Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 111: SEKALI SAJA, UBAH POSISI


__ADS_3

"Sudah? Silahkan keluar! Di belakangmu ada pintu. Pergilah!"


Bryant benar-benar tidak sanggup berada satu ruangan dan menghirup udara yang sama dengan Rachel. Bagi pria itu, Rachel adalah virus. Jangankan melihat, jika bisa lebih baik membuang wanita itu ke dasar laut samudera Hindia aja. Wah, bener. Itu lebih baik, sedangkan Muel harus ikut menahan diri agar tidak ikut meledak mengikuti emosi sang sahabat.


"Sayang, bisa tolong antarkan dokter Rachel keluar dari rumah ini? Pastikan sampai mobilnya jauh dari pandangan matamu," pinta Samuel melirik ke arah Ocy, membuat sang kekasih mengangguk paham, dan mengulurkan tangan agar wanita yang menjadi penyulut bara api mau keluar meninggalkan rumah bersamanya.


Kedua wanita itu berjalan menjauh, membuat Muel mengajak Bryant untuk duduk di sofa bersamanya. Tak ingin menambah ketegangan, keduanya hanya terdiam untuk mengembalikan emosi yang sempat meledak. Suara helaan nafas terdengar cukup jelas. Ntah sudah berapa kali, tapi selama lima menit hanya itu yang mereka lakukan.


"Bry, sudah lebih baik?" tanya Muel mencoba untuk memulai perbincangan di antara keduanya, sang sahabat mengangguk, lalu meraih gelas, kemudian menuangkan air putih dari teko kaca.


Setelah beberapa saat memberikan waktu pada Bryant untuk meredakan emosi dan kembali tenang. Muel mengubah posisi duduknya, dan kini berhadapan dengan sang sahabat. Tatapan mata yang serius dengan wajah tegas yang menegaskan tidak ada waktu untuk bercanda. Begitu juga dengan yang ditatap, pria itu berusaha untuk membalas tatapan sahabatnya.


"Kenapa kamu menyimpan luka di dalam hatimu? Aku tahu seberapa besar kepedulian dan rasa sayangmu untukku, tapi Bry. Luka itu bisa menjadi dendam dan kebencian. Aku sudah mengikhlaskan semua masa lalu ku, disini," Muel menunjuk ke arah dadanya sendiri, "Hati ini tidak lagi mencintai wanita itu karena semua sudah berakhir. Benar, aku sudah move on."


"Katakan satu hal padaku. Apa persamaan antara ikhlas dan sabar? Keduanya tidak bisa dipisahkan. Iya bukan? Memang benar, aku merasa muak dan tidak bisa berada satu atap dengan wanita pengkhianat itu. Jujur saja, setiap kali melihat wajah polos dengan senyuman palsu Rachel. Hati dan pikiranku seperti terbakar dengan suara yang menggema. Suara yang mengatakan. Wanita itu tidak pantas untuk mendapatkan cinta mu."

__ADS_1


Samuel masih terdiam. Kali ini, dia ingin mendengarkan terlebih dahulu. Kenyataan yang selama ini tersembunyi. Terlalu lama terpendam. Dulu, mereka tidak bisa melampiaskan amarah karena hanya fokus dengan perubahan mentalnya. Akan tetapi kali ini, sisa rasa sakit yang telah berlalu. Tiba-tiba saja mencuat dan menjadi bumerang disertai amukan karena dikuasai emosi.


"Aku masih ingat pertama kali melihat keadaanmu yang bersimbah darah dengan luka gores di pergelangan tangan. Warna merah dengan aroma anyir yang membuat ingatanku seperti tenggelam dalam rasa takut. Apa kamu tahu, disini terasa sesak tidak bisa bernafas. Bukan hanya aku, tapi seluruh keluarga merasakan hal sama yaitu takut kehilangan dirimu. Muel, luka ini tidak ingin menetap. Namun, tidak bisa dilepaskan begitu saja."


"Sekali saja, ubah posisi. Apakah kamu bisa menerima semua kenyataan itu dari sudut pandang ku? Di antara kita, satu rahasia pun tidak ada yang disembunyikan. Kamu bukan hanya sahabat, tapi juga saudaraku. Sampai disini, tidak ada lagi yang bisa aku jelaskan," Bryant menyandarkan punggungnya ke belakang seraya memejamkan mata, sedangkan Samuel langsung merasa tersudut.


