juga wah. Hanya saja, tidak ada kehidupan yang bisa dirasakan. Semua sudut ruangan terlihat mati. Suara hembusan angin saja. Seperti enggan memasuki rumah itu. Sejenak, Hazel mengingat semua masa lalu nya.


"Semua kemewahan dengan fasilitas lengkap. Siapapun, pasti tidak akan menolak," Hazel melemparkan tas ke atas sofa, lalu melepaskan sepatu heelsnya, dan membiarkan tergeletak di lantai begitu saja. Rasa dingin dari keramik menjadi kesadaran tersendiri, "Apa rumah ini memerlukan anak? Huft, kenapa menyedihkan sekali."


"Foto pernikahan yang bagus, tapi kesepian. Tidak ada satu anggota keluarga pun, bahkan tidak ada teman ataupun lawan. Jadi, profesi sebagai model sangat cocok untukku. Teman, minuman, kencan, dan juga uang yang banyak. Semua menjadi berwarna, tapi bagaimana dengan pernikahan ku? Tenang saja, anak di rahim...,"


"Anak siapa?" Suara tanya dari seorang pria yang berdiri di atas tangga, membuat Hazel terkejut dan seketika menoleh ke arah tangga.


Tatapan mata saling beradu. Wajah tenang, tapi dingin menyambut kedatangannya. Hazel tersenyum, meski hatinya memiliki firasat tidak baik. Tetap saja harus berpura-pura polos dan bodoh, "Sayang, kamu dirumah? Kemarilah. Aku sedang mengenang pernikahan kita."

__ADS_1


"Kenapa tidak. Tunggu di tempatmu! Aku akan turun," ujar Bryant menerima ajakan Hazel, meski jawaban tentang anak terabaikan.


Melihat persetujuan suaminya, Hazel bersorak-sorai gembira. Wanita itu berpikir. Jika Bryant masih tidak tahu apapun tentang perselingkuhan dan pengkhianatan yang dia lakukan. Tentu saja, itu berita baik. Saat ini, rasa tidak sabar menunggu sang suami bersanding di sisinya begitu menggebu-gebu. Apalagi senyuman tersungging di bibir wajah pria tampan.


Akhirnya tanpa susah payah. Aku bisa kembali menguasai hati dan juga harta Bryant. Setidaknya, aku tidak perlu bekerja sekeras dulu. Kali ini, akan kupastikan. Bryant hanya milikku.~ ucap Hazel di dalam hati seraya merentangkan kedua tangan menyambut sang suami untuk masuk ke dalam dekapannya.


Bryant benar-benar bersikap baik, manis dan menjadi seorang suami yang dulu mencintai Hazel. Sikapnya sangatlah patut diacungi jempol dan ketika merengkuh tubuh wanitanya. Senyuman tetap tersungging menghiasi wajah, tapi semua berubah dalam hitungan detik. Pelukan semakin erat, membuat Hazel kesusahan bernafas.


Perlakuan suaminya begitu mengejutkan, "Sayang, Aku tidak bisa bernafas. Lepas!"


"Sebentar lagi, aku sangat merindukanmu," balas Bryant tak mengindahkan permintaan Hazel, sontak saja. Wanita itu menepuk dadanya dan sekuat tenaga mendorong tubuhnya, "Ada apa? Aku hanya memeluk...,"


Ungkapan hati Hazel memang benar. Tidak ada suami yang akan menyakiti istrinya. Akan tetapi, semua tergantung dengan bagaimana situasinya bukan? Saat ini, Bryant sudah muak, tapi mencoba menahan diri. Yah, ingin sekali langsung mengusir wanita itu. Namun, dia masih waras. Mengingat masa depan melibatkan Ara. Maka, dia memilih mengambil jalan lain.


"Boleh, Aku tanya satu hal. Apa kamu mencintaiku?" tanya Bryant menatap Hazel serius, membuat wanita itu tercekat.


Setiap waktu, pertanyaan itu bisa dijawab dengan mudah, tapi hari ini. Kenapa terasa sulit? Hati tidak bisa berbohong. Seperti itulah kenyataannya. Cinta bukan ada diantara dia dan Bryant karena cintanya ada pada pria lain. Meskipun, sekarang niat hati hanya ingin bersama dengan sang suami.


Keheningan Hazel adalah jawaban tanpa sepatah kata. Bryant mengambil sesuatu dari balik punggungnya, lalu menyodorkan ke Hazel, "Ambillah! Kompensasi dari perceraian kita. Aku tidak membutuhkan penjelasan apapun. Ah, ya. Rumah ini, ambil saja. Aku sedekahkan untukmu. Hazel Bryant Angkasa Putra. Mulai detik ini, namamu akan kembali menjadi Hazel Vincent. Congrats."

__ADS_1


Djuuaar!


"Bry? No. Pasti kamu bercanda, iya 'kan? Please, jangan bercanda seperti ini...,"


Wajah Hazel langsung pucat pasi dengan bibir berkedut. Tatapan matanya terkejut dengan kabut air yang siap meluncur. Jelas saja, wanita itu shock. Namun, Bryant tidak peduli lagi. Senyuman yang tadi mengembang manis, kini menghilang begitu saja. Pria itu hanya memberikan balasan tatapan jijik.


"Aku tidak menyesal telah menikah denganmu. Itu dulu, tapi sekarang. Aku sangat menyesal," Bryant mengalihkan perhatian dengan menelusuri setiap sudut rumah yang memiliki banyak kenangan, "Seperti hubungan kita yang berakhir. Rumah ini dan semua barang yang ada disini. Hanya layak menjadi sampah. Selamat tinggal."


Hazel, tak tahu harus berbuat apa, lagi. Selembar kertas yang ternyata surat perceraian resmi benar-benar menghempaskan mimpi indah rumah tangganya. Niat hati ingin memperbaiki. Justru mendapatkan tikaman tajam akan kenyataan pahit. Bingung dengan sisa kesadaran, wanita itu terhenyak hingga jatuh bersimpuh.


Suara langkah kaki kepergian Bryant terdengar begitu menyesakkan dada. Semakin dilihat. Justru menambah goresan luka. Meski, rumah dan semua fasilitas yang sudah menjadi atas namanya, tidak diambil. Tetap saja, wanita itu ingin lebih. Apalagi, perlakuan Bryant yang berani memeluknya seperti ingin membunuh.


Surat ini adalah akhir dari hubungan kita, tapi itu hanya akan menjadi pepatah lama. Kamu harus menjadi ayah dari bayiku. Apapun yang terjadi, anakku akan mendapatkan nama belakang keluargamu. Tunggu saja pembalasanku.~batin Hazel seraya menggenggam surat perceraian menjadi remahan kertas.


Sementara itu, Bryant melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Semua waktu yang dia habiskan. Tidak akan pernah kembali, tapi apakah pantas. Penyesalan itu datang? Semua yang terjadi atas persetujuannya. Jadi, apakah hanya Hazel yang dipersalahkan? Tentu tidak. Dia juga bersalah karena tidak mendengarkan keluarga.


"Bry, fokuslah menyetir! Apa kamu ingin membuat kesalahan lagi? Come on, semua sudah berakhir."


Benar semua sudah berakhir bagi Bryant, tapi tidak untuk Hazel. Ntah siapa yang tengah wanita itu hubungi dengan begitu serius. Setelah melakukan perbincangan selama beberapa menit. Nampak senyuman jahat dan sinis tersungging di bibir sang model. Sudah pasti, otak wanita itu memiliki rencana baru.

__ADS_1


__ADS_2