
"Haloo! Apa kamu mendengarkan aku?" tanya Mama Bella setelah bertepuk tangan agar mengembalikan kesadaran sang desainer.
Sang desainer terkejut, tetapi berusaha untuk mengendalikan dirinya sendiri, "Maaf, Nyonya. Saya akan melakukan seperti permintaan Anda, tapi tolong jangan cabut izin usaha saya."
"Aku tidak sekejam itu. Bisnis mu adalah kerja kerasmu. Silahkan gunakan model itu untuk klien mu yang lain, tapi khusus keluarga Putra. Hazel Laurent adalah larangan. Ingat ini selalu. Satu lagi, buatkan gaun yang baru untuk Ara. Kali ini, pastikan menantuku mendapatkan gaun terbaik dengan kualitas yang nyaman untuk ibu hamil!"
Pernyataan Mama Bella, membuat sang desainer menganggukkan kepala paham. Dia tahu, dimana kesalahannya. Jadi, pekerjaan yang dia lakukan adalah tanggung jawabnya. Kepuasan klien adalah kebanggaan. Di saat percakapan keduanya berakhir. Seseorang masuk ke dalam ruangan ganti.
Akan tetapi, yang tersisa di ruangan itu hanya ada Sang Mama dan desain dari pihak WO. Langkahnya berjalan menghampiri Mama Bella, lalu memberikan kecupan hangat penuh cinta pada wanita yang telah melahirkan serta membesarkannya.
"Bry, kamu disini. Mencari Ara? Istrimu sudah kembali ke kamar bersama Dokter Kinara." jelas Mama Bella sebelum mendapatkan pertanyaan dari putra tunggalnya.
Bryant tersenyum seraya mengubah posisinya agar sejajar dengan sang mama yang memang selalu duduk di kursi roda. Diraihnya kedua tangan, tapi sebelum itu. Tatapan matanya mengusir sang desainer dari ruangan itu. Kode keras yang menjadi perpisahan.
Sontak saja. Desainer itu berpamitan untuk meninggalkan ruangan agar menjadi milik ibu dan anak. Kini tinggalah Mama Bella dan Bryant. Keduanya saling menatap dengan tatapan mata begitu dalam. Sudah terlalu lama sejak terakhir kali. Apakah mungkin, hubungan diantara mereka sejauh itu?
Mama Bella menarik tangan kanannya, lalu mengusap pipi kanan Bryant. "Ada apa, Nak? Apa kamu merindukan Mama mu? Kapan terakhir kali, kita bicara seperti teman. Mama ingat, itu terjadi beberapa tahun yang lalu. Sebelum kamu memutuskan untuk menikah dengan Hazel."
"Maafin, Bry, Ma." Ucap Bryant begitu dalam hingga tanpa sadar cairan bening terjun bebas tanpa aba-aba.
__ADS_1
Mama Bella tahu, selama ini Bryant sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki keadaan keluarga. Meski pada akhirnya yang tersisa hanyalah perbedaan pendapat. Namun, air mata yang mengalir dari kedua mata sang putra. Sungguh terasa begitu menyesakkan dadanya, sebagai seorang ibu.
"Nak, semua yang sudah terjadi adalah cobaan hidup kita semua. Mama percaya, orang baik akan mendapatkan jodoh yang baik. Setelah semua ini, kehidupanmu akan lebih baik, tapi Mama khawatir akan sesuatu. Apa putraku mau mendengar nasehat mama?" tanya Mama Bella dengan suara lembut, tetapi mengisyaratkan sesuatu yang lain.
Bryant mengangguk seraya mengecup tangan mamanya. Hati dan pikiran sudah kembali pada tempatnya. Tekad akan memperbaiki rumah tangga dengan kebersamaan keluarga, semakin menggebu-gebu. Meski ada rasa cemas akan sesuatu yang terkadang masih mengusik pikiran.
"Pernikahan mu dan Ara masih siri. Kapan kamu akan mengesahkan pernikahan kalian? Jangan sampai, anak kalian lahir tanpa bisa menyandang nama ayahnya sendiri. Apa kamu paham maksud mama?" Mama Bella menatap putranya dengan tangannya yang berhenti mengusap wajah sang putra.
Bryant terhenyak akan kenyataan itu. Benar juga. Pernikahan mereka memang masih siri. Jika Ara melahirkan. Bagaimana status anak itu? Pernyataan mama Bella sungguh menyadarkan Bryant akan kenyataan hidupnya saat ini.
"Bry akan pikirkan ini, Ma. Sebelum itu, ada yang harus aku pastikan. Apa mama bisa menjaga Ara seharian ini? Aku akan keluar melakukan pekerjaan penting." Ucap Bryant setelah memikirkan dengan matang langkah yang akan ditempuh.
