Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 140: TRANSAKSI - REBUTAN WINE


__ADS_3

Bunga mencari air mineral seperti petunjuk dari suaminya. Benar saja, di belakang tempat duduknya ada beberapa botol air dan masih tersegel utuh, "Om, aku tidak tahu itu pujian atau harapan, tapi aku akan berusaha tetap menjadi diriku sendiri. Jadi, tenang saja, suamiku sayang."


Took!


Took!


Took!


Suara ketukan kaca mengalihkan perhatian Bunga dan Al. Dari dalam mobil terlihat tiga gadis yang mencari masalah berdiri di luar dengan wajah tak bersalah. Ntah apa yang mereka inginkan. Namun, wajah tak suka dari sang istri jelas semakin tergambar.


"Mau turun sendiri atau aku temani?" Al bertanya tanpa memiliki niat lain karena dia tahu, jika triple G geng yang menjadi anggota team Cheerleaders di kampus itu.


Bunga tak menanggapi. Gadis itu memilih bernyanyi sekeras mungkin dengan menutup kedua telinganya. Benar-benar gadis nakal. Tak ingin mengubah suasana berubah menjadi gunung berapi. Al meraih noted dengan pulpen, lalu menuliskan sesuatu, kemudian menurunkan kaca mobil.


"Tuan, Aku .... "


"Ambillah, dan jangan ganggu istriku lagi."


Setelah mengatakan keinginannya. Kaca mobil kembali dinaikkan. Al menginjak gas, lalu mulai menyetir untuk meninggalkan parkiran. Apapun yang akan dilakukan triple G. Sudah pasti, babak rasa isi akan berakhir. Setidaknya, itu akan terjadi selama beberapa hari kedepan.


Bukannya berpura-pura tidak tahu, tapi masalah kampus tidak ingin dijadikan bahan masalah rumah tangga. Dia tahu bagaimana dan seperti apa Bunga. Gadis ceria dengan keberanian yang tidak perlu diragukan lagi. Jangankan teman kampus. Istrinya bisa mengalahkan pencuri jalanan alias preman.

__ADS_1


Yah, Bunga terlihat anggun dan suaranya begitu cerewet. Namun, dibalik semua itu. Ada satu kehidupan yang selalu disembunyikan si gadis. Dimana kelebihannya untuk membela diri. Bagaimana tidak? Bima atau Milea bahkan terlalu sibuk dan melupakan beberapa kegiatan tambahan sang putri.


Selama ini, Al yang menjadi pendamping dan juga pengawas secara diam-diam. Tentu bukan karena cinta, tapi semua itu merupakan tanggung jawab yang tidak bisa menjadi bahan kompromi. Memang tidak sekalipun berpikir akan menikah dengan Bunga. Meski begitu, sekarang hanya bisa bersyukur.


Perjalanan itu tidak ada kata asing. Suara nyanyian yang secara perlahan meredup seperti cahaya lilin. Inilah kebiasaan Bunga. Gadis itu selalu membuat dirinya lelah hingga rasa kantuk menyerang. Maka semua tekanan dari dalam hati dan pikiran memudar begitu saja.


Situasi yang sama dan terjadi selama ini. Al hanya menggelengkan kepala dengan sesekali membenarkan posisi duduk sang istri. Mungkin saja, tindakannya juga bentuk tanggung jawab seorang ayah terhadap putrinya. Akan tetapi, saat ini, dia tengah berusaha untuk menerima Bunga sebagai istri.


Dulu, aku berpikir langit malam akan selalu gelap tanpa bintang dan bulan. Setidaknya, selama beberapa tahun, itulah yang terjadi dalam hidupku. Sayangnya, aku melupakan setelah malam. Pagi pasti datang membawa sinar harapan. ~ucap Al dalam hati.


Perjalanan trus berlanjut. Kemana mereka akan berlabuh? Hanya Al yang tahu. Sementara di tempat lain. Terlihat rumah dengan suara bising serta orang-orang yang keluar masuk ke dalam bangunan tingkat dua yang terletak di daerah pinggiran kota. Bukan di depan pintu, tapi di dalam rumah itu sedang berlangsung transaksi bisnis.


