
Sayangnya, ia tak menyangka. Wajah Mama Bella begitu pucat dengan suara samar dzikir. Melihat hal itu, Al meletakkan Almaira ke atas ranjang. Lalu menarik kursi roda kakak iparnya agar menjauh dari pecahan gelas yang tajam. Tatapan matanya menyelidik.
"Kakak kenapa?" tanya Al menangkup wajah sang kakak ipar.
Mama Bella mengusap dadanya sendiri, lalu ia bingung ingin memulai dari mana, sedangkan tatapan matanya kosong karena memikirkan sesuatu yang tidak bisa ia capai, "Entahlah, aku tidak tahu apa yang terjadi. Hanya saja, rasanya tiba-tiba perasaanku tidak enak. Apa semua baik-baik saja?"
Al tersenyum tipis. Ia berpikir mungkin kakak iparnya masih terlalu memikirkan tentang pernikahan yang akan dilakukan hari ini dan mungkin juga mencemaskan masalah yang sepele seperti biasanya. Ia melepaskan tangan dari wajah sang kakak ipar, lalu meraih tangan wanita itu. Kemudian mengusapnya dengan lembut agar kembali tenang.
"Bukankah kamu bilang akan pergi. Jadi pergilah. Biarkan Almaira bersama kakak." Sambung Mama Bella. Wanita itu berusaha, membuat situasi tidak begitu rumit karena ia juga paham, selama ini Al tidak pernah meminta apapun padanya.
Al menggelengkan kepala. Jujur saja, dia tak mau wanita yang sudah ia anggap menjadi kakak ipar sekaligus ibunya sendiri mengalami rasa sedih. Meskipun itu, mungkin hanya firasat yang dikarenakan terlalu cemas memikirkan keadaan saat ini. "Kakak istirahat saja! Aku akan memeriksa semua dan Almaira akan bersama dengan Bunga. Jadi, kakak jangan khawatir, lagi."
"Pergilah! Ini perintah dari ku, Al. Ingat, Bunga juga membutuhkanmu. Bukankah kalian beberapa hari terlalu sibuk mengurus anak, jadi kalian bisa menikmati waktu berdua walau hanya sesaat, dan Almaira aman bersama kakak.'' Titah Mama Bella yang tak ingin mendengarkan alasan lagi.
Dia juga ingin adik iparnya bisa merasakan bahagia. Setidaknya untuk memberikan rumah tangganya waktu sejenak. Jangan sampai karena terlalu sibuk mengurus keluarga, malah timbul masalah yang tidak diharapkan. Hubungan selalu rentan akan kesalahpahaman. Jika tidak seimbang.
"Baiklah, Kak. Almaira akan bersama kakak dan aku akan pergi bersama Bunga hanya satu jam saja. Setelah itu, aku akan kembali untuk menyelesaikan dan memeriksa semuanya. Oke. Kakak, jangan lupa makan, juga." Balas Al, lalu mengecup tangan sang kakak ipar agar tidak marah.
Setelah Al memberikan Almaira ke pangkuan kakak iparnya, ia pergi meninggalkan kamar itu, tetapi bukan untuk menemui Bunga. Pria itu justru berniat memeriksa semua persiapan pernikahan. Bukan bermaksud untuk menomorduakan istrinya. Namun, ia hanya ingin membuat seluruh anggota keluarga aman dan tidak merasa tertekan.
__ADS_1
Al tak lupa mengirim pesan singkat kepada istrinya agar turun ke bawah dan menemuinya di lobby. Sementara itu, dia akan menemui pihak wedding organizer untuk memeriksa semua persiapan. Apakah sudah sesuai dengan permintaan keluarganya. Namun ketika ia berjalan melewati lorong terdengar beberapa perbincangan para staff hotel.
Perbincangan itu, membuatnya tau tentang berita terkini, tetapi ia tak tahu. Jika yang dibicarakan itu adalah Ara. Tak ingin mengambil pusing. Al tetap melanjutkan perjalanan menuju kamar dari pemilik wedding organizer yang memang juga menginap di hotel yang sama.
Pria itu mengetuk pintu, lalu menunggu beberapa saat hingga seseorang membukakan pintu, kemudian mempersilahkannya untuk masuk. Dimana terlihat beberapa staf tengah melakukan rapat dan menyelesaikan pekerjaan yang mungkin untuk proses dari acara pernikahan nanti.
