Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 119: SEMUA KARENA CINCIN ITU


__ADS_3

"Ara, jujur padaku. Cincin ini milik siapa?"


Ara menyipitkan mata, "Kakak kenapa? Apa ada yang salah dengan cincin itu? Itu milikku selama ini, apa yang kakak tahu tentang cincin ku?"


Niat hati ingin menginterogasi adiknya, tapi justru diinterogasi duluan. Sontak saja, Sam menepuk keningnya sendiri. Lalu, ia beranjak dari tempat duduknya, kemudian memegang kedua bahu Ara. Keduanya saling menatap satu sama lain. Sepintas terlihat seperti pasangan, tapi bagi yang tidak mengetahui hubungan kedua insan itu, ya.


"Ara, apa kamu tahu cincin itu dibuat oleh siapa?" tanya Samuel menatap adiknya lebih lembut agar wanita yang tengah hamil tidak merasa tersinggung.


Keseriusan di wajah Sam, membuat Ara tak tega, "Cincin itu milikku. Jika kakak tanya siapa yang buat, aku tidak tahu. Cincin itu dari seseorang yang sudah meninggal dunia. Dia orang yang selalu menjadi pelindung, tapi terakhir kali aku mendengar kabar, bahwa dia mengalami kecelakaan di pesawat."


Siapa sangka cincin dari sebuah perusahaan ternama dimiliki Ara dan lebih anehnya lagi. Sekilas cerita adiknya cukup masuk akal dan bersinggungan dengan tragedi yang menimpa sebuah keluarga. Satu hal yang menjadi pemikiran Sam saat ini. Siapa yang dimaksud Ara? Apakah tuan muda sulung atau tuan muda bungsu. Jika mengingat usia, kemungkinan terbesar adalah tuan muda sulung.


Jika Ara berkata si pemberi cincin telah meninggal dunia, lalu siapa yang menggantikan tuan muda sulung? Seingatnya, tuan muda bungsu yang selama ini selalu wara-wiri di setiap pertemuan bisnis. Pertanyaan demi pertanyaan, membuat Samuel melamun. Lamunan itu berhasil buyar ketika sebuah tepukan di lengan ia rasakan. Ternyata sang adik merasa cemas melihat tingkahnya.

__ADS_1


"Kakak kenapa? Apa cincin itu hasil pencurian? Eh, tidak. Aku tahu, dia tidak mungkin melakukan itu. Mana ada ketua senat menjadi seorang pencuri," Ara berceloteh memberikan pertanyaan dan jawaban sendiri, hal itu menghadirkan kekehan kecil dari sang kakak, "Ish, nyebelin. Malah diketawain lagi, mending Ara balik ke sana aja."


Wajah manis Ara berubah menggemaskan karena bibir yang dimajukan beberapa senti seraya menghentakkan kaki, lalu melepaskan tangan Sam, kemudian berjalan meninggalkan pria itu. Sementara Sam sendiri menatap cincin yang ada ditangan kanannya. Sekali lagi ia memeriksa, tapi dugaan nya tidak salah. Cincin itu memang dari sebuah perusahaan ternama dengan brand D'Jewelry.


Kesibukan Sam mengamati cincin itu. Tanpa pria itu sadari, ada seseorang yang tengah menatapnya dari sisi lain. Tatapan mata yang tidak percaya. Setelah sekian lama, cincin yang selalu ia cari, hari ini ditemukan. Meskipun jarak pandang cukup jauh, ia tahu perbedaan dari berbagai jenis perhiasan dari sekali pandang. Begitu juga dengan cincin itu, dimana saat terkena sinar matahari memancarkan dua warna.


"Siapa wanita itu? Kenapa orang-orang memanggilnya Ara? Seharusnya yang memiliki cincin itu Ayra, sedangkan gadisku tidak memiliki saudara karena dia anak tunggal. Apakah mungkin...," gumam pria itu bermonolog pada dirinya sendiri dari tempatnya berdiri.