"Dia milikmu mulai detik ini, MamCa," Si pria menyambar uang dari atas meja dengan tatapan puas, baginya tidak masalah kehilangan pemuas ranjang karena wanita sangat mudah didapatkan, "Aku pergi dulu. Telpon aja kalau butuh penghuni rumah baru."


MamCa tersenyum simpul, lalu mengambil kipas yang biasa dia gunakan. Akhir-akhir ini, rumah hiburannya sangat sepi. Jadi untuk meningkatkan pelayanan dan mempertahankan rumah sumber pundi-pundi uangnya. Selama satu minggu kedepan akan diadakan jual beli barang dengan transaksi saling menguntungkan.


Namun, tiba-tiba anak buah yang biasa dipanggil duo K berlari masuk ke dalam rumah dengan wajah tegang. Melihat itu, MamCa masih bersikap tenang. Apapun berita buruk yang akan dia dengar. Sudah pasti menjadi masalah di detik selanjutnya. Jadi, prinsip ketenangan tidak boleh terlupakan.


"MamCa, lihatlah diluar dia berbuat keonaran, lagi. Kenapa tidak perintahkan kami untuk membunuhnya saja?" Lapor Duo K dengan geram, tapi yang mendengarkan laporan justru tertawa ringan.


"Apa kalian ini sudah tidak waras? Dia bukan pelanggan sembarangan," MamCa bangun, lalu menyibak gaun malam yang menunjukkan belahan dadanya, "Urus saja anak baru di kamar nomor tiga, sedangkan dia menjadi urusanku."

__ADS_1


Langkah kaki berjalan meninggalkan ruangan transaksi. Wanita itu tidak peduli dengan banyaknya tangan jahil para pelanggan yang sesekali ikut mencolek tubuhnya. Siapa yang akan peduli itu di rumah bordil? Tentu tidak ada.


Bukan teriakan yang terdekat, tapi netra matanya langsung terpatri pada pria yang sibuk meneguk wine dengan duduk berselonjor bersandar di dinding sisi kiri depan rumah bordil. Tanpa memerlukan izin, MamCa ikut duduk di sebelah si pria tidak waras. Lalu merebut salah satu wine yang masih tertutup segel.


"Wine ku .... "


"Jangan serakah. Lagian, ini wine masih milikku. Jadi tidak perlu izin untuk menikmatinya," Sergah MamCa menepis tangan Si pria tidak waras, lalu memulai menikmati tegukan wine yang sangat menyegarkan tenggorokannya.


Keduanya tidak ada yang mau mengalah. Dimana lima botol wine yang masih tersegel menjadi ajang minum bersama. MamCa dan Si pria tidak waras berebut untuk meneguk wine lebih banyak. Terlihat sama-sama handal, tapi di dalam kamar nomor tiga. Justru duo K saling pandang.


"Bro, Aku gak salah lihat 'kan? Dia itu istri si pria tidak waras. Apa jadi bahan taruhan lagi, ya?" tanya pria pertama seraya menggaruk kepala yang tidak gatal.


Bukannya mendapatkan jawaban. Kepala yang digaruk mendapatkan jitakan keras dari saudara kembarnya, "Gak usah neko-neko. Dia itu memang Anggun, tapi bukan Akbar yang menjaminkan. Ada pria lain, aku denger dari salah satu anak buah MamCa saat pergi ke toilet."


"Ouh, gitu. Jadi, kita disuruh nyicipin, apa gimana, nih? Aku bingung sendiri."


Sekali lagi, kepalanya mendapatkan jitakan, tapi kali ini lebih keras, "Mau dipenggal atau di jantung? Dia bakalan jadi penghuni baru. Kemarin MamCa bilang akan ada tamu asing. Jadi para penghibur harus segar. Kurang lebih gitu, jadi tugas kita jagain biar Anggun gak kabur."


Duo K memulai pekerjaan dengan berjaga di pintu. Meski ingin sekali bisa mencicipi wanita yang ada di dalam kamar. Keduanya tetap berusaha menahan diri, hingga penantian selama beberapa lama. MamCa datang dengan merangkul seorang pria. Apapun yang tertangkap mata. Lebih baik dilupakan.


"Biarkan saja. Beberapa hal lebih baik tetap menjadi orang buta demi keselamatan kita."

__ADS_1


__ADS_2