"Selamat pagi, Tuan Al. Ada yang bisa kami bantu?" tanya pemilik wedding organizer yang langsung menghampiri Al, keduanya berdiri saling berhadapan.
Al tak membiarkan siapapun keluar dari ruangan itu. Dia juga tak ingin mengganggu pekerjaan mereka semua, "Lanjutkan saja pekerjaan kalian. Aku hanya ingin tahu, sampai sejauh mana persiapan yang sudah kalian lakukan."
Pemilik wedding organizer menjelaskan detail dari rincian acara yang akan diadakan. Termasuk semua persiapan mulai dari pesta dan juga dekorasi yang kini sudah mewarnai beberapa bagian di hotel itu. Al menyimak dengan seksama semua penjelasan, tetapi tiba-tiba fokusnya teralihkan.
"Eh, Tuan, itu bukan apa-apa." Jawab staff itu dengan gugup merasa tak enak hati. Apalagi tatapan tegas menyelidik terpatri padanya. Sontak ia langsung menundukkan wajahnya.
Sikap yang seperti itu, sangat tidak enak dipandang dan jawaban dari staff, tidak memberikan kepuasan pada Al. Dipandangnya si staff dengan tatapan tajam yang membuat wanita itu merasa semakin tertekan, "Tuan, itu di depan ada ....,"
Al menaikkan satu alisnya, berpikir apa yang terjadi dan kenapa bisa terjadi. Sementara di rumah sakit. Darren masih terjaga menatap wajah Ara. Dulu wanita itu hanyalah seorang gadis dengan kesederhanaan. Tidak ada make up, tidak ada gaun, tidak ada sepatu hak tinggi. Tetapi, sekarang. Ia bisa melihat, pakaian mahal meski hanya gaun putih polos sebatas lutut.
Diusapnya pipi yang berisi. "Pasti kamu selalu makan coklat, ice cream setiap malam. Pipimu semakin chubby, setiap kali terlalu banyak makan makanan manis. Katakan padaku satu hal. Apa kamu baik-baik saja, disaat tidak ada aku disisimu? Berapa banyak film yang kamu tonton tanpa diriku?"
__ADS_1
Darren menghela nafas panjang. Satu sisi ia tak sabar menunggu Ara kembali sadar, tapi disisi lain. Dia bingung harus mengatakan apa, jika wanita itu sudah melihat wajahnya yang berubah. Sudah pasti akan mendapatkan banyak pertanyaan. Pikirannya bekerja keras untuk menemukan solusi yang bisa menyelesaikan dilema dalam masalah kali ini.
Di saat sibuk memikirkan segala sesuatu yang akan dia lakukan, tiba-tiba ponsel di dalam saku celana bergetar dan itu mengalihkan perhatiannya. "Siapa yang menghubungi ku? Coba ku lihat."
Benda mati yang menyala menunjukkan beberapa notif pesan masuk dan juga panggilan. Ternyata adiknya memberikan informasi. Jika papa mereka sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa, dan memerlukan waktu pemulihan selama satu bulan agar bisa kembali normal. Setelah pasca operasi pencangkokan jantung.
Darren membuka pesan itu, lalu mengklik ruang balas. "Lakukan seperti permintaan dokter, aku akan urus biaya administrasi melalui online. Satu lagi, jangan biarkan Mama sendirian. Kakak akan mengirim beberapa orang untuk menemani kalian."
Pesan itu terkirim dan langsung centang dua biru. Tidak perlu menunggu lama, karena Denis langsung mengirim balasan menurut apapun yang ia putuskan. Ponsel itu, diletakkannya ke atas nakas. Bertemu lagi dengan Ara adalah hal luar biasa, tetapi saat ini kondisi keluarga juga tengah dilanda masalah.
"Ayo bangkit, Darren! Kamu pasti bisa melewati semuanya. Ingat, sekarang ada putri yang harus kamu jaga, dan keluargamu juga membutuhkan dukunganmu. Kehadiran mereka untuk mengingatkanmu, hidup selalu untuk berjuang."
Pria itu menyemangati dirinya sendiri. Tidak ada yang bisa dilakukannya, selain memperkuat kepercayaan pada hati dan pikiran. Apapun cobaan akan dihadapi dengan berani.
*Hari terakhir crazy up 🌚
Happy reading, reader's 📖*
__ADS_1