
"De, kamu mau buka usaha?" Tanya Sam spontan dengan tatapan terperangah tak percaya, sedangkan yang ditanya justru menunjukkan cengiran kuda.
Ara tidak menggubris pertanyaan Sam. Wanita itu justru sibuk meminta orang-orang yang datang untuk meletakkan semua barang di ruang tamu. Dimana orang pertama membawa empat paper bag warna biru langit dengan nama sebuah restoran. Orang kedua membawa lima kotak bungkusan yang ntah apa isinya, tapi diletakkan ke samping sofa agar tidak menjadi penghalang jalan.
Orang ketiga membawa paper bag warna hitam dan tanpa logo asal muasal sebanyak tiga dan diletakkan ke atas meja bersebelahan dengan paper bag warna biru langit. Begitu pula dengan yang lain mengikuti arahan yang dilakukan Ara, sedangkan Sam memeriksa ponsel yang tadi digunakan sang adik. Baru saja menggeser layar. Notif pembayaran sukses dari pihak BANK membuat pria itu mengerjapkan mata.
Pluk!
"Relax, Bro. Berapapun yang dihabiskan istriku. Jangan khawatir. Aku pasti mengganti, tapi sekarang biarkan Ara melakukan yang dia mau. Sejak siang moodnya naik turun. Jangan sampai manyun lagi," Bryant berbisik agar istrinya tidak mendengar apa yang dia katakan.
Sam menyimpan ponselnya ke tempat semula, lalu kembali menatap kebahagiaan Ara yang seperti anak kecil mendapatkan banyak mainan baru, "Tidak usah, Bry. Ara adikku, jadi apapun keinginannya akan ku turuti. Tentu selama aku bisa mengabulkan. Uang hasil kerja akan menjadi berkah, jika bisa menyenangkan hati keluarga kita."
"Araa! Apa yang kamu beli?" tanya Bunga yang baru saja turun dan melihat suasana di bawah begitu ramai, yang ditanya hanya tersenyum seraya melambaikan tangan.
Para pengantar barang keluar meninggalkan rumah Ara. Kini, seluruh anggota berkumpul. Semua itu karena permintaan bumil. Wanita dengan senyum sumringah yang mulai membagikan setiap orang satu barang belanjaan. Di saat semua sudah mendapatkan bagian masing-masing. Barulah mereka diminta untuk membuka apa yang mereka dapatkan.
Sementara Ara sendiri memeluk erat sebuah kotak dan memilih berjalan meninggalkan ruang tamu. Melihat itu, Bryant memilih untuk membawa bagiannya, lalu menyusul sang istri yang kembali ke kamar atas. Semua anggota keluarga saling pandang satu sama lain. Mereka tidak menyangka, jika menantu kedua memiliki cara untuk memberikan perhatian dengan hadiah kecil.
__ADS_1
Bagaimana tidak. Mama Bella mendapatkan hadiah bantal berbentuk lingkaran dengan model marshmello. Bunga mendapatkan sekotak anting yang memiliki desain berbeda-beda. Ocy mendapatkan sebuah gaun elegant berwarna peach belahan dada tinggi. Sam mendapatkan jam tangan warna hitam. Sementara hadiah lain, masih menunggu pemilik masing-masing.
"Bang, apa semua ini yang dilakukan Ara lewat ponselmu?" Ocy bertanya hanya untuk memastikan, tapi kode mata sang kekasih sudah cukup menjelaskan tanpa harus mengeluarkan satu kata pun.
Meninggalkan perasaan orang-orang yang ada dibawah. Di dalam kamar, Ara membuka kotak yang ia pesan untuk dirinya sendiri. Wanita itu memilih duduk di lantai seraya bersandar pada tepi ranjang. Bryant yang menyusul harus berjalan pelan agar tidak mengganggu kegiatan sang istri. Ntah karena terlalu fokus, atau bagaimana. Ara tidak terganggu dengan kedatangannya, bahkan saat pria itu duduk di samping.
Kotak berisi beberapa foto bayi. Bisa dibilang itu poster, tapi bukan hanya itu saja. Di dalam kotak juga tersedia dreamcatcher berbentuk bintang dan bulan. Melihat apa yang di punya Ara, Bryant penasaran dengan isi kotak di tangannya sendiri. Tak ingin menunda lagi, kotak itu perlahan dibuka dan tatapan mata pria itu tidak berkedip sama sekali.
