Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 185: Kompaknya Kejahilan


__ADS_3

Tatapan mata curiga dari kedua pria itu, membuat Ara menahan senyumnya. Seakan sepakat melalui isyarat mata. Al mengulurkan tangan yang langsung disambut hangat. Kemudian berjalan meninggalkan Samuel dan Papa Angkasa yang masih termenung dalam kebingungan.


"Sam, apa mungkin, jika Ara putri Alkan?" Tanya Papa Angkasa yang lebih tepatnya bertanya pada dirinya sendiri.


Sam hanya bisa mengedikkan bahu, "Sebaiknya kita susul mereka, Pa."


Seperti penagih hutang yang sudah lama tidak mendapatkan setoran. Samuel dan Papa Angkasa menyusul Ara dan Alkan dengan langkah kakinya yang panjang, sedangkan yang dikejar. Justru dengan santainya berjalan meninggalkan kantor pengadilan agama menuju parkiran.



Keduanya nampak kompak, selayaknya chemistry antara anak dan ayah. Hal itu semakin mencurigakan. Padahal, Alkan dan Ara hanya menunjukkan hubungan mereka seperti yang seharusnya. Semua itu karena sang pengacara telah menganggap dia sebagai putrinya sendiri.



Waktu yang dihabiskan Al untuk mengajari Ara, tentang cara bersikap saat menghadapi Akbar, membuat keduanya akrab dengan sendirinya. Tak terkecuali dengan bantuan Bunga yang memiliki keterampilan publik speaking yang baik. Pasutri itu mengubah wanita yang polos menjadi wow.



Perpaduan sempurna. Maka dari itu, dalam hitungan jam. Akhirnya terjadi kedekatan yang cukup menarik perhatian. Setelah keempatnya masuk ke dalam mobil. Al mulai fokus menyetir. Niat hati ingin langsung memberikan kabar baik, tetapi justru ditahan oleh Sam.



Pria yang menjabat sebagai kakak angkat Ara memberikan sebuah saran yang cukup brilliant. Dimana mereka harus membuat situasi seperti kegagalan, lalu barulah kejutan besar dengan special dinner keluarga. Malam yang akan menjadi pertemuan terakhir antara Ara dan Bryant.



Tidak ada yang menolak. Apalagi Ara, wanita itu memilih untuk menurut karena apapun itu. Maka akan menjadi kebersamaan keluarga dan dia merindukan suasana kehangatan yang selama beberapa saat menghilang darinya. Sontak saja, pikiran sudah berkelana tanpa diminta.



Perjalanan itu berubah haluan. Mereka berempat mengunjungi sebuah taman yang bisa disewa dan tidak lupa menggunakan jasa wo hanya untuk merias taman seperti ide rancangan yang telah disepakati. Semua persiapan dilakukan selama hampir lima jam karena untuk mendapatkan hasil yang maksimal.


__ADS_1


Pihak wo harus menikmati rasa pusing dari keluhan kliennya yang kurang ini, kurang itu, tambah apalagi. Sehingga beberapa hiasan yang digunakan sebagai pelengkap harus diputar balik mengikuti arahan yang semakin memutar bintang di atas kepala.



Tatapan mata kagum terus terarah di depan mata mereka. Ara tersenyum manis, Samuel bersedekap berdiri di belakang adiknya. Papa Angkasa masih dalam mode takjub dengan binar mata puas, sedangkan Alkan. Pria satu itu, hanya melirik sekilas. Kemudian kembali menunjukkan wajah datarnya.



"Sekarang, siapa yang akan hubungi keluarga?" tanya Sam hampir terdengar seperti tengah kumur, sepertinya benar-benar kelelahan.



Ara mengulurkan tangannya, membuat Sam mengerutkan alis. Pria itu tak paham dengan bahasa isyarat adiknya. Ketidakpahaman yang menyebalkan. "Ka, ponsel. Masa begitu aja, gak paham, sih."



"Kamu ini, ngapain pake tangan kembang kempis gitu. Mau ngamen?" Seloroh Sam menggoda Ara, tetapi hanya untuk bercanda.




Sejak kapan kejahilan wanita itu kembali lagi? Ia pikir, Ara jahil hanya karena ngidam. Ternyata tidak. Wanita itu memang nakal ketika kepribadiannya kembali. Tanpa menunggu lama, panggilan telepon di lakukan. Saking kompaknya, mereka berempat harus menahan tawa.



Bagaimana tidak? Ketika panggilan berlangsung. Papa Angkasa harus menggunakan ponselnya untuk backsound suara tangisan wanita. Sam yang harus beberapa kali terbatuk seperti orang kehilangan kekuatan untuk berkata-kata. Hanya Alkan yang memilih menyimak tanpa ingin berurusan.



Pepatah memang benar. Ketika orang tua berkumpul bersama anak lebih muda. Maka, pola pikiran dan cara bertindak seperti mengalir mengikuti arus. Lihat saja, Papa Angkasa kembali bersikap seperti anak muda. Namun, sungguh rasa syukur semakin besar.


__ADS_1


Kebahagiaan sederhana dengan senyuman tulus. Bukan lagi hujan air mata tetapi hujan bunga merah merona. Aliran darah menghangat memompa energi positif semakin besar. Seperti itulah reaksi ketika bahagia menyapa.



Satu jam kemudian.



Suasana taman begitu gelap. Tetapi dari tempat persembunyian, Sam terus memantau lewat layar ponselnya. Dimana ditempat parkir. Dua mobil datang, setelah berhenti. Beberapa orang keluar dengan penampilan seadanya, bahkan wajah-wajah tampak begitu murung.



Terutama Bryant. Pria itu benar-benar acak-acakan, persis seperti orang putus cinta. Langkah kaki yang berjalan menuju taman begitu lesu. "Kenapa tiba-tiba, aku merasa tidak enak hati ya, Ka."



"De, kita sudah tiga perempat jalan. Jadi, sekarang siapa yang akan keluar duluan?'' tanya Sam, namun terlambat karena Papa Angkasa sudah menghilang dari tempat persembunyian diiringi kode jari Alkan.



"Om terbaik." Ara mengacungkan kedua jempolnya yang langsung dibalas kedipan mata nakal Alkan. "Ka, coba donk tiru gaya Om Al."



What's? Meniru gaya Alkan Putra. Namanya sih, cari mati saja. Memang siapa yang bisa seperti seorang Alkan Putra? Orang kakaknya saja, tidak bisa. Apalagi Bryant. Terkadang, ada keraguan. Bagaimana bisa keluarga itu bersaudara? Perbedaan begitu kontras. Meski, ada satu kesamaan.



"Ara, everyone has their own personality. Never ask someone to be someone else. That's a bad idea." Tegas Al memberikan peringatan sebagai nasehat.



Bukan menjawab, Ara melirik Sam. Jujur saja, dia tidak pintar bahasa Inggris. Kecuali yes or no, dan meniru cara Bryant ketika ngobrol lewat telepon. Seperti anak kecil yang suka meniru jurus tokoh kartun kesukaan mereka.

__ADS_1



"Setiap orang memiliki kepribadian masing-masing. Jangan pernah meminta seseorang untuk menjadi orang lain. Itu ide buruk. Itu yang dikatakan Om Al, adikku."


__ADS_2