
"Ocy, are you okay?" tanya Kinara sekali lagi seraya menggoyangkan bahu Ocy.
Wanita yang kini memegang laporan hanya tersenyum tipis, lalu meninggalkan bangku taman itu tanpa memberikan jawaban. Sontak saja, Kinara menggelengkan kepala dengan tatapan tak percaya. Sikap Ocy memang ambigu maksimal. Satu hal terlintas dalam pikirannya. Bagaimana bisa, seorang dokter seperti Samuel menerima wanita absurd?
"Dia itu, kenapa? Tiba-tiba bisa pergi tanpa memberikan jawaban. Huft, baik di sini ataupun di sana. Semuanya orang bersikap aneh dan sesuka hati. Sebenarnya, aku ini hidup di mana? Beneran, deh. Lebih baik bekerja di rumah sakit saja," Kirana mengeluh, wanita itu juga ikut meninggalkan taman untuk masuk ke dalam rumah.
Setelah kepergian kedua wanita itu. Sebuah mobil memasuki halaman rumah. Pintu gerbang yang akan selalu terbuka dan tertutup secara otomatis, membuat rumah itu memiliki sistem keamanan dan juga kecanggihan yang cukup memadai. Seorang pria keluar dari dalam mobil. Pria dengan pakaian santai itu terlihat tidak sabaran.
Langkah kakinya berjalan menyusuri halaman rumah. Pria itu memasuki rumah yang ditempati oleh sang istri. Ya, dialah Bryant. Rasa bersalah karena meninggalkan Ara di rumah sakit, membuat pria itu tak ingin pergi ke kantor dan justru bergegas kembali ke rumah di mana istrinya tinggal. Termasuk meninggalkan Hazel yang meminta ia untuk tetap dirumah utama.
Iya tak ingin ada salah paham ataupun nanti berpengaruh pada kesehatan sang istri. Terlebih dengan jelas Samuel telah memberikan kabar bahagia bahwa Ara telah hamil. Langkah kakinya, semakin mendekati kamar sang istri. Namun, tiba-tiba terdengar suara percakapan dari dalam kamar. Percakapan yang cukup membuat dirinya untuk diam sejenak di depan pintu.
"Dek, apa yang kamu lakukan. Apa begini caramu?" Samuel masih berusaha membujuk Ara agar mau berbicara, tapi sayang sekali yang diajak untuk berbicara justru masih terdiam menatap keluar jendela, "Apa kamu tidak menganggapku sebagai kakak?"
Satu pertanyaan itu, membuat Ara menghela nafas. Wanita itu membalikkan tubuh, lalu menatap seorang pria yang kini menatapnya dengan tatapan khawatir dan juga sendu. Samuel, bahkan ikut tegang dan juga sedih karena sikapnya yang berubah drastis. Tidak ada kata, dan tidak ada jawaban. Selain tatapan mata lelah berkabut luka.
__ADS_1
Ara menghamburkan diri memeluk Samuel. Rasa sesak di dada yang ia rasakan. Tidak bisa lagi ditahan. Sungguh ini menyiksa dan tidak bisa dijabarkan. Hanya ada air mata yang mengalir begitu deras. Samuel membiarkan sang adik memeluknya begitu erat. Meski ia menyadari pakaiannya basah akibat tetesan air mata. Tetap saja, tidak ada niat untuk menghentikan Ara.
Samuel mengusap lembut kepala sang adik. Berharap Ara bisa lebih tenang dan juga siap bercerita. Saat ini, Ara tengah melampiaskan semua kesedihan yang ntah sejak kapan terpendam. Suara tangisan wanita itu, cukup terdengar jelas di balik dinding depan kamar. Bryant tak ingin merusak suasana dan memilih tetap berdiri di depan kamar.
Ia ingin memastikan semua baik. Setelah beberapa menit, akhirnya Ara berhenti menangis. Samuel yang ada di dalam bergegas memberikan air minum, dan juga mengajak adiknya untuk duduk bersama di atas ranjang. Pria itu terlihat begitu tenang dan dewasa menghadapi sang adik angkat.
"Ara, Aku tidak akan memaksakan kamu untuk berkata jujur. Aku akan mendengarkan dan memastikan semua baik untukmu. Hanya saja, kakakmu ini bukan peramal. Iya kan? Bisa katakan sedikit saja, apa yang menjadi kegelisahan hatimu saat ini," ujar Samuel menatap Ara dengan tatapan kasih sayang.
Helaan nafas yang terdengar berulang kali. Sudah jelas, jika Ara tengah diambang dilema dan rasa yang tidak bisa dijabarkan. Semua menjadi buruk, tapi juga sudah berlalu. Meski masa lalu tidak bisa diubah. Bagaimana dengan masa depan. Apakah semua akan berjalan baik, atau memberikan kejutan yang sama seperti di masa lalu.
"Baiklah, Aku akan turun menyiapkan makan siangmu. Istirahat, ya. Jika perlu apapun, panggil saja aku atau yang lain melalui interkom," ucap Samuel, lalu bangkit dari tempat duduknya.
Pria itu baru saja membalikkan tubuh, tapi seketika terhenti karena Ara mulai membuka suara.
"Ka, Aku melihat mantan suamiku."
__ADS_1
"Dimana?" tanya Samuel, kini pria itu kembali menatap adiknya dengan tatapan mata serius.
Bryant sudah menceritakan secara detail. Bagaimana awal mula pernikahan siri itu bisa terjadi, tapi informasi masih hanya setengah. semua itu, karena sang sahabat tidak bergegas mencari tahu latar belakang Ara. Meski ada Om Alkan yang bertugas sebagai pengacara keluarga, tetap saja itu tidak cukup.
Masalalu yang pasti cukup menorehkan luka begitu dalam di hati Ara. Refleksi dari luka itu, terpancar dari sorot mata adiknya. Sendu, hampa, kecewa dan keraguan. Sudah pasti memiliki alasan yang cukup besar dan tidak bisa dijelaskan begitu saja.
"Dek!" panggil Samuel, membuat Ara mengerjapkan mata.
"Maaf, Ka. Aku tidak mau membahasnya, boleh aku tidur?" tanya Ara mengalihkan topik pembicaraan.
Samuel tak ingin memaksa, apalagi kondisi Ara tidak akan semakin lebih baik. Meskipun, dipaksa untuk bercerita, "Istirahatlah, Aku akan turun."
Ara mengangguk, lalu membaringkan tubuhnya ke ranjang. Samuel masih sempat menyelimuti tubuh sang adik. Setelah memastikan Ara memejamkan mata, barulah pria itu berjalan meninggalkan kamar sang adik.
Disaat tangannya bersiap menutup pintu, ada tangan yang menahannya, "Kamu...,"
__ADS_1
Satu jari yang di letakkan didepan bibir, membuat Samuel terdiam dan menurut. Ia membiarkan langkah kaki sahabat nya masuk ke dalam kamar, baru setelah itu menutup pintu kamar.