"Bagaimana, apa kamu suka nama yang aku pilih?" Ara bertanya dengan suara lembut, siapa sangka isi dari hadiah untuk sang suami adalah sepasang boneka lawan jenis meski boneka itu adalah bayi yang memakai kalung nama.
Tidak ada kata yang bisa menggambarkan rasa bahagia yang kini dia rasakan. Rasa itu hanya bisa menjadi pelukan hangat, "Aku suka dengan nama yang kamu siapkan. Bersabarlah, saat nanti anak kita lahir. Mari kita umumkan nama ini di seluruh dunia."
"Aku tidak ingin seluruh dunia. Anak kita harus menjadi milik keluarga dan hidup bersama keluarga juga. Dunia ini terlalu kejam, tapi kehidupan selalu memberikan kesempatan untuk bahagia. Boleh aku minta sesuatu?"
Tatapan mata dalam dengan netra yang sayu. Wajah manis istrinya tertutupi kabut keraguan dan setiap kali melihat ada dilema di dalam diri Ara. Rasa bersalah selalu menghantui, membuat Bryant terdiam seraya menunggu ucapan dari sang istri yang selanjutnya.
Ara mencoba mencari kata yang tepat, hingga bibirnya bergerak, tapi tidak sesuai dengan apa yang ingin dikatakan, "Aku ingin pergi ke makam ayah. Boleh?"
__ADS_1
"Apa hanya itu?" Bryant bertanya balik tanpa melepaskan tatapan mata nya, dan Ara mengangguk mengiyakan, "Kenapa hanya kamu? Besok, kita akan pergi bersama untuk mengunjungi makam ayah mertua. Bukankah dia juga ayahku? Sekarang istirahat dulu, seharian ini kamu sibuk lari kesana kemari. Paham?!"
Benar yang dikatakan Bryant. Jika hari ini terlalu aktif dan membuat semua orang harus merasakan mood bumil. Keduanya menyepakati tanpa harus berdebat panjang kali lebar. Waktu berlalu begitu cepat. Keesokan harinya. Rumah terlihat begitu sepi, bahkan tidak satu anggota keluarga nampak. Seorang pria melirik ke arah jam tangan yang terpasang di pergelangan tangan kiri.
Namun, rumah yang ia pandang. Tidak ada tanda-tanda kehidupan kecuali para penjaga, "Jika menunggu seperti ini, pasti tidak membuahkan hasil apapun. Aku harus lakukan sesuatu, tapi apa? Jika tiba-tiba datang pun. Terlihat aneh, tunggu dulu. Ck. Kenapa gak dari kemarin sih ide muncul. Whatever, mending buruan aku kerjain, daripada telat."
Ntah apa yang menjadi ide orang itu, tapi langkah kaki berjalan terburu-buru menuruni anak tangga. Lalu, menyapa pemilik rumah yang berkumpul untuk melakukan sarapan bersama. Di saat bersamaan, seorang pelayan datang membawa nampan yang berisi dua cangkir kopi hitam. Tanpa kata, dia mengambil secangkir kopi. Kemudian berjalan menghampiri meja makan.
"Pagi, semuanya,"
"Pagi, juga Darren. Bagaimana malammu? Semoga nyenyak di rumah paman. Bianca, siapkan sarapan untuk calonmu, Nak!" Papa Bianca memberikan perintah, tapi putrinya terlihat malas sekali, "Bianca! Kamu dengar Papa?"
"Pa! Please, Bia udah buru-buru mau kuliah, nih. Ayank Darren pasti bisa ambil sendiri."
Darren mengangkat tangan kanan untuk menghentikan pria paruh baya itu menjawab perkataan gadis yang bersikap tidak sopan. Bukan hanya karena jawabannya, tapi reaksi dan ekspresi Bianca memang harus mendapatkan didikan ekstra, "Om, apa masih ada sisa undangan untuk acara pertunangan nanti malam? Jika ada, aku ingin satu."
"Tunggu sebentar! Biar Mama yang ambil dari kamar. Kalian lanjut makan saja."
__ADS_1