Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 183: Tindakan Darren, Keputusan Ara


__ADS_3

Setelah bartender memberikan pesanannya, dan meninggalkan kedua tamu asing itu, membuat pria yang datang terlambat tanpa sungkan membuka wine yang terendam di ember stainless penuh es batu. Lalu menuangkan ke dalam dua gelas tinggi yang ada di depannya.


Satu gelas disodorkan ke Darren, sedangkan satu lagi untuknya. "Bersulang!"


Gelas wine yang berembun dimainkannya. Tatapan mata menunduk dengan lirikan tajam terpusat pada pria yang ada di hadapannya. Akbar Wijaya. Setelah mendapatkan celah untuk melakukan penjebakan. Darren memutuskan untuk menyelesaikan tugas pentingnya.


Apa rencana pria itu? Hanya dia yang tahu, apalagi seorang bartender mengacungkan jempol dari balik nampan setelah memberikan wine ke mejanya. Wine akan terasa nikmat, ketika itu terbiasa. Lihatlah, pria pecinta wanita yang meneguk wine seperti seorang pecandu.


'"Mau tambah?" tawar Darren mengambil botol wine, tetapi tangannya memakai sarung tangan khusus dan itu membuat Akbar curiga. Seakan paham dengan tatapan menyelidik itu, "Kulitku sensitif, jadi harus tetap aman dari debu."


"Oh, begitu. Jadi, Tuan Tama tidak minum wine, juga?" Selidik Akbar yang meletakkan gelas wine, tetapi pria di depannya justru menunjukkan smirk. "Apakah ....,"


Belum juga usai mengungkapkan keraguannya. Rasa pusing mendera, bintang beterbangan berputar dii kepalanya. Kegelapan menyapa, tangannya yang terangkat terjatuh begitu saja. Smirk yang tersungging di bibir Darren terkembang sempurna. Akbar tak sadarkan diri.


Keesokan harinya. Seluruh media massa memberitakan breaking news. Sebuah berita yang langsung menggemparkan dunia. Dimana polisi telah menangkap bandar narkoba yang selama ini menjadi buronan. Tempat penangkapan adalah Club Villain. Berita itu seperti aliran listrik yang menyengat.


Bukan hanya public, tetapi Ara ikut terkejut ketika melihat wajah familiar yang digiring pihak kepolisian keluar dari club. Video penangkapan memang malam, tetapi berita tersebar di pagi hari. Wanita itu membungkam bibirnya sendiri. Siapa sangka, mantan suaminya ternyata seorang gembong narkoba.

__ADS_1


"De, air." Sam menawarkan segelas air putih yang langsung diterima Ara, wanita itu meneguk air tanpa merasakannya. "Apa yang kamu pikirkan, Ara?"


"....,"


Seseorang membuka pintu tanpa permisi. Sayangnya bukan hanya satu orang. Melainkan empat orang sekaligus. Sam ingin melarang, namun tidak bisa. Ketika melihat raut wajah semua orang. Sudah pasti ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan.


Kedatangan Bryant, Samuel, Om Alkan dan juga Papa Angkasa, membuat Ara menundukkan pandangannya. Ada rasa canggung dan emosi yang menggelitik. Jujur saja, perasaan bersalah karena tidak mampu menjaga pewaris keluarga putra masih terus meneror hatinya.


"Sam, bisa aku bicara dengan Ara? Om tidak akan mengabaikan hubungan kalian. Izinmu tetap kami harapkan." Tegas Om Al menatap Samuel serius, setiap kali tentang emosi yang menjadi pusat ikatan. Maka ia, tak akan merendahkan hubungan itu sendiri.


Saling menghargai untuk bisa saling memahami. Sam mengangguk, lalu memundurkan langkah kakinya agar Om Al bisa berdiri di dekat Ara. Tetapi, tatapan tajam terus tertuju pada Darren dan Bryant. Dimana kedua sahabatnya itu, langsung terdiam di tempat menundukkan pandangan.


