Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 176: Satu Atap


__ADS_3

Bryant menatap Ara begitu dalam tanpa berkedip. Mata merah menahan emosi, tetapi hatinya memberontak ingin segera merengkuh tubuh istrinya. Rasa rindu yang selama ini terabaikan berharap mendapatkan obatnya. Sementara Ara menunduk tatapan mata.


"Apa kamu masih marah denganku, Ara?" tanya Bryant lirih, hampir saja bibirnya tidak sanggup mengucapkan pertanyaan itu. Apapun yang terjadi, memang salahnya dan dia tak ingin membuat kesalahan baru.


Ara menundukkan pandangan matanya. Tatapan sendu dengan suara lirih pria itu seperti sentuhan kalbu. Dari lubuk hati terdalam, sungguh rindu akan suara yang selalu memberi ketenangan. Namun, ia sadar. Hubungan mereka tak ubahnya jembatan layang yang terombang-ambing di lautan.


Nyata, tetapi semu. Ingin mengakuinya, namun tak memiliki hak. Serba salah. Seketika rasa rindu berganti luka yang bercampur kekecewaan. Apalagi ketika tangannya kembali menyentuh perut ratanya. Tidak ada yang bisa kembali seperti semula.


"Aku permisi." Ara bangun dari tempat duduknya, lalu berlari meninggalkan Bryant.


Wanita itu masih belum siap hingga meninggalkan Bryant yang mengusap kasar wajahnya sendiri. Bisa saja menyusul, tapi itu hanya akan menjadi pemaksaan. Sementara hubungan bukan tentang paksaan, melainkan penerimaan.


Ketika sibuk meredam rasa yang terus memberontak. Tiba-tiba Darren muncul dari dapur membawa nampan. Pria itu terlihat begitu bahagia. Ya bagaimana tidak. Setelah sekian lama, persahabatan kembali terjalin. Begitu juga dengan penandatanganan kerjasama yang akan membuat kedua perusahaan menyatu.


"Bry, kenapa sendiri? Dimana Ayra." Tanya Darren seraya meletakkan nampan ke atas meja kaca. "Apa ke kamarnya?"


"Iya. Kepala ku rasanya sangat pusing. Bisa gak, malem ini aja buat nginep." Jawab Bryant seraya memegang kepalanya, bukan untuk bersandiwara.

__ADS_1


"Why not. Lagian banyak kamar kosong. Jadi kamu bisa menginap kapanpun. Kamar atas itu," Darren menunjuk ke arah kamarnya, lalu beralih ke kamar Ara. "Satu kamarku, dan kamar Ayra. Kamu bisa pake kamar satunya lagi."


Bryant mengangguk paham. Kali ini, dia tidak ingin bertindak gegabah. Apalagi bersikap sesuka hati. Satu yang dia pahami. Dimana Ara masih membutuhkan waktu dan untuk itu. Maka dirinya yang harus bertindak.


Selama setengah jam. Darren dan Bryant berbincang basa-basi tentang masa lalu, hingga topik mereka berganti tentang Ara. Disinilah, seorang suami mulai memahami jika hubungan sahabat dengan istri sirinya. Memang sudah dibangun sejak dulu.


Darren menjelaskan awal pertemuan, hingga perpisahan akibat insiden yang terjadi diantara tiga sekawan. Satu kebenaran yang membuat Bryant kembali merasa bersalah. Andai persahabatan itu tidak ada kesalahpahaman. Mungkin hari ini, Ara akan menjadi istri dari Darren Wiratama.


Apalah arti andai? Ketika kehidupan memang berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada takdir yang tertukar. Tidak ada ikatan tanpa kesalahpahaman. Kehidupan akan selalu berawal dari dua sisi hingga takdir menyatu. Seperti sebuah koin.


Ditengah kesunyian malam. Darren terlelap di dalam kamarnya. Malam ini tidak seperti malam biasanya. Dimana pria itu tidur begitu cepat, sedangkan Bryant masih betah menatap rembulan. Kegelisahan di dalam hati serta ketakutan dari dalam benak pikiran. Semua menyatu.


Seakan memahami emosi sang suami. Ara yang tahu, jika Bryant menginap di Villa akhirnya memutuskan untuk mendatangi kamar sebelah. Apapun yang terjadi. Sudah sewajarnya, pria itu tahu jika calon anak mereka telah tiada.


Rasa di hati bukan hanya bimbang, tetapi ada ragu dan ketakutan tersendiri. Bagaimana caranya mengatakan kebenaran itu? Ketika hubungan mereka saja masih dalam ketidakjelasan. Ingin rasanya langsung mengetuk pintu, tapi tangan terasa kaku.


Ya Allah. Kuatkanlah hamba agar bisa menjadi seorang istri yang baik. Aku tidak ingin, Mas Bryant memiliki harapan tentang bayi yang tidak lagi ku kandung.~kata hati Ara seraya mengangkat tangannya, kali ini ia sungguh-sungguh mengetuk pintu kamar Bryant.

__ADS_1


Pintu terbuka hingga tatapan mata keduanya saling bertemu. Bryant melebarkan pintu, membuat Ara masuk dengan raut wajah yang penuh arti. Tanpa diminta, pintu kembali ditutup. Kemudian keduanya berjalan beriringan, tetapi bukan untuk duduk di sofa. Melainkan berdiri di depan jendela.


Hening.


Hanya itu yang terjadi selama sepuluh menit. Tidak ada yang memulai perbincangan. Baik Ara atau Bryant. Keduanya tenggelam dalam rasa dan pikiran masing-masing. Mungkin, mereka lupa cara memulai percakapan hingga yang terdengar suara helaan nafas panjang.


"Ara, Aku ingin menjelaskan semuanya, tapi jika kamu mengizinkan." tukas Bryant mencoba mencairkan suasana, membuat Ara berbalik. Lalu menatap wajah pria yang sangat dirindukannya itu. "Aku mengaku salah karena menjadikan mu sebagai alat perjanjian."


"Rumah tangga ku dan Hazel memang sebuah hubungan tidak sehat. Pernikahan kami bukan berdasarkan cinta yang tulus, tetapi hanya berdasarkan tanggung jawab. Setelah tinggal bersama, kebenaran baru terungkap. Dimana dia menjadi wanita panggilan. Sebenarnya, perceraian baru terjadi beberapa waktu lalu."


"Di saat perceraian itu terjadi. Aku memutuskan untuk memulai hubungan kita dari awal. Apa kamu ingat, ketika malam tetap bersamamu. Sejak malam itu, hubungan kita menjadi awal tujuan hidupku. Ara, aku minta maaf. Sungguh, kamu bisa menghukumku atas ketidakadilan yang aku berikan."


Bryant meraih kedua tangan Ara. Digenggamnya dengan kasih sayang, tatapan mata yang dalam hingga menyentuh hati. Namun itu berlangsung singkat hingga bibir wanitanya mulai bergerak mengucapkan sebait kalimat dengan sambaran petir yang menggelegar.


"Katakan sekali lagi!" titahnya mencoba untuk tetap berpikir positif.


Ara menarik tangannya, lalu kembali berbalik menatap angkasa malam. Tatapan mata yang kosong menyisakan sembilu hati. "Bayi yang kamu harapkan. Calon pewaris keluarga Putra telah keguguran akibat kecelakaan yang kualami."

__ADS_1


__ADS_2