
Perkataan Al sungguh menenangkan dan benar adanya. Namun, pria itu tidak menyadari anggukan sang istri menyimpan luka. Luka yang bersembunyi di balik senyuman manisnya.
Percakapan itu diakhiri dengan senyuman. Bunga membawa suaminya untuk masuk ke dalam kamar. Ia juga tak lupa memberikan kopi yang telah dibuat,"Mas, ini kopimu. Minumlah. Setelah ini, aku akan membantu untuk membereskan kamar."
"Duduklah, di sini!" kata Al sembari meraih tangan sang istri.
Bunga melepaskan tangannya dari cekalan tangan Al, dan tak berani menatap suaminya sama sekali, "Aku, ingin ke bawah untuk membuat sarapan. Jadi izinkan, aku pergi."
Al menatap istrinya dengan tatapan penuh arti, "Kamu, kenapa? Kenapa tidak mau bicara denganku?"
Bunga hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum. Dia tak ingin untuk memperpanjang sebuah masalah, "Udah dulu, ya, aku akan ke bawah dan kembali setelah tiga puluh menit."
Sikap tak biasa Bunga membuat Al tak ingin menekan istrinya dan dia membiarkan sang istri untuk keluar meninggalkan kamar. Waktu berlalu dan ia masih termenung memikirkan apa yang sudah terjadi. Bukankah semalam dirinya bersama sang keponakan. Lalu, apa saja yang mereka bicarakan? Ingin sekali mengingat lagi, tapi kepalanya semakin berat.
Sementara orang yang tengah dipikirkan Al. Justru sibuk menata foto-foto yang kini berserakan di lantai. Foto itu adalah foto kemesraan sang istri bersama selingkuhannya. Jujur saja dirinya masih tak percaya. Meskipun berulang kali menatap foto itu. Ntah kenapa masih ada keraguan hingga ia benar-benar merasakan sakit kepala yang luar biasa.
"Apa semua ini benar? Jika benar, apa yang harus aku lakukan? Pantas saja, Mama selalu melarangku untuk meneruskan pernikahanku. Ternyata ini alasannya, tapi aku tahu bagaimana Hazel. Dia tidak akan menyerah meskipun ada bukti. Jadi apa yang akan aku lakukan. Apa aku harus menjebaknya?"
__ADS_1
Satu persatu foto itu ditata berurutan sesuai dengan sesi adegan panas. Jelas sekali itu memang benar tubuh sang istri tanpa sehelai benang dan tengah bermain panas di atas ranjang bersama pria lain. Hazel berselingkuh, bahkan tangannya bergetar hebat ketika melihat bagaimana istrinya benar-benar mempertontonkan segala sesuatunya tanpa ada rasa malu.
"Aku, harus melakukan sesuatu yang bisa menyelesaikan segalanya. Terlebih aku sudah memberitahu dia tentang Ara. Meskipun hanya mengatakan, jika aku sudah menikah lagi. Aku tahu, dia tidak akan menyerah begitu saja. Sekarang aku harus berpikir serius. Jangan sampai keputusan dan tindakan yang akan kulakukan justru menyakiti keluarga ku."
Yah, Bryant mengetahui perselingkuhan sang istri. Semua itu karena ia tak sengaja menemukan amplop coklat di dalam lemari brankasnya. Di mana sang paman mengatakan itu adalah tentang Ara, tapi ternyata salah. Bukti dari perselingkuhan Hazel bersama pria lain yang ia temukan. Entah ke mana bukti yang memang diinginkan. Namun, ya sudahlah. Mungkin memang ini sudah jalan takdir agar dia tahu. Bagaimana sikap, sifat dan watak asli sang istri ketika ia tak ada di rumah.
Aku mencintaimu tulus, bahkan demi bersamamu kurelakan meninggalkan rumahku sendiri. Apa ini balasanmu? Aku berdiri tegak untuk melindungi mu dari rasa tak suka keluarga ku dan kamu mempermainkan hubungan sakral diantara kita. Hazel, aku hanya mencintaimu tanpa syarat. Tetapi luka ini kamu yang memulai. Aku tidak akan tunduk lagi. Usai sudah rasaku untukmu. ~batin Bryant dengan tatapan nanar tertuju pada lembaran foto di depannya.
