Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 169: Usaha Darren, Pengakuan Ocy


__ADS_3

"Kamu siapa? Kenapa memanggilku Ayra?" tanya Ara menyela ucapan Darren dengan suara lirih.


Darren menyeret kursi, lalu meraih tangan Ara. Dibimbingnya tangan wanita itu untuk meraba wajahnya. "Tutup matamu, dan ingatlah ini. Maka kamu akan tahu, siapa aku."


Kepala yang terasa berputar dengan pemandangan samar. Ara kembali memejamkan matanya, entah kenapa hatinya ingin menurut tanpa diminta dua kali. Perlahan tangannya menyentuh wajah pria asing itu. Setiap rasa yang menghadirkan sebuah ingatan lama.


Sentuhan itu begitu familiar. Wajah yang selalu ia rindukan selama ini. Wajah yang terlalu lama menghilang dalam kegelapan. Mungkinkah, itu dia? Sang pahlawan yang selalu melindunginya di saat masa sekolah. Setelah sekian lama. Sengatan itu masih mendebarkan hatinya.


"Kamu ...,"


Darren menurunkan tangan Ara, lalu meletakkannya tepat pada detak jantungnya yang terasa ingin melompat. "Tama. Pemuda dingin penjaga putri polos. Apa kamu ingat aku sekarang, Ayra?"


Degupan itu, tidak akan bisa ia lupakan. Setiap kali menghabiskan waktu bersama. Darren selalu melakukan hal sama dan berkata. *Ingatlah detakan jantungku akan selalu atas namamu. Tidak peduli, jika dunia mengambil identitasku. Kamu akan datang membawa jati diriku melalui detakan jantung yang sama. Ayra ku.*


Sebait ungkapan hati yang selalu tersimpan di hati keduanya. Baik Darren dan Ara saling memahami satu sama lain. Dulu seperti sepasang kekasih tanpa status. Meskipun begitu, keduanya tidak saling mengetahui kehidupan pribadi lebih jauh. Terutama Ara. Wanita itu tidak tahu, jika pria yang selalu menjadi sosok pahlawan adalah putra sulung keluarga Wiratama.


Kini, waktu seakan kembali ke masa lalu. Namun, itu hanya sesaat hingga Ara menarik tangannya seraya memalingkan wajah ke arah lain. Kenapa Tama harus kembali? Di saat dia tidak bisa memberikan apapun. Bukan karena ia tidak sadar diri, tetapi kehidupannya sudah begitu rumit seperti benang yang terlepas dari gulungan.


Darren menatap Ara tidak percaya dengan sikap Ara yang barusan. "Ayra, apa kamu tidak suka melihat diriku, lagi?"


Hening.


Wanita tak tahu harus berkata apa lagi. Tama bahkan terlalu lama pergi darinya. Semua sudah berubah. Jadi, bagaimana caranya menjelaskan. Jika gadis polos yang dulu hidup. Kini sudah tiada. Tidak ada lagi impian sederhana. Di antara rasa bahagia dan patah hati. Ara hanya bisa membiarkan air matanya terlepas dari peraduan.


Tetesan yang membasahi kedua pipinya menjadi jawaban tanpa kata. Darren tak tahu harus berbuat apa, tetapi satu tindakannya akan selalu sama. Dalam diam, direngkuhnya tubuh Ayra. Ia ingin seluruh duka dan rasa sedih itu lenyap bersama air yang kini membasahi kemejanya.


Tangannya terus memberikan usapan lembut, "Menangislah. Aku akan tetap sabar menunggu ketenangan mu. Maaf, aku pergi terlalu lama. Jika mungkin, hukumlah aku sesukamu. Ayra, jangan pernah kamu berpikir sendiri. Kehidupan akan selalu tentang perjuangan. Bukankah kamu ingat itu?"

__ADS_1


Apapun yang Darren katakan. Ia hanya ingin menguras air matanya. Seluruh duka yang selama ini terpendam. Seluruh emosi yang selama ini menjadi diam. Saat ini, hatinya ingin melepaskan semua rasa itu, tanpa terkecuali. Ntah salah atau benar. Namun, Tama seakan menariknya untuk berbagi kisah hidup dalam derai air mata.


Setengah jam berlalu, Darren membantu Ara kembali berbaring. Setelah memberikan segelas air putih, makanan yang disiapkan oleh pihak rumah sakit dan sesendok sirup. Wanita itu kembali terlelap karena pengaruh obat. Dokter memang mengatakan akan memberi sirup dengan kandungan obat tidur.


