
Pangeran, benarkah? Pasti hanya mimpi.~batin Ara menuju alam bawah sadar.
Tatapan matanya masih tenang dan dengan satu gerakan. Tubuh Ara berpindah ke dalam pelukannya. Melihat situasi pesta masih sangat rame. Orang itu membawa wanita yang pingsan akibat meneguk dari wine ke kamar yang menjadi miliknya. Tentu saja, dia tidak peduli dengan orang lain. Meski, orang-orang akan kelabakan mencari. Biarkan saja.
Beberapa bodyguard yang melihat tuan muda hanya menundukkan tatapan mata. Siapa mereka yang berani menegur? Tak seorang pun berani, dan justru memberikan jalan masuk untuk menuju lorong khusus. Suara langkah kaki terdengar tegas menyusuri lorong hotel yang dipesan khusus oleh penyelenggara acara. Begitu mencapai kamar. Pria itu langsung masuk dan kembali mengunci kamar.
Tatapan matanya masih terus melekat mengamati wajah Ara. Meski, dia tidak tahu siapa wanita itu, tapi ada sesuatu yang mengusik pikiran dan hatinya. Seakan mencoba memberi tahu. Tak ingin mengganggu ketenangan yang didapatkan si wanita. Darren merebahkan tubuh wanita itu ke atas ranjangnya. Kemudian menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah manis Ara.
"Wajah ini, kenapa tidak asing? Sebenarnya kamu siapa? Kenapa cincin ku bisa ada padamu? Jika kamu adalah Ayra," Darren menjeda seluruh pertanyaannya karena tiba-tiba saja, ada bayangan hitam yang mengusik pikiran, "Arrrggghhh, rasa ini, sakiiit...,"
Rasa sakit di kepala semakin terasa menyakitkan. Bayangan hitam dengan suara khas terdengar begitu lembut, tapi tidak bisa dilupakan. Suara itu terngiang-ngiang semakin merasuk begitu dalam, hingga deru nafasnya saling memburu. Rasa itu harus segera dikendalikan. Darren mencari obatnya, lalu segera meminum diakhiri dengan segelas air putih.
Beberapa saat, Darren mencoba mengatur nafasnya. Setelah merasa lebih baik, barulah dia duduk di lantai bersandar pada sisi ranjang. Perlahan efek obat yang diminum mulai bekerja. Seperti biasa, obat itu akan memberikan ketenangan dengan rasa kantuk yang luar biasa. Ara yang terlelap karena efek meneguk wine, dan Darren terlelap karena efek obat pereda rasa sakit.
Kamar itu menjadi kamar ketenangan. Namun, di ballroom tempat pesta berlangsung. Bryant, Sam dan Ocy sedang berpencar mencari keberadaan Ara. Bagaimana tidak terkejut, ketika Bry menoleh ke samping. Ternyata istrinya sudah menghilang ntah kemana. Sementara acara pesta pertunangan menjadi runyam karena calon mempelai pria. Tiba-tiba menghilang di telan bumi.
Malam ini, bukan hanya keluarga Putra yang panik dan khawatir. Akan tetapi, seluruh tamu undangan beserta kedua keluarga pemilik acara. Kehebohan, membuat acara pertunangan menjadi kacau. Di saat semua orang sibuk melakukan pencarian. Bryant yang pergi ke area makanan bertanya pada beberapa pelayan, dan mendapatkan secercah harapan.
"Ara, kamu dimana? Kenapa tidak bilang kalau mau kue," gumamnya pada diri sendiri.
Dari semua kesibukan, tiba-tiba Bryant melihat wajah sepasang pasutri yang tidak asing. Pasutri itu, berdiri dan tengah berbincang serius dengan keluarga Wiratama. Ntah apa yang menjadi masalah, tapi kakinya berjalan menghampiri tempat perdebatan. Jarak semakin dekat, tapi begitu sampai. Justru semua orang terdiam. Sebenarnya apa yang terjadi?
__ADS_1
"Bry, kamu disini?" Om Al bertanya seraya memastikan sang keponakan datang bersama siapa, "Sendiri?"
Bryant menyedekapkan tangan, lalu menatap serius ke empat orang yang ada di depannya, "Om Al, Bunga, dan Tuan serta Nyonya Wiratama yang terhormat. Apa aku tidak salah lihat? Seingatku, keluarga kita menjadi musuh. Yah, musuh selama beberapa tahun terakhir. Apa kalian menyembunyikan sesuatu?"
"Kakak ini, ngomong apa? Aku kan satu kelas dengan Bianca dan diundang. Jadi, Mas Al kesini karena nemenin aku. Tunggu dulu, emang kalian semua udah kenal, ya?" tanya Bunga, jujur saja dia sedikit terkejut dengan kehadiran Bryant.