Kebenaran itu membuat Bryant memikirkan semuanya dalam satu waktu. Rasa sakit di kepala karena pikirannya tak mau berhenti sejenak untuk tenang, hingga ia tak bisa memandang segala sesuatu yang ada di sekelilingnya dengan jelas. Semua menjadi buram dan tiba-tiba gelap. Tubuh kekar itu ambruk ke lantai, tersungkur dengan kesadaran yang tidak lagi tersisa.
"Ara, kamu kenapa?" Muel bertanya dengan nada khawatir, pria itu bergegas menghampiri sang adik.
Ara masih dalam keadaan syok dan tak tahu kenapa, tiba-tiba saja gelas itu jatuh, "Maaf, Kak. Aku tidak sengaja. Tidak tahu kenapa, tapi tiba-tiba saja jatuh."
"Sudah tak apa. Lebih baik kamu duduk dulu dan aku yang akan membereskan semua ini. Sekarang sebaiknya kamu makan sarapanmu," Ocy berusaha menengahi situasi yang ada dan memberikan kode pada sang kekasih, agar membawa Ara menyingkir dari tempat dimana pecahan gelas berserakan di bawah lantai.
"Pagi, Semuanya." sambut Kinara dengan senyuman yang manis, wanita itu masih tidak tahu tentang keributan yang baru saja terjadi.
__ADS_1
Ocy mengangkat tangannya, agar Kinara tidak lagi maju ke depan, "Kinara, bisa tidak, kamu periksa keadaan Ara. Aku khawatir dengannya."
Dokter Kinara mengalihkan tatapan matanya ke arah di mana wanita yang kini tengah berdiri di samping Muel. Wajahnya sangat pucat dengan bibir terkunci rapat dan tatapan mata yang kosong. Pasti wanita itu sedang memikirkan sesuatu atau khawatir akan sesuatu.
Kinara menatap di mana Ara berada, lalu ia memberikan kode pada dokter Muel agar menyadari apa yang harus dilakukan. Pria itu bisa memahami kode dari rekan kerjanya, ia menjawab kode dengan mengangguk pelan. Kemudian, dipegangnya bahu Ara, lalu membawa wanita itu untuk duduk di kursi meja makan.
"Apa yang kamu pikirkan? Ara, bisa cerita denganku. Bukankah aku ini kakakmu sekarang? Ara, jangan membuat pikiran mu tegang dan saat ini kamu tengah program kehamilan. Jadi fokusmu adalah kesehatan, itu yang utama. Jadi, jika ada apapun yang mengganjal di hati dan pikiranmu. Katakan jangan membuat kita khawatir."
"Kamu, menganggapku seorang kakak. Mari kita bicara dari hati ke hati. Bukankah kita harus saling mendukung satu sama lain. Jadi apa yang menjadi kekhawatiranmu saat ini? Apa kamu memikirkan Bryant atau mungkin merindukannya?" tanya Muel dengan hati-hati.
Ara menghela nafas seraya menundukkan wajahnya. Dia saja bingung apa yang terjadi padanya karena tiba-tiba saja hatinya merasa gelisah. Seperti ada sesuatu yang mengusik hati, tapi ia tak menyadari apa yang terjadi. Apa sebab kegelisahan yang saat ini dirasakan. Mungkinkah karena merindukan sosok Bryant atau emang ini hanya sekedar mood yang turun. Bisa juga karena tidak fokus.
"Aku, tidak tahu kenapa, Kak. Hanya saja, tiba-tiba aku merasa gelisah. Aku hanya berharap semua baik-baik saja dan Bryant juga dalam keadaan baik. Apa kita bisa menghubungi dia, Kak? Aku ingin sekali mendengar suaranya," ujar Ara dengan suara yang sangat sedih.
"Tunggu sebentar, Aku akan menghubungi dia. Sekarang kamu harus makan demi kesehatan dan program yang kamu jalani," Muel meninggalkan meja makan, lalu ia mendial nomor yang harus dituju, tapi hanya terdengar deringan ponsel tanda masuk panggilan. Tidak ada yang mengangkat, sedangkan nada dering masih saja berlanjut.
"Ayolah, Bro, angkat. Kamu kemana, sih? Kok nggak angkat-angkat. Jangan buat aku khawatir," Muel berusaha untuk menghubungi Bryant. Akan tetapi, setelah berulang kali tetap saja tidak ada yang menjawab. Sontak ia pun merasa khawatir.
__ADS_1