Pemikiran dari yang tidak mungkin menjadi mungkin. Tetap saja tidak menemukan titik pencerahan, dan kini cincin sudah berpindah tangan. Jadi, bagaimana caranya untuk mencari gadis yang selama ini menjadi bayangan di dalam ingatan. Sungguh sulit, jangankan alamat rumah. Wajah gadis itu masih berselimut awan kegelapan. Satu hal yang tidak terlupakan, hanyalah sebuah nama yang selalu menjadi suara hatinya.


Piknik berlanjut hingga waktu makan siang, dan setelah selesai melakukan sesi foto keluarga. Barulah mereka mengakhiri acara liburan yang dadakan itu, dan kembali melakukan perjalanan pulang. Tiga mobil itu masih beriringan selama perjalanan. Namun, tak satupun anggota keluarga Putra menyadari. Jika ada sebuah mobil yang mengikuti mereka dari tempat piknik.


Tatapan mata yang tegas dibalik kacamata hitamnya. Seorang pria yang menyetir mobil dengan begitu handal menjaga jarak agar tidak ketahuan tengah menjadi penguntit. Satu tangan digunakan untuk memutar kemudi, sedangkan satu tangan lagi sibuk memainkan sebuah boneka mini yang ada di sampingnya. Jelas sekali hal itu dilakukan untuk mengurangi rasa cemas di hatinya.

__ADS_1


Ketika mobil keluarga Putra mulai memasuki daerah perumahan elite. Mobil penguntit juga tidak tinggal diam. Untung saja di daerah itu, ia juga memiliki seseorang yang bisa dijadikan sebagai alasan untuk memasuki wilayah perumahan. Kini, ia tahu rumah mana yang akan menjadi target dan sungguh kebetulan yang tidak terduga. Ternyata rumah itu berdekatan dengan rumah calon tunangannya.


Tiga mobil keluarga Putra memasuki rumah Ara, sedangkan mobil terakhir memasuki rumah yang berjarak sekitar lima meter lebih ke sisi lain. Namun, tetap saja seperti saling berhadapan meski jarak cukup jauh. Semua akan ia lakukan demi mendapatkan kebenaran dan ingatan yang menghilang dari dalam memori otaknya. Nama yang selalu menjadi semangat dan harapan harus mendapatkan wajah yang nyata.


"Mama! Lihat, siapa yang datang," Wanita dengan pakaian sexy keluar dari dalam rumah, ketika mendengar suara mobil memasuki kediamannya, dan ketika wajah sang kekasih yang muncul, wanita itu berlari seperti anak kecil, "Pangeran ku tumben kemari. Kangen, ya?"


Jangan berpikir akan mendapatkan senyuman yang manis setulus hati. Pria itu langsung menepis tangan calon tunangannya dari kedua bahunya, "Sejak kapan rumah sebelah dihuni?"


"Rumah itu, maksud mu?" tunjuk si wanita ke rumah Ara, dan prianya berdehem, "Sekitar sebulan kurang, tapi belum ada acara syukuran. Jadi entahlah, siapa yang membeli rumah itu. Btw, apa kamu akan menginap disini?"


"Sejak kapan, Darren menjadi milikmu? Tidak pernah. Aku kesini untuk bertemu papa mu."


Kasar dan tidak perikemanusiaan. Yah, begitulah Darren Wiratama. Jika bukan karena perjodohan. Jangan pernah berharap. Apalagi bermimpi untuk bisa dekat dan menyentuh tubuh pria itu. Kenapa seperti itu? Darren Wiratama adalah pria spesies langka. Dingin dan tidak pernah menampakkan diri untuk sekedar mengingatkan dunia. Jika ada putra sulung dari keluarga Wiratama.

__ADS_1


Meski begitu, ia termasuk beruntung karena tiba-tiba di pilih menjadi calon menantu keluarga terpandang. Semua itu, berkat sang papa yang berhasil menarik perhatian keluarga Wiratama. Pada akhirnya, hubungan memang dimulai dengan sistem kerjasama perusahaan agar semakin maju.


Siapapun kamu, aku hanya ingin tahu keberadaan Ayra ku. Jika cincin itu ada padamu. Maka, kamu tahu dimana Ayra. ~batin Darren, lalu ikut masuk kedalam rumah Bianca.


__ADS_2