Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 65: MAKAM - MAKAN MALAM


__ADS_3

"Bos!" panggil Zack dan Irene serempak.


Tubuh terduduk lemas dengan tatapan mata terpana. Bukan hanya itu saja karena tubuh Al bergetar menahan kenyataan pahit yang ada di depan mata. Kamar yang dulu pernah menjadi saksi kebersamaan bersama Sifani. Kini berubah menjadi sebuah pemakaman. Yah, benar. Sebuah makam menempati kamar itu.


Zack bergegas menghampiri Al, lalu memberikan pelukan agar bosnya bisa bersabar dan ikhlas menerima kenyataan pahit, "Maaf, Bos. Aku tidak sanggup mengatakan bahwa Nona Sifani telah berpulang pada Sang Maha Kuasa."


"Kenapa?" Al bertanya dengan tatapan mata kosong, sungguh ia tak bisa berkata-kata lagi.


Makam dengan ukiran nama Sifani ada di depan matanya. Tanggal, tahun dan hari juga tertera begitu jelas. Semuanya telah berakhir. Harapan untuk meminta maaf dan memberikan kehidupan yang baik untuk wanita itu sirna sudah. Rasa sesak yang menghantam dada dengan mata berlinang tak bisa lagi tertahan.


Suara isak tangis terdengar memenuhi rumah. Zack melepaskan pelukannya, lalu mengajak Irene untuk meninggalkan tempat itu. Ia ingin waktu hanya menjadi milik bosnya. Membiarkan pria dewasa itu melepaskan seluruh beban hati yang terpendam selama bertahun-tahun.


"Zack, apa tidak masalah biarin, Bos sendirian?" tanya Irene memilih duduk di teras.

__ADS_1


Zack menghela nafas panjang seraya menatap langit malam. Tidak ada rintik hujan, tapi pria di dalam sana sudah mewakili kesedihan yang tak seorangpun ingin rasakan. Siapa yang mau kehilangan kekasih selama bertahun-tahun dan akhirnya justru hanya makam sebagai tanda pertemuan sekaligus perpisahan.


Kegelapan malam tak segelap rasa di dalam hati Al. Dirinya tenggelam dalam rasa bersalah yang tak mampu untuk ia lepaskan. Semua yang berlalu kembali terkenang menari di pelupuk mata. Senyuman tulus seorang wanita yang menjadi cinta pertamanya. Semua waktu yang mereka habiskan bersama.


Tanpa pria itu sadari. Di saat ia sibuk meratapi nasib kehidupannya. Justru masa kini menjadi taruhannya. Dimana gadis yang setia menunggu kepulangannya tengah berjalan mondar-mandir di depan rumah kediaman Putra. Siapa lagi jika bukan Bunga istri Alkan.


"Sayang, masuk! Ditunggu di dalem aja, gak baik angin malam buat kesehatan, loh," panggil Mama Bella dari dalam rumah, membuat Bunga menurut. Yah meskipun hatinya ingin sekali menyambut kedatangan Al yang ntah kapan akan pulang.


Mama Bella mengusap lengan adik iparnya, tapi jujur saja didalam hati menahan kesal karena tindakan Al yang lupa jalan pulang, "Sayang, jangan khawatir. Al, pasti masih sibuk bekerja. Ayo, kita makan malam bersama."


Mama Bella menganggukkan kepala membiarkan pengantin baru itu untuk melakukan keinginannya. Setidaknya tadi siang sudah makan, tapi kedatangan Bryant mengalihkan perhatiannya. Putra yang baru saja kelihatan batang hidungnya setelah beberapa waktu lama.


"Night, Ma, Bunga. Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Bryant bertanya seraya menarik kursi, lalu duduk bersiap untuk makan malam. "Ekhem!"

__ADS_1


"Bry, sejak kapan kamu dirumah?" tanya balik Mama Bella menatap putranya dengan tatapan rindu.


Bryant tersenyum manis, ia tak ingin sang mama khawatir. Apapun yang tengah ia pikirkan, hanya tersimpan tanpa harus terungkap. Setelah sekian lama akhirnya bisa berkumpul kembali bersama keluarga. Hati tak boleh mengeluh selain mengucap syukur atas semua berkah yang masih bisa dinikmati.


"Bry, pulang tadi pagi, Ma. Cuma langsung sibuk membereskan pekerjaan. Jadi maaf, baru sempat ngumpul. Setelah makan, kita semua bisa kumpul bersama, gimana?" Bryant memberikan penjelasan serta ide agar senyuman sang mama kembali hadir.


"Bunga, duduk! Jangan buat Om Al bersedih, aku tahu kamu ingin makan bareng suamimu, tapi sekarang kamu harus makan," sambung Bryant menarik tangan Bunga agar duduk disebelahnya.


Makan malam akhirnya berjalan dengan lancar. Keempat anggota keluarga Putra menikmati sajian yang beragam tanpa ada percakapan. Satu jam berlalu. Kini Bryant mengajak seluruh keluarga untuk duduk diruang keluarga.


"Bunga, relax. Aku, akan telpon Om Al," Bryant mengambil ponselnya yang ada diatas meja, baru saja jarinya menggeser layar. Suara langkah kaki Terdengar berjalan menaiki anak tangga.


Pria dengan penampilan kacau serta tatapan mata dingin berjalan menaiki anak tangga. Dari sekilas saja sudah bisa menjelaskan situasi hati pria itu.

__ADS_1


"Kalian disini saja! Aku yang akan ke atas."


__ADS_2