Apapun yang Bryant katakan adalah benar. Jika posisi mereka di balik. Kemungkinan besar, kesabaran yang ia miliki tidak seperti rasa sabar sang sahabat. Selama bertahun-tahun bisa menahan dan menyembunyikan emosi yang berbalut luka. Jika pikirkan, mana ada yang bisa bertahan di dalam situasi. Dimana sering melihat sahabat sendiri gagal melakukan percobaan bunuh diri. Tidak ada, dan jika ada. Pasti mental ikut oleng karena rasa takut kehilangan.


"Aku tidak memiliki kata untuk mengembalikan masa itu, dan tidak juga untuk membela keputusan ku yang salah. Rachel memang berkhianat, tapi disini aku juga bersalah. Sebagai seorang pria, aku tidak mau bangkit dari keterpurukan dan justru melakukan dosa yang tidak termaafkan. Rasa sakit, rasa takut kehilangan, dan rasa kecewa menjadi satu. Bry, aku tidak bisa memperbaiki keadaan di masa lalu. Meski begitu, aku ingin membuat hidup di masa kini menjadi lebih baik."


"Satu pintaku, lepaskan luka yang menyakitimu. Percayalah, aku sudah berdamai dengan diriku sendiri. Bryant! Lihat aku. Hidup kita tidak tentang masa lalu, tapi tentang hari ini dan esok. Come on, kita tidak selemah itu dan menjadi budak nafsu dari amarah yang membara."


Samuel mengangguk tanpa ragu, karena memang itu yang sebenarnya. Tidak ada sisa rasa untuk Rachel. Saat ini, semua sudah menjadi abu. Jangankan kenangan. Rasa cintanya saja tidak berbekas. Kenapa begitu? Semua itu karena ia menyadari keluarga yang lebih berharga dari apapun. Kedewasaan yang ia miliki, tak luput dari proses yang menyakitkan. Lihatlah, akibatnya juga masih bisa dilihat dari murkanya sang sahabat.


Percakapan di antara Bryant dan Samuel begitu serius, membuat kedua pria itu tidak menyadari ada wanita yang berdiri tak jauh dari tempat mereka dengan perasaan berkecamuk. Pertanyaan demi pertanyaan mulai mengabsen kan diri dan mencoba untuk mencari jawaban yang pasti. Yah, dialah Ocy yang harus menahan diri untuk tetap berdiam diri di tempatnya.

__ADS_1


Sementara di tempat lain. Tangan putih berulang kali memukul stir kemudi seraya menahan gemuruh di hati. Ntah sudah berapa lama bibirnya terus meracau tidak jelas. Keadaan yang benar-benar tidak stabil, membuat orang itu kehilangan fokus dan kendali. Tiba-tiba dari arah lain muncul sebuah mobil lain, hingga tabrakan itu tak bisa dihindari. Suara dentuman keras, membuat kedua mobil mengalami rusak parah dan berakhir menjadi kemacetan lalu lintas.


Orang-orang berlarian untuk segera melakukan pertolongan pertama pada korban kecelakaan itu, tapi dari salah satu mobil. Seorang pria keluar dengan memegang kepalanya yang berdarah. Pria itu tidak tinggal diam, dan membantu penghuni mobil yang menabrak mobilnya. Kejadian itu benar-benar cepat dan untung saja segera ditindaklanjuti.


Setengah jam kemudian. Di sebuah klinik terdekat yang tidak begitu ramai. Kedua korban tabrakan selesai ditangani dokter umum di klinik tersebut. Dokter pria yang bernama Rahadi mempersilahkan kedua pasiennya untuk tetap beristirahat di ruangan masing-masing yang hanya dibatasi sebuah tirai biru tua, "Permisi, Tuan. Bisa tolong berikan nomor keluarga Anda? Saya akan memberikan kabar tentang kecelakaan yang menimpa Anda."


Pria yang hanya terluka di kepala dan tergores sedikit di lengan memilih bangun dari atas brankar, "Boleh pinjam ponselnya? Ponselku rusak karena terpental ke belakang saat insiden tadi."


Dokter Rahadi mengangguk, lalu memberikan ponselnya pada sang pasien. Ia membiarkan pasiennya menghubungi keluarganya sendiri. Lagipula berita yang seserius itu, akan lebih baik dari orangnya langsung. Jika tidak, pasti membuat kepanikan yang luar biasa.


...----------------...


......................


Reader's tersayang, jangan bosen ya, setiap hari, othoor kasih rekomendasi novel yang bisa menemani kalian di waktu senggang. Yuk kepoin, tinggalkan jejak juga 😁 mari kita sebarkan semangat. Berkat kalian, Author lanjut nulis, loh. 🤭

__ADS_1



......................


__ADS_2