
Ara mengulurkan tangan kanannya, "Mari kita belajar bersama. Memberikan cinta tanpa pamrih. Berkata jujur tanpa ragu. Tegurlah ketika melakukan kesalahan, dan biarkan takdir Yang Maha Kuasa menjadi akhir pelabuhan doa."
Seperti aroma embun pagi. Uluran tangan Ara, membuat Bryant menyunggingkan senyuman tulus di bibirnya. Ia tak pernah menyangka akan mendapatkan seorang istri seperti wanita yang kini berdiri di depannya dengan ketegaran serta kebaikan hati. Sungguh, kini hatinya berdesir hebat. Perasaan yang sudah lama hilang. Hari ini datang menyapa. Perasaan jatuh cinta.
Namun, ada rasa yang menyesakkan dada. Rasa bersalah itu tidak bisa dipungkiri. Ingin rasanya berkata jujur tentang statusnya yang memiliki istri sah, tapi bibir kelu tak bisa mengucapkan sepatah katapun. Hati menjerit, tapi tetap rasa itu tidak sanggup ia utarakan. Sungguh, kini jiwa terasa begitu tersiksa. Andai satu kata bisa keluar mengungkapkan kebenaran.
Penyesalan dan rasa bersalah yang tidak bisa ia ucapkan menjadi kebisuan berbalut senyuman. Ia menerima uluran tangan Ara, lalu berdiri dan merengkuh tubuh sang istri. Hanya pelukan yang bisa dia lakukan. Jangankan meminta maaf, bahkan untuk berterima kasih pun. Bibirnya seperti dikendalikan orang lain. Pelukan yang semakin erat, membuat Ara membenamkan diri ke dalam bidang dada Bryant.
Maafkan aku, semoga suatu saat nanti. Ketika kebenaran tentang hubungan ku dengan Hazel terungkap, kamu tidak membenciku. Aku hanya bisa memohon ampunan atas semua ketidakberdayaan ku. Ara istriku. ~batin Bryant membiarkan raganya menyatu dengan raga sang istri.
__ADS_1
Kebersamaan suami istri itu, justru berbanding terbalik dengan situasi di rumah lain yang kini terasa sunyi seperti kuburan. Seorang wanita menatap keluar jendela rumah. Di bawah sana hanya ada taman dengan pepohonan hijau di beberapa pot tanaman hias. Tidak ada bunga yang berwarna, meski satu biji pun.
Tatap matanya kosong, untuk pertama kalinya ia merenung. Semua memori kembali ia putar. Tidak ada yang tertinggal, satu hal yang dirinya sadari. Kehidupan telah banyak berubah. Rasa di hati dan juga ambisi. Meskipun ditawarkan kembali ke masa lalu, tetap saja ia ingin memilih takdir yang sama. Semua orang melihat kehidupannya bergelimpangan harta dan pasti bahagia.
Kenyataannya, bukan tentang apa yang dia miliki saat ini. Nyatanya ia kesepian. Rumah yang besar perlahan terasa hampa. Semua ini memang kesalahannya. Andai sejak awal, dia mau hamil. Mungkin tidak ada hari sunyi seperti saat ini, seolah kesadaran datang menghantam nya. Helaan nafas panjang yang sejam satu jam menjadi teman setia di dalam kenangan sejarah hidup seorang Hazel.
"Jika inseminasi buatan itu berhasil, bagaimana aku akan mengatakan kehamilan ku?"
"Apalagi, hubungan ranjang sudah sangat lama tidak dilakukan. Sudah pasti, Bryant tidak akan percaya jika itu anaknya. Apa aku harus menjebak seperti malam itu?"
__ADS_1
Hazel meninggalkan jendela kamarnya, lalu berjalan menghampiri cermin besar di sisi kiri ranjang. Tatapan mata, menatap tubuh ideal yang menjadi aset karirnya selama ini. Tubuh yang ideal dengan pesona yang tidak bisa dipungkiri. Namun, semua itu tidak akan berarti pada akhirnya. Jika sampai, ia kehilangan suami seperti Bryant. Banyak pertanyaan yang tidak akan mendapatkan jawaban.
Janji yang terucap dimalam itu, membuatnya tidak bisa berkutik. Andai saja, dirinya tidak menyanggupi persyaratan Bryant. Sudah pasti, ia akan meminta diperkenalkan dengan istri siri suaminya. Pikiran tidak bisa lagi diajak bekerjasama. Semua menjadi satu tercerai berai memenuhi benaknya.
Tidak ada yang bisa ia lakukan. Namun, tiba-tiba satu nama terlintas. Sebuah nama yang mungkin bisa memberikan ide untuk mengakhiri masalahnya. Yah, pasti nama itu bisa mendengarkan keluh kesahnya dan mau memberikan saran yang licik. Tak ingin menunggu waktu lebih lama lagi, ponsel yang tergeletak di atas meja rias ia raih. Kemudian dengan cepat mencari satu nomor yang akan menjadi lampu ajaib.
"Halo, temui aku di cafe Star malam ini pukul tujuh dan aku akan bayar sepuluh juta cash. Jangan terlambat."
Tanpa menunggu panggilan terjawab. Hazel langsung menutup obrolan itu dari pihaknya, ia tak ingin mendengarkan penolakan. Saat ini, masalahnya harus mendapatkan solusi secepat mungkin. Tidak peduli jika harus mengeluarkan banyak uang sekalipun. Hanya satu yang memenuhi isi kepalanya yaitu mendapatkan hati Bryant kembali.
__ADS_1