
Siapapun kamu, aku hanya ingin tahu keberadaan Ayra ku. Jika cincin itu ada padamu. Maka, kamu tahu dimana Ayra. ~batin Darren, lalu ikut masuk kedalam rumah Bianca.
Apapun niat di dalam hati dan pikiran Darren. Tentu hanya dia yang tahu, sedangkan dirumah Ara. Seluruh keluarga memilih beristirahat di kamar masing-masing. Hari yang cukup melelahkan. Namun, tidak untuk Samuel. Dimana pria itu memilih berganti pakaian, lalu kembali berniat untuk meninggalkan rumah demi pekerjaan yang penting.
Baru saja masuk kedalam mobil. Tiba-tiba, ada yang ikut masuk dan duduk di kursi sebelahnya, "Ocy, kamu mau kemana?"
"Seharusnya, aku yang tanya. Kamu mau kemana? Bukannya istirahat malah pergi lagi. Apa jangan-jangan...," Ocy menatap Sam begitu dalam, tapi tidak ada gurat wajah khawatir. Apalagi keringat dingin, itu berarti sang kekasih tidak menyembunyikan apapun, "Sudahlah. Aku cuma mau ikut kemanapun kamu pergi hari ini, dan jangan menolak. Aku masih ngambek."
"Hmm. Ikut saja, aku tidak bisa menunda pekerjaan ku, tapi sebelum itu. Berjanjilah, apapun yang kamu tahu nanti. Jangan marah. Apalagi bicara ke yang lain soal tindakan ku. Janji?" Samuel mengulurkan tangan kanannya agar bisa dijabat Ocy sebagai tanda kesepakatan di antara keduanya.
Keseriusan Sam, membuat Ocy mengangguk seraya menyambut hangat tangan sang kekasih. Selama beberapa tahun mengenal pria di sampingnya itu. Ia paham, kapan waktu seorang Samuel bisa diajak bercanda dan kapan waktu untuk tetap diam menurut. Bukan karena tidak berani melawan, tapi akan lebih baik untuk tidak berteriak di saat hati dalam keadaan emosi.
Kedua insan itu akhirnya meninggalkan rumah. Tujuan Samuel adalah sebuah tempat yang akan memberikan jawaban atas semua pertanyaan yang mengusik hatinya. Meski untuk itu, ia harus bertemu orang yang paling menyebalkan. Seseorang yang selalu meremehkan dirinya. Jadi, suka, tidak suka. Tetap saja harus ke rumah kenalan lama.
Perjalanan itu ditempuh selama satu jam kurang, membuat Ocy bingung mau melakukan apa. Radio yang diputar juga hanya menyiarkan iklan obat pegal linu, "Bang, boleh tanya sesuatu?"
Sam menoleh ke samping sekilas, lalu kembali fokus menyetir. Melihat itu, Ocy seperti mendapatkan persetujuan. Sontak saja, ia mengubah posisi duduknya. Kemudian tak lupa mematikan radio. Ntah mau memulai dari mana, tapi pertanyaan tentang beberapa hari yang lalu sungguh memenuhi isi kepala. Jika tidak mendapatkan jawaban. Bisa saja menjadi bumerang.
"Bang, aku gak tahu, mau mulai dari mana, tapi jujur saja ini mengganggu ku. Sebenarnya, Rachel itu siapa? Kenapa bos begitu murka. Selama aku bekerja di keluarga Putra. Baru kemarin melihat kemarahan Tuan Bryant. Jujur saja, aku sampai merinding. Memang sih, Ara tidak penasaran, tapi aku tidak mau ada wanita lain, lagi."
__ADS_1
"Abang pasti lebih tahu, saat ini masalah Hazel saja belum berakhir. Bayangkan, kalau ada wanita lain. Gak boleh gitu, kasian Ara. Jangan sampai banyak pengganggu yang mengintai pernikahan mereka...,"
Samuel mencoba mendengarkan semua isi hati dan pikiran Ocy. Keluhan dari A sampai Z cukup menghabiskan waktu dua puluh menit. Ketika sang kekasih sudah berhenti dari sesi curhatnya. Barulah, ia mengambil sebotol air mineral, lalu di sodorkan. Benar saja, kekasihnya langsung menghabiskan setengah air dari botol itu. Pasti haus sekali, tapi di saat bersamaan. Mobil mulai memasuki kawasan perumahan kelas menengah.