Apapun penjelasan Bunga. Netra mata Om Al menjelaskan hal lain, "Hmm. Ara hilang. Aku akan kembali mencari istriku."
Wajah tak senang Bryant, membuat Al merasa bersalah, tapi pria itu masih ingin kekeh pada tujuan awalnya. Meski begitu, dia harus menjadi seorang pemain. Namun, begitu Bryant mengatakan Ara hilang. Jujur saja, kecemasan dari dalam hati tidak bisa disembunyikan lagi.
"Bry, Aku akan ikut mencari. Bunga, tetaplah disini! Jangan membantah, aku akan kembali,"
Ntah apa yang menjadi kecemasan sang suami. Sejak datang ke pesta. Wajah Al terlihat tegang dan tak hentinya menghela nafas panjang, "Iya, Mas."
Pencarian trus berlanjut. Satu jam berlalu, tapi baik Ara atau Darren tidak ditemukan. Sementara Denis yang baru saja balik dari nongkrong bersama teman gengnya. Seketika terperangah karena suasana ballroom sudah sepi dengan Bianca yang duduk berselonjor di atas panggung. Wajah gadis itu terlihat menyeramkan karena make up yang belepotan luntur.
"Pa, Ma. Apa yang terjadi? Dimana Ka Darren?" Tanya Denis setelah berdiri di depan orang tuanya yang terduduk lemas di salah kursi para tamu undangan.
"Pertunangan batal. Kakakmu hilang. Lihat, Bia baru selesai mengamuk dengan mengacaukan semua tempat pesta. Bukan masalah, jika harus ganti rugi dengan pihak hotel. Hanya saja, sekarang bagaimana nasib perusahaan? Saham dari Tuah Erlangga bisa ditarik kapanpun dan itu....,"
"Aku akan memberikan saham, tapi TEMUKAN ISTRIKU!" Seru Bryant dengan sisa rasa putus asa, bagaimana tidak frustasi. Ara tidak bisa ditemukan, meski sudah berkeliling ke seluruh hotel.
__ADS_1
Al yang berdiri di samping Bryant menganggukkan kepala. Meski sang keponakan yang memiliki andil untuk membuat keputusan di dalam perusahaan keluarga. Tetap saja, membutuhkan persetujuan darinya juga. Tuan Wiratama menarik nafas dalam, bagaimana akan menemukan istri sahabat sang putra? Jika, dia saja tidak bisa menemukan putranya sendiri.
"Sejak kapan, Kakak dan siapa tadi, pokoknya istri si kakak itu, menghilang?" Tanya Denis mencoba menengahi suasana yang menegangkan.
Bunga memeriksa jam di pergelangan tangan kirinya, "Sekarang pukul sepuluh kurang. Jadi, kurang lebih satu jam setengah. Kurasa, keduanya menghilang di waktu yang bersamaan. Jika tidak salah perhitungan."
"Okay, kalian tunggu sini. Aku akan coba cari," celetuk Denis, lalu berlari meninggalkan semua orang yang menjadi bingung dengan sikap percaya diri pemuda itu, meski begitu. Tidak ada salahnya untuk mencoba.
Denis mengumpulkan gengnya dan memberikan tugas masing-masing. Setelah selesai berdiskusi selama lima menit. Ketiga orang itu berpencar. Sebenarnya, tuan muda bungsu bisa langsung menemukan dimana sang kakak berada. Namun, bagaimana dengan wanita yang katanya istri salah satu tamu undangan.
Ketika teman yang lain mencari di lorong biasa. Denis menuju lorong khusus. Dimana para bodyguard selalu diam di tempat tanpa memikirkan apapun yang terjadi di luar sana. Sekali lagi, para bodyguard menundukkan tatapan mata mempersilahkan tuan mereka untuk lewat tanpa permisi. Satu yang harus disyukuri. Dimana pintu kamar Darren tidak pernah diganti.
Denis memasukkan sandi, lalu memutar knop seraya mendorong pintu masuk ke dalam. Suasana kamar yang temaram, membuat pemuda itu sedikit kesulitan melihat. Namun, ketika pintu sudah tertutup. Maka, lampu utama otomatis menyala terang selama beberapa detik. Tentu setelah itu, kembali lagi menjadi lampu temaram.
Denis terkejut dengan melihat pemandangan di depan matanya. Degup jantung berdetak seperti pacuan kuda. Di sisa kewarasannya, pemuda itu mengambil ponsel, lalu meminta foto wanita yang tengah dicari oleh keluarga tamu undangan. Tiba-tiba, ketika pesannya mendapatkan balasan. Perlahan foto yang menunjukkan wajah manis seorang wanita mulai terlihat jelas.
"Ouh, **!*. Kenapa harus istri orang. Tamat riwayatmu, Ka."
...----------------...
__ADS_1
...----------------...