Bryant mengecup tangan mamanya, lalu berdiri. Pria itu membantu mendorong kursi roda sang mama. Kemudian keduanya pergi meninggalkan ruangan ganti wanita. Lorong yang panjang terasa cepat berakhir ketika berjalan melewatinya dengan niat hati yang baik.
Tanpa mengetuk pintu, Bryant membuka pintu kamarnya. Kemudian kembali mendorong kursi roda sang mama agar masuk bersamanya. Di saat sampai, tatapan mata tertuju pada wanita yang duduk bersila di depan laptop yang menyala. Suara kartun terdengar cukup keras. Siapa lagi, jika bukan Ara yang sibuk mengunyah sop buah.
"Mas, tidak usah bengong. Apa pakaiannya sudah pas?" Ara bertanya tanpa berbalik, membuat Bryant menaikan satu alisnya. Bagaimana bisa wanita itu tahu, jika dia yang datang. Padahal ada mama juga yang bersamanya. "Mas, bau mu itu terlalu menyengat, macem aroma panas matahari."
Mama Bella terkekeh pelan mendengar penjelasan sang menantu. Sebegitu peka nya feeling seorang bumil. Suami yang baru beberapa bulan, bahkan masih tidak tahu apa makanan kesukaan Bryant. Tetap saja ikatan batin seorang istri terlihat begitu jelas di antara putra dan menantunya.
__ADS_1
''Ma, apa aku bau gosong?'' tanya Bryant masih tidak paham dengan maksud istrinya itu, mendengar hal itu. Ara langsung menoleh kebelakang membuat Mama Bella dan Bryant saling menatap.
"Mas ini, gosong itu, kalau bau masakan yang di dapur. Mana ada seperti itu, maksud Ara itu, parfum yang dipakai terlalu kuat. Coba deh, Mas cium ketiak sendiri." Cetus Ara tanpa mempedulikan bibir yang belepotan yogurt.
Mama Bella berusaha menahan diri untuk tidak tertawa karena wajah menantunya terlalu menggemaskan. Sementara Bryant berjalan menghampiri Ara, tak lupa menyambar tisu dari atas bufet. Langkahnya mendapatkan tatapan menyelidik dari sang istri. Ntah kenapa, istrinya terlihat waspada.
"Mas, mau apa?" tanya Ara menggeser posisinya, membuat Bryant berusaha tetap tenang agar tidak mengubah mood sang istri.
Diamnya Bryant yang semakin mendekat. Justru menjadikan Ara terus saja menggeser posisi duduknya, bahkan kartun di dalam laptop tidak menarik perhatiannya lagi. Tetapi semangkuk sop buah yang kini tersisa setengah saja semakin dipeluknya erat.
Ara mengangkat tangannya, membuat jarak di antara dirinya dan Bryant. Sontak saja sang suami berhenti, tatapan mata keduanya saling beradu. Wajah cemas Ara dan wajah tenang Bryant saling beradu, seperti pasangan yang tengah merajuk dan membujuk. Mama Bella tak melewatkan kesempatan untuk mengabadikan momen romantis itu.
Beberapa jepretan kamera ponsel menjadi perwakilan untuk mengabadikan kebahagiaan sederhana dari keluarga baru Bryant dan Ara. Dimana Ara memeluk mangkuk sop buah begitu erat dan berpikir makanannya itu akan direbut suaminya sendiri. Ternyata sang suami hanya ingin mengelap bibir yang belepotan.
"Makan yang benar. Lihat, bibirmu penuh yogurt. Bagaimana kalau digigit semut?" ujar Bryant yang kembali mengelap bibir Ara dengan sabar dan telaten, membuat bumil justru tersenyum lebar tanpa rasa bersalah. "Mau ku suapin? Kemarikan."
"Beneran disuapin? Bukan diminta kan." tanya Ara memastikan, sontak saja Bryant terkekeh tak kuasa menahan rasa gemasnya.
"Jadi, istriku yang manis berpikir. Suaminya ini mau merebut makanannya?" tanya balik Bryant kembali menahan kekehan geli yang menggelitik perut, apalagi anggukan kepala Ara menjelaskan kesalahpahaman yang sungguh lucu. "Aku hanya akan menyuapi istriku. Jadi, apa bisa berikan mangkuknya? Istriku yang manis."
__ADS_1
Drama kecil diantara Bryant dan Ara semakin sering terjadi. Apalagi sikap Ara yang selalu menggemaskan dengan kepolosan, sedangkan Mama Bella berharap. Semua kebahagiaan itu tidak akan surut seperti hempasan ombak di lautan.