"Kita akan sampai ke rumah temanku. Jika, ditanya siapa kamu. Cukup jawab, kamu calon istriku. Jika tidak mau menjawab, cukup diam. Okay," Samuel melepaskan sabuk pengaman, tentu saja setelah mobil berhenti di depan sebuah rumah minimalis, lalu menatap Ocy tanpa berkedip, "Stay calm down. Dia sangat pandai membaca ekspresi wajah. Jadilah Ocy yang cuek dan simpan kenakalan mu. Paham?"
Gleek!
Sungguh pengen berteriak. Sam sebenarnya mengingatkan atau mengancam? Huwaaa, menyedihkan. Bukannya di sayang, malah dinasehati dengan peraturan dadakan. Apalagi wajahnya itu loh, tampan sih, tampan. Hanya saja, tatapan mata seperti siap menerkam hidup-hidup. Mau, tak mau, hanya bisa mengangguk dengan mata mengerjap karena tidak memiliki sisa ekspresi untuk menggambarkan perasaan di hati.
Sam tersenyum tipis, ia tahu. Saat ini Ocy menjadi tegang, dan untuk menghindari kesalahan. Perlahan ia mendekatkan diri dengan tatapan masih terpatri pada netra sang kekasih. Satu sentuhan lembut dengan merengkuh pinggang wanita itu, hingga kedua tangan Ocy melingkar ke lehernya. Satu sapuan menyatukan kedua bibir yang saling mendamba kenikmatan.
Ocy mengangguk dan tidak lupa mengelap bibirnya yang basah akibat ulah sang kekasih. Kemudian, keduanya turun dari mobil. Sebuah rumah sederhana dengan desain sama seperti rumah-rumah sekitar. Yah, itu sudah pasti. Namanya juga perumahan minimalis yang dibangun dengan desain sama dari pihak pengembang.
Sam tidak mengetuk pintu. Pria itu memilih untuk mengambil ponsel, lalu mendial sebuah nomor. Percakapan singkat terjadi, hingga terdengar suara orang yang tengah membuka pintu. Benar saja, tiba-tiba ada tangan melambai dari dalam rumah. Sontak saja, Sam menggandeng tangan Ocy untuk ikut masuk ke dalam rumah itu.
Setelah keduanya masuk. Pintu kembali ditutup dan tak lupa dikunci oleh pemilik rumah. Meski sikap tuan rumah aneh, tetap saja Sam bersikap santai seperti di pantai. Namun, insting Ocy langsung on fire. Ntah kenapa begitu, tapi sebagai seorang bodyguard terlatih. Ia bisa merasakan situasi tidak nyaman didalam rumah itu. Disaat dia pikir tuan rumah adalah seorang pria.
Tatapan mata waspada berubah menjadi shock, "Bang, apa aku gak salah lihat? Dia...,"
__ADS_1
Sam langsung menaruh jari telunjuk di depan bibirnya agar sang kekasih tidak melanjutkan apapun yang kini terlintas di dalam pikiran. Apapun itu, lebih baik disimpan saja. Lalu, ketiganya duduk bersama di ruang tamu. Ocy yang tak ingin membuat masalah memilih menundukkan kepala. Jujur saja, ia tak mau karena menatap orang yang duduk di depannya dan berkata sesuka hati.
"Tumben, remahan dokter berkunjung. Ada apa? Apa ini soal mantan yang kembali atau soal lainnya?" tanya si pemilik rumah dengan gaya bicara yang los dol tanpa rem, membuat Samuel mengambil kotak beludru yang ada di saku celananya, lalu diletakkan ke atas meja yang menjadi penghalang di antara mereka.
"Aku ingin tahu, barang ini asalnya dari mana dan kapan dibuat. Jika bisa, sertifikat kepemilikannya juga," kata Sam tanpa basa basi.
Kotak beludru biru tua dibuka. Kilauan yang indah dari sebuah cincin. Sudah pasti tidak asing. Sesaat ia memeriksa barang dari Samuel. Namun, untuk mendapatkan informasi. Tentu bukan dengan cara semudah itu, "Tunggu disini, Aku akan segera kembali."
...****************...
...----------------...
*Siang readers, Jangan lupa jejak kalian ya 🥰
Othoor mau kasih tahu nih, mulai tanggal 28 November sampai 4 Desember karya Istri Siri Tuan Bryant sekali lagi akan CRAZY UP. SO, UPDATE SEHARI 3X, YA.
Othoor harap kalian tinggalin jejak perbab ya 😠biar makin semangat, 😘🥰*
...----------------...
__ADS_1