Semua itu demi kebaikan Ara. Setidaknya, untuk sementara akan istirahat dan tidak memiliki tekanan apalagi emosionalnya menjadi naik turun. Setelah memastikan wanitanya terlelap dengan nafas teratur. Darren mengambil ponsel dari atas nakas. Kemudian menghubungi seseorang.


Ia telah memikirkan sesuatu yang akan dilakukannya, setelah keluar dari rumah sakit bersama Ara. Mengingat semua nasehat dari sang dokter. Maka, gadis polosnya membutuhkan lingkungan baru yang bebas dari kecemasan dunia.


"Ok, bersihkan villa hari ini, dan besok pagi, kami akan datang. Satu lagi, pastikan seluruh rumah diberikan bunga segar. Jangan lupa untuk siapkan banyak bahan makanan." Pesan Darren pada penjaga villa keluarga yang berada di puncak.


Senyuman pria itu terkembang sempurna. Kini, dia bisa melakukan impiannya. Tidak peduli dengan apa yang akan terjadi disekitarnya. Saat ini, dia ingin fokus dengan kesehatan Ara, sedangkan di hotel. Bunga menjadi pusat perhatian. Gadis itu berulang kali menggelengkan kepala.


Mama Bella menatap istri adik iparnya. Tetapi, tatapan matanya sungguh tidak bersahabat, "Bunga! Apa kamu tidak kasihan pada ibu satu ini? Jangan diam dengan geleng-geleng kepala saja. Katakan apa yang sebenarnya terjadi!"


"Nak, dimana suamimu? Apa yang dia katakan? Bisa kamu katakan pada kami." Sahut Papa Angkasa berusaha untuk lebih sabar lagi, tetapi Bunga tidak punya jawaban.


Ini hari pernikahannya, namun justru Sam menghilang. Lihatlah, mata wanita itu sembab dengan hidung semerah tomat. Entah berapa lama Ocy menangis di dalam kamarnya. Mama Bella tidak tega melihat ada seorang wanita yang harus mengalami kegagalan di hari spesial yang sudah menjadi impian setiap wanita.


"Nak, maafin putra ku. Mama akan memberinya pelajaran, jika ....,"


"Tidak, Ma. Ocy menangis bukan karena Abang tidak bersama kita. Sebenarnya, Abang sudah mengatakan dimana ia saat ini berada dan menjelaskan alasannya juga." Ocy terlihat bingung, ada keraguan dari sikap wanita itu. Tangannya saling bertautan, "Aku bingung, bagaimana caraku mengatakan berita yang ku tahu pada kalian."


Pernyataan Ocy membuat semua orang yang ada di ruangan itu saling pandang. Kenapa wanita yang selalu bersikap tegas karena tanggung jawab pekerjaannya. Hari ini, justru seperti kehilangan jati dirinya. Aneh. Papa Angkasa melangkahkan kaki, berjalan menghampiri calon menantunya.


"Apa Sam mengatakan sesuatu? Apa anak itu, tidak ingin melanjutkan pernikahannya? Jujur saja, Aku sendiri yang akan menghukum putra ku." Tukas Papa Angkasa membuat Ocy menahan nafasnya.


"Sebenarnya, Abang melupakan hari ini adalah hari pernikahan kami." Ocy mencoba untuk bersabar dengan memberikan penjelasan satu persatu, tetapi reaksi dari keluarga Putra langsung membuat bulu kuduknya meremang. Tak ingin membuat kesalahan pahaman. Ia meneruskan apa yang harus disampaikannya.

__ADS_1


"Abang tengah menunggu, Tuan Bryant di sebuah rumah sakit. Harusnya, Aku diam dan menyimpan rahasia ini, tapi aku tidak bisa berdiam diri di dalam kamar, sedangkan di luar sana. Dua bersaudara tengah mengalami musibah. Maafin Ocy karena baru bilang sekarang."


Tak satupun orang diruangan itu, tidak terkejut. Berita yang mendadak, dan satu kenyataan akan kondisi putranya, membuat Mama Bella memegangi dadanya. "Paaa ....,"


.


.


.


.


.


...ೋ❀❀ೋ═══ ❀ ═══ೋ❀❀ೋ...


*Alhamdulillah, Crazy up done buat seminggu.


Thanks for all Suppor 😌🙏


Tapi besok gak crazy up, ya.


Othoor mau usaha namatin novel dulu.


Jadi beneran bagi waktu karya lain.


...༶•┈┈⛧┈♛ 🏁 ♛┈⛧┈┈•༶*...

__ADS_1


__ADS_2