
Kebersamaan yang mengakhiri kesalahpahaman di antara suami istri menjadi momen yang membahagiakan. Pasutri itu tengah menata hati untuk mempertahankan ikatan rumah tangga yang masih seumur tauge. Kenapa begitu? Yah, karena kedua insan itu baru saja menikah dan belum ada hitungan berbulan-bulan. Apalagi tahun, kalau seumur jagung. Nanti udah cukup mengenal kebiasaan sehari-hari. Iya gak? Iya in, ya, biar yang nulis seneng.
Bunga melepaskan pelukannya, lalu ia meraih tangan sang suami seraya menatap mata pria itu dengan penuh kerinduan, "Boleh aku katakan sesuatu? Ini tentang masalah Hazel dan Bryant. Apakah tidak sebaiknya, Ara tahu tentang hubungan sah yang dimiliki suaminya. Aku rasa, Ara terlalu polos dan baik. Pasti rasanya sakit, jika kebenaran terungkap dari mulut orang lain."
Pria itu mendengarkan secara seksama. Apa yang dikatakan oleh Bunga ada benarnya, tapi dia juga tahu bagaimana situasi saat ini. Tanpa ingin membuat sang istri berkecil hati. Dia memilih untuk menggenggam tangan istrinya, lalu membimbing wanita itu untuk ikut duduk bersama di tepi ranjang. Sejenak hanya ada keheningan bersambut suara helaan nafas dari pasutri itu, hingga Al mengambil sikap duduk tegak.
"Aku akan menjelaskan sesuatu padamu, tapi tolong jangan katakan apapun pada Ara atau yang lain. Apa kamu bisa berjanji padaku? Jika iya, akan ku katakan dan berbagi denganmu tentang rencana ku untuk beberapa hari ke depan. Ini merupakan target masa depan. Jadi maukah mendengarkan tanpa memberikan larangan?"
Bunga langsung duduk bersila dan menatap sang suami. Wanita itu tak sabar ingin mendengarkan, membuat Al tersenyum tipis. Inilah yang dia suka dari sosok sang istri. Dimana gadis itu, akan sangat antusias untuk melakukan sesuatu dan juga memberikan saran yang bisa menyempurnakan rencananya untuk menjadi lebih baik.
"Dengarkan aku baik-baik. Malam ini, aku akan pergi ke sebuah Klub untuk bertemu dengan seorang pria yang merupakan pelanggan setia dari Hazel. Memang pria ini sangat jarang menggunakan jasa layanan kamar di Hotel, dan justru sering bepergian menggunakan kapal pesiar. Tetap saja dia menjadi salah satu kunci yang harus disingkirkan dari rantai terbawah."
"Rencana ini akan dimulai dariku. Aku akan berpura-pura menjadi salah satu pengunjung club itu, dan dengan alasan membutuhkan seorang wanita yang bisa diajak bermalam bersama. Maka, kesempatan ini akan digunakan, agar Mr. Smith mau menghubungi Hazel, sekali lagi dan melakukan kerjasama untuk satu malam. Semua pasti berjalan lancar. Jika pria itu datang ke klub."
Bunga menaikkan alis, lalu berpikir sejenak, "Kenapa harus kamu yang menjadi pancingan. Tidak bisakah menyewa orang lain saja? Seseorang yang memang memiliki profesi sebagai penikmat. Yah, kamu tahulah apa maksudku. Lagipula, aku tidak rela suamiku digoda wanita lain."
__ADS_1
Larangan yang dilakukan Bunga hanya didengarkan. Kali ini, dia tidak bisa mengubah rencananya. Pertemuan sudah ditetapkan. Terlebih dari jadwal yang diprediksi. Mr. Smith akan melakukan perjalanan bisnis dan malam ini adalah malam terakhir di negara yang sama. Jika ingin meminta Zack yang menjadi umpan. Pria itu harus menyelesaikan tugas darinya. Jadi, tidak ada lagi jalan lain.
"Itu memang bisa dilakukan, tapi di sini poin utama adalah Mr. Smith. Pria itu harus terjebak dalam permainannya sendiri. Sementara untuk melakukan itu. Aku harus turun tangan tanpa melibatkan orang lain. Bunga, kejujuranku karena kamu adalah istriku. Mulai hari ini, kita akan memulai hubungan dengan kejujuran dan juga kepercayaan. Selama ini, aku tidak pernah berbagi apapun pada siapapun."