Tatapan mata dalam yang menenggelamkan. Ketenangan itu nyata, tetapi bukan intimidasi. Melainkan membenarkan, mencoba untuk memberikan dukungan. "Ara, kamu tidak sendirian. Kami tahu, jika saat ini kamu tidak hamil. Aku turut berduka untuk itu, tapi kehidupan terus berjalan."


Diam menyimak, terus mencoba untuk membalas tatapan matanya. Namun, sorot mata itu mengatakan banyak hal yang terus berlari dari kenyataan hidup. Tangannya terangkat berpindah mengusap kepala wanita itu. Sentuhan seorang ayah, membuat Ara memejamkan mata.


Sesaat ingin waktu berhenti. Usapan itu terasa hangat hingga mengalir kedalam detak jantungnya. Entah kenapa, tetapi sentuhan tangan Alkan sama seperti sentuhan ayahnya. Melihat kenyamanan itu, Al menghela nafas lega. Setidaknya emosi Ara akan lebih tenang.

__ADS_1


Bukan hanya lega, kini dia bisa mengatakan tentang tujuannya datang menemui Ara. Meski begitu, dia tidak akan terburu-buru karena wanita di depannya memiliki sisi lembut dan polos. Sementara para pria lain saling menatap menahan nafas dengan harap-harap cemas.


"Ara, bisa katakan. Apa keinginan hatimu? Berpisah dari Bryant atau tetap bersama Bryant." Alkan memulai perbincangan yang akan menjadi gunjangan dalam kehidupan Ara.


Kali ini, dia hanya akan memutuskan yang terbaik untuk semua orang. Tetapi setelah mendengarkan seluruh pendapat dari para pihak yang terkait. Satu pertanyaan darinya, seketika membuat Ara membuka mata. Wanita itu menatap ke belakang. Dimana Bryant berdiri dengan tegak, namun tatapan mata terus jatuh ke bawah.


Jujur saja. Rasa rindu yang menggebu-gebu menginginkan penantiannya berakhir. Meski kesadaran mengatakan, pria itu telah membuangnya seperti barang tak berguna. Seperti apapun situasi, nyatanya hati tak mampu berpaling. Ingin melepaskan, tapi menyakitkan.


"Tanyakan itu padanya." Tegas Ara menahan suara degup jantungnya, "Apa arti seorang Ara dalam kehidupan Tuan Muda."


"Ara, aku minta maaf. Semua memang salahku. Apapun yang sudah terjadi, kamu boleh menghukumku. Disini, aku tidak memiliki hak untuk mendekati wanita yang aku cintai, tetapi percayalah. Hati dan perasaan ku hanya untukmu." Jawab Bryant tanpa menunggu tatapan intimidasi sang paman.


"Percaya? Ketika aku menyandarkan kepala menyerahkan seluruh rasa. Kenapa kamu menyerahkan diri ini, begitu saja? Seorang pria sejati akan bertanya pada pasangannya, sebelum membuat keputusan. Bagaimana aku akan percaya pada pria yang suka rela melepaskan hubungan."


Pernyataan yang menusuk, membuat Darren tersenyum tipis. Inilah yang dia suka dari Ara. Gadis sederhana, tetapi menjadi singa betina ketika seluruh dunia mempertanyakan siapa dirinya. Meski begitu, dia sadar, jika sekarang tidak boleh menganggap wanita itu lebih dari seorang adik.


"Buktikan." Tugas Ara mantap, "Aku tahu, status kita tidak sah. Kebenaran itu selalu setipis kulit bawang. Riskan, namun tidak mungkin salah. Om, Aku akan menggugat Akbar dalam kasus perceraian, tetapi selama proses berlangsung. Bryant tidak boleh bertemu denganku. Apapun alasannya."

__ADS_1


"Dimengerti. Bry, kamu dengar keputusan Ara? Silahkan keluar!"


Kejam, tapi bisa apa? Selain menyeret langkah kakinya untuk meninggalkan ruangan itu. Kepergian Bryant yang lesu, membuat Sam tak tega. Namun, dia tak ingin menarik hak Ara atas hidupnya sendiri. Sepertinya semua pria setuju, dan mencoba memahami keputusan wanita itu.


__ADS_2