Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 54: BRYANT WITH BUNGA


__ADS_3

"Bunga!" panggilnya.


Gadis yang merasa terpanggil menoleh ke belakang, membuat apel yang terlanjur masuk ke mulut keluar berhamburan.


"Uhuk... Uhuk... Uhuk... "


"Astaga bocah ini, tunggu sebentar.'' Bryant bergegas masuk kembali ke kamar hanya untuk mengambil air minum, hitungan satu menit ia kembali dengan segelas air putih yang langsung diberikan ke bunga, "Minum!"


Suara air yang diteguk terdengar begitu keras, membuat Bryant geleng-geleng kepala. Lagian kenapa gadis si biang onar bisa ada di kamar pamannya? Terlebih saat ini pemilik kamar tidak ada di tempat. Jika tahu kamar yang selalu rapi menjadi kapal pecah. Ntah bagaimana nasib Bunga nanti. Lihat saja kulit buah yang berserakan di kursi dan lantai.


"Thanks, Bro. Btw kapan kamu pulang? Mana istri sok mu itu?" tanya Bunga setelah merasa baikan.


Bryant menaikkan satu alisnya menatap Bunga, "Seharusnya aku yang tanya kamu, ngapain kamu di kamar paman?"


"Aku?" Bunga menunjuk dirinya sendiri, Bryant mengangguk. "Ini kamar ku mulai hari kemarin."


"WHATS?!" Seru Bryant tak percaya.


Teriakan Bryant sontak membuat Bunga menutup kedua telinganya. "Ish, kau ini bro. Bisa tuli muda aku. Gak usah teriak gitu, deh.''

__ADS_1


Bryant menghela nafas untuk menetralkan rasa terkejutnya. Lagipula mana mungkin kamar pamannya menjadi kamar Bunga. Ia tahu seperti apa Alkan. Pria dengan status bujang itu tidak pernah mau diusik. Apalagi kamar yang selalu dianggap sebagai ruangan menyendiri. Ekspresi wajah tak percaya Bryant, membuat Bunga mendengus sebal.


"BRYANT!" panggil Bunga mengeraskan suaranya.


"Hmm. Cepat bereskan kekacauan yang kamu buat! Aku harus mengambil berkas, dan satu lagi. Pindah saja ke kamar mu!" Ucap Bryant dengan langkah kaki siap meninggalkan Bunga.


Bunga melongo, ia lupa jika pria yang dirinya anggap sebagai kakak itu masih tidak tahu tentang pernikahannya dengan Al. Tak ingin menerima ceramah pagi, maka lebih baik menurut. Siapapun yang menjadi keluarga Putra pasti tahu ceramah dari tuan muda bisa melebihi panjang kereta api. Yah, meskipun hanya dengan orang-orang terdekat saja.


"Bunga!" panggil Bryant mengingatkan.


"Yes, Bro." jawab Bunga.


Punggung Bryant akhirnya menghilang dari pintu balkon, membuat Bunga bernafas lega.


Sementara Bryant membuka lemari yang biasa menjadi tempat penyimpanan berkas. Dimana ia ingin mencari dokumen untuk mengurus pekerjaan seminggu ke depan dari rumah. Begitu lemari terbuka, nampak deretan file dengan warna senada berbaris rapi sesuai dengan urutan nomor. Siapapun yang melihat pasti mengatakan satu hal. "Perfect".


File diperiksa satu persatu, tapi setelah diteliti. Ternyata semuanya sudah dikerjakan. Bryant tenggelam memeriksa file hingga melupakan bunga yang sibuk mengoceh seperti burung beo di balkon. Dua puluh file yang menjadi project sebulan ke depan semua sudah dikerjakan. Namun, di saat bersamaan. Netranya tak sengaja melihat surat nikah di dalam rak khusus milik sang paman.


"Buku nikah? Punya siapa?" gumam Bryant, mengambilnya lalu membolak-balikan buku nikah yang ia temukan.

__ADS_1


Bunga yang baru saja masuk, melihat apa yang ada di tangan Bryant langsung gugup, dan tanpa sadar menjatuhkan keranjang buah yang berubah menjadi tempat sampah. Kulit buah berserakan di lantai, dan tindakannya berhasil mengalihkan perhatian Bryant. Buku nikah di taruh ke tempat semula, lalu langkah kaki pria itu berjalan menghampiri gadis pembuat onar.


"Kaki ku kesandung, jangan marah ya, bro." ucap Bunga memelas.


Wajah manis bermata hazelnut mengeluarkan jurus terbaik dengan puppy eyes yang menggemaskan. Bryant tak ingin paginya berubah menjadi kepulan asap. Maka lebih baik diam. Tanpa kata ia berjongkok di depan bunga mulai memungut sampah kulit buah.


"Bro, jangan diem gitu. Marah aja kalau memang....,"


Bryant mendongak melihat ke atas melayangkan tatapan tajam agar gadis itu diam. Tangannya masih sibuk membersihkan kekacauan, tapi ada rasa tak tega harus bersikap dingin pada bunga yang sebenarnya umur mereka berdua bisa dibilang tidak terpaut jauh.


Astaga, punya kakak satu lagi mode garang. Awas aja nanti, kalau pernikahan ku terbongkar. Tabunganmu abis buat request hadiah pernikahan ku.~batin Bunga tersenyum mengalah.


Lima menit kemudian. Lantai kembali bersih. Keranjang kulit buah yang ditenteng Bryant adalah hasil akhirnya. Tatapan mata masih saja tajam, membuat bunga menundukkan wajahnya.


"Aku akan buang sampah ke bawah, dan kamu pergilah ke kamar mu!" Bryant berjalan meninggalkan Bunga, tak lupa ia kembali menutup lemari serta menguncinya kembali.


"Bro!" panggil bunga menghentikan pergerakan Bryant.


Pria itu hanya berhenti tanpa berbalik melihat bunga.

__ADS_1


"Apa kamu ingat janjimu setahun lalu?" tanya bunga pelan tetapi cukup jelas terdengar di telinga Bryant.


Pertanyaan Bunga, membuat Bryant mengubah posisinya. "Janji yang mana?"


__ADS_2