"Aku hanya percaya pada diriku sendiri. Akan tetapi, saat ini aku sudah beristri dan kamu berhak mengetahui apa saja yang aku lakukan di luar rumah. Satu hal yang kuharapkan darimu. Kita memulai hubungan dari nol. Maka, kita juga yang akan menentukan ke arah mana hubungan pernikahan ini berlanjut. Keluarga kita bisa memberikan nasihat karena itu memang hak dan kewajiban mereka."
Bunga yang mendengarkan ceramah Al, masih terdiam menyimak seraya memperhatikan bagaimana cara sang suami bersikap. Wanita itu seperti murid di dalam kelas yang patuh, tapi justru terlihat menggemaskan. Apalagi mata hazelnut yang terus saja berubah ekspresi. Terkadang menyipit, terkadang berubah menjadi puppy eyes. Benar-benar gadis nakal.
"Namun, aku akan selalu mengingatkan padamu. Berterus teranglah padaku. Jika kamu memiliki keluhan, cukup katakan karena aku siap mendengarkan dan memberikan penjelasan. Hubungan memang tidak memerlukan penjelasan. Akan tetapi untuk mencapai tingkat kepercayaan tertinggi. Maka, kita harus melewati setiap ujian dari kehidupan di kemudian hari."
"Aku percaya, kamu bisa memilah mana yang boleh kamu katakan dan mana yang harus kamu simpan. Meski demikian, aku tetap berharap. Jangan pernah menyimpan luka di hatimu dan jangan pernah kamu meminta hal yang tidak seharusnya. Ayo, kita mulai hubungan ini dengan cara kita sendiri. Senyumlah ketika kamu memang ingin tersenyum, tapi jangan paksakan untuk tersenyum. Jika itu, hanya untuk orang yang kamu cintai. Sampai disini, apa ada yang ingin kamu tanyakan?"
"Tunggu dulu," Bunga mengangkat tangannya, "Apa yang dimaksud dari meminta yang tidak seharusnya? Bukankah, jika aku meminta perhiasan atau waktumu. Itu sudah menjadi hak ku sebagai seorang istri. Bisa spesifikasi lagi, Om. Jujur saja, aku tidak mau salah paham, lagi. Seperti terakhir kali."
Pernyataan Bunga, membuat Al terkekeh. Istrinya terkadang bersikap polos, tapi ia tahu seberapa pintar gadis itu. Siapa sangka, masa depan menjodohkan mereka menjadi sepasang suami istri. Padahal selama ini, ia menjaga dan mengawasi kehidupan istrinya sebagai seorang ayah. Jika dipikirkan, hubungan sama seperti sugar baby dan sugar daddy. Apalagi usia yang terpaut cukup jauh.
__ADS_1
Tak ingin membuat kesalahpahaman. Al mendekati Bunga, hingga wajah keduanya saling berhadapan menyisakan lima centi. Satu hal yang disadari pria itu. Dimana istrinya menahan nafas dengan wajah menegang, "Calm down, kenapa harus tahan nafas? Aku tidak melakukan apapun. Maksudku, belum...,"
Rayuan Al, seketika mendapatkan perlawanan. Bunga spontan mendorong suaminya, tapi pria itu justru merengkuh pinggangnya. Tatapan mata terpaut cukup dalam. Semakin dalam dengan suara hembusan nafas tak beraturan. Tanpa ada permisi, satu kecupan menepis keheningan. Pagutan pelepas rasa tegang menjadi akhir dari perbincangan pasutri itu. Sementara di kamar lain, hanya ada kecemasan yang menyelimuti hati seseorang.
Ntah kenapa, tiba-tiba rasanya ingin menangis. Padahal tidak ada yang berbicara kasar atau memaksakan dirinya untuk berbuat sesuatu. Namun, air mata itu, tetap terjatuh tanpa kata. Kesedihan macam apa yang datang tanpa diminta? Lelehan air mata yang membasahi pipi seakan mengisahkan cerita tanpa sebuah nama.
...----------------...
...****************...
Reader's tersayang, jangan bosen ya, setiap hari, othoor kasih rekomendasi novel yang bisa menemani kalian di waktu senggang. Yuk kepoin, tinggalkan jejak juga 😁 mari kita sebarkan semangat. Berkat kalian, Author lanjut nulis, loh. 🤭
...****************